Ramadan dan Al-Qur’an: Mengajarkan Perdamaian

2
484

Oleh: Abdul Fattah (Mahasiswa Magister UIN Yogyakarta)

Sangkhalifah.co — Sebagian kita tentu meyakini bahwa ramadan sebagai bulan Al-Qur’an. Buktinya Al-Qur’an lebih membahana kala ramadan tiba. Suaranya tak tanggung-tanggung, seluruh kampung pun mampu mendengarkan lantunan bapak imam yang sendirian mengkhatamkannya. Tiap malam dan pagi selalu dibaca, direnungi dan dilalui ayat-ayat penuh hikmah untuk menebarkan rahmah. Barangkali inilah salah satu penyebab hari-hari ramadan penuh damai dan keridaan dalam kemuliannya.

Setiap menjelang ramadan, tiap orang tentu memiliki planning target masing-masing untuk apa selama ramadan nanti. Tidak cukup hanya shalat tarawih berjamaah saja, membaca Al-Qur’an menjadi amalan idola untuk mengumpulkan kredit pahala selama sebulan itu. Sehingga, waktu yang biasanya terasa hanya 24 jam harus ditambah tiga sampai empat jam untuk memenuhi idealitas setiap Muslim dalam ibadahnya. Apa perlu sehari ramadan harus jadi 27 jam? Ini menandakan betapa antusiasme masyarakat dalam menyambut bulan Al-Qur’an ini.

Di dalam teks-teks ilmu Al-Qur’an tentu akan ditemukan beberapa fakta mengenai turunnya Al-Qur’an di bulan ramadan. Dengan berbagai perspektif dan pandangan pendapat-pendapat yang dilontarkan para ulama itu selalu memperkaya pengetahuan Islam. Bahkan, Al-Qur’an sendiri pun menjelaskan secara gamblang terkait turunnya Al-Qur’an di bulan mulia ini. Sebut saja QS. Al-Dukhan [44]: 3; QS. Al-Qadr [97]: 1; hingga QS. Al-Baqarah [2]: 185 yang secara spesifik menerangkan bahwa ramadan merupakan bulan Al-Qur’an.

Namun demikian, keyakinan itu tak dapat berbekas apabila ramadan hanya dibiarkan datang dan berlalu saja. Aneka hidangan yang teramat banyak itu, tak ubahnya seperti makanan yang tersaji secara prasmanan dalam pesta besar penuh tamu undangan. Setiap orang berhak atas rahmat dan ampunan dalam ramadan ini tanpa mengurangi hak orang lain yang memiliki kesamaan haknya. Di sinilah dimensi ubudiyah harus lebih ditonjolkan guna menikmati hidangan yang penuh sesak selama ramadan.

Sepakat bahwa membaca Al-Qur’an merupakan salah satu ibadah favorit di bulan ramadan ini. Dengan berbagai metode dan media tadarus, kini jauh lebih beragam daripada tadarus di zaman dulu. Dengan melibatkan pengeras suara dan semangat jamaah menjadikan Al-Qur’an terdengar ke segala arah mata angin. Barangkali, di sinilah awal mula rahmat itu diperoleh umat Muslim. Asalkan, bukan suara MP3 yang digaungkan untuk memecah keheningan.

Baca Juga:

Kalau pada hari biasa, umumnya hanya menyempatkan membaca maksimal satu juz. Itu pun sudah luar biasa upaya menyediakan waktunya. Situasi berbeda ketika dalam ramadan ini. Sebab, orang-orang lebih setia bersama Al-Qur’an siang dan malam, walaupun hanya berupaya mengejar khatam bacaan sebanyak-banyaknya. Itu jauh lebih baik daripada hanya menghabiskan siang harinya untuk tidur pulas. Kalau demikian adanya, anak kecil pun mampu berpuasa model begitu.

Perlu diingat bahwa ada kabar gembira bagi mereka yang selalu berupaya bersama Al-Qur’an. Dimana Al-Qur’an mengandung unsur hudan (petunjuk). Namun, di sisi lain adalah peran penting Al-Qur’an dalam membimbing dan merawat kejernihan kalbu. Di sinilah Al-Qur’an tampil dengan gagah pada QS. Yunus [10]: 57 yang menyebutkan empat fungsi Al-Qur’an secara utuh dalam satu ayat penting ini.

Keempat fungsi tersebut tidak mungkin terverifikasi tanpa adanya telaah dan kajian terhadap Al-Qur’an itu sendiri. Secara literal dapat dilihat betapa kerennya ayat ini untuk dijadikan sebagai dasar keagungan Al-Qur’an yang selalu terjaga keasliannya. Secara tidak langsung, fungsi mau’izhah, syifa’, hudan dan rahmat merupakan penawaran secara terbuka kepada orang-orang beriman. Sehingga, dalam hal ini syarat utama untuk mendapatkan keempat fungsi itu sekaligus adalah beriman.

Melihat ayat ini, dapat direnungi bahwa segala sesuatu di kehidupan ini sesungguhnya telah disiapkan dalam satu paket. Seperti dikatakan tentang ayat ini, bahwa Allah itu menciptakan hati dan penyakitnya sekaligus juga obatnya. Hal ini menandakan betapa luasnya rahmat Allah bagi mereka yang beriman. Kalau saja obat hati itu tidak ada dalam ayat Al-Qur’an betapa menderitanya orang-orang beriman karena hatinya selalu bergantung pada benar dan salah.

Akibatnya dua kecenderungan tersebut menjadikan orang radikal dalam menyikapi perbedaan. Apa yang tidak sesuai dengan dirinya, dinilai salah dan jauh dari nilai keimanan. Kalau seperti ini bisa kacau tatanan kehidupan yang maha plural ini. Sehingga, dalam hal ini peran Al-Qur’an sebagai mau’izhah dan syifa’ harus menjadi satu paket untuk mengatasi kesenjangan dalam hati orang-orang yang keras cara beragamanya.

Adapun dua fungsi terakhir dalam ayat tersebut, yaitu hudan dan rahmat harus ditempatkan sebagai upaya untuk merajut keberagaman dalam perdamaian. Petunjuk itu bukan semata-mata digali untuk diri sendiri, melainkan harus mampu menjadi kompas pengantar kepada arah harmonisasi seluruh aspek kehidupan. Sebagai pamungkasnya, rahmat harus menjadi pilihan utama bagi kaum beriman bukan untuk diri sendiri dan kelompok melainkan untuk seluruh makhluk seantero jagat raya ini. []

2 comments

Leave a reply

error: Content is protected !!