Reaktualisasi Piagam Madinah Dalam Konteks Hubungan Muslim dan Non-Muslim

0
48

Sangkhalifah.co — Relasi antara Muslim dan non-Muslim terus mengalami pasang surut sesuai kondisi antar kedua pemeluk keyakinan itu. Satu bentuk ketegangan yang cukup heboh antar Muslim dan non-Muslim terjadi saat perang Salib di penghujung abad 10 Masehi. Setelah itu, konflik antara Muslim dan non-Muslim terus melanda di berbagai dunia, tidak terkecuali di Indonesia. Pada akhir tahun 2020 ketika salah satu majalah di Prancis, yaitu majalah satire Charlie Hebdo menerbitkan karikatur Nabi Muhammad pada awal bulan September, ketegangan antara Muslim dan Non Muslim terus memanas. Masyarakat Indonesia yang berstatus Muslim pun terus menyuarakan keadilan agar tidak ada pelecehan kepada sosok Nabi Muhammad.

Menurut Said Aqil Siradj, ketegangan antara Muslim dan non-Muslim di Indonesia lebih diwarnai karena faktor kolonial Belanda yang dikesankan telah menjadi misi dari umat Kristen. Oleh sebab demikian, antara Muslim dan non-Muslim kerap kali melakukan tindakan saling mencurigai, saling perang otot, dan bahkan hingga terjadi kekerasan dengan mengatasnamakan agama. Peristiwa pilu bom yang terjadi pasca peristiwa September 2001 di Washington DC, mendorong sebagian Muslim di dunia, tidak terkecuali di Indonesia, membenci dan memusuhi non-Muslim. Hingga lahir berbagai rentetan bom bunuh diri yang mengakibatkan terbunuhnya orang-orang yang tak berdosa.

Mengkriti gerakan Islam radikal, Said Aqil Siradj juga menyatakan bahwa ketegangan antar Muslim dan non-Muslim faktor lainnya karena adanya sekelompok orang yang mengaku Islam namun menolak konsep dan simbol negara modern, sebagaimana Indonesia dengan Pancasila dan Demokrasinya. Kelompok ini kemudian mengkampanyekan Khilafah Islamiyyah sebagai gantinya. Implikasi atas penolakan terhadap konsep Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) sebagian mereka memusuhi orang non-Muslim dengan menganggap telah menghalangi berdirinya negara Islam. Sehingga ketegangan antar Muslim dengan non-Muslim pun terus terjadi di mana-mana.

Menjawab gagasan sekelompok orang yang mengaku Islam namun hebdak mendirikan Negara Islam di Indonesia, perlu kiranya menengok kembali sejarah kehidupan Rasulullah SAW. Apakah Nabi Muhammad pernah mendidikan negara (nation) berbasis Isla? Jawabannya tentu tidak. Sebab selama 13 tahun justri Nabi terus disakiti di Makkah dan kemudian hijrah ke Madinah. Boro-boro Nabi Muhammad akan membentuk negara, berdakwah dan melakukan hijrah saja masih terus disakiti. Selama kurun waktu 13 tahun di Madinah nabi tidak pernah mendirikan negara dalam bentuk apapun. Dan karena itu bahkan nabi dan para sahabatnya pun diusir oleh pindah ke Madinah.

Guna merekatkan hubungan Muslim dan non-Muslim di Indonesia, adalah mengambil inspirasi dari bangunan nation state yang berada di bawah “the constitution of Madina” yang di dalam bahasa Indonesia dikenal sebagai Piagam Madinah. Uniknya, dalam Piagam Madinah yang ditandatangani oleh komponen masyarakata Muslim, Yahudi, Nasrani tidak ada satupun kata “Al-Qur’an” di dalamnya. Piagam Madinah (kesepakatan Madinah) terdiri dari 47 pasal itu di dalamnya memuat monotheisme, persatuan, kesetaraan, persamaan hak, keadilan, kebebasan beragama, bela negara, pelestarian adat dan perdamaian. Piagam Madinah sarat akan-akan nilai-nilai perdamaian dan kesalingan satu sama lain.

Dalam konteks Indonesia, Pancasila merupakan reaktualisasi dari Piagam Madinah. Meskipun Pancasila seca harfiyyah bukanlah ideologi Islam, namun ia sarat akan nilai-nilai universal Islam. Bahkan Yudi Latif dalam buku Wawasan Pancasila menyebut, bahwa Pancasila merupakan Piagam Modern di masa saat ini. Ia juga menegaskan, kesaktian Pancasila karena ia telah diuji dengan berbagai rintangan dan godaan sejak setelah lahirnya dan bahkan hingga hari ini. Kesaktian Pancasila yang dapat menaungi berbedaan satu sama lain akan menjadi kerekat antar anak bangsa sebagaimana warga Madinah binaan Nabi Muhammad di bawah Piagam Madinah. Baik Piagam Madinah atau Pancasila, keduanya pantas menjadi titik temu antar Muslim dan non-Muslim.

Mengamalkan nilai-nilai Pancasila sesungguhnya sama dengan mengamalkan Piagam Madinah. Kerukunan, persatuan, dan persaudaraan akan terus terjaga bila kita sebagai bangsa Indonesia terus setia dan mengimplementasikan nilai-nilai Pancasila, sebagaimana Negara Madinah menjadi negeri yang berperadaban (tamaddun) dengan sebab Piagam Madinah yang telah mengatur hubungan baik antar Muslim dan non-Muslim. Kita pun tak perlu memaksakan menerapkan institusi Islam. Sebab dikhawatirkan akan memanfaatkan agama hanya untuk interest pribadi dan bahkan menyembah kekuasaan yang belum tentu nantinya sesuai dengan ajaran Islam. Ketegangan antar Muslim dan non-Muslim bisa teratasi jika masyarakat bisa mengimplementasikan nilai-nilai Pancasila dan Piagam Madinah. [Lufaefi]

Leave a reply

error: Content is protected !!