Radikalisme Yang Diklaim Ibadah; Meneropong Dosa-Dosa Aktivis Khilafah

0
476

Sangkhalifah.co — Belum lama muncul spanduk yang terpasang di bilangan Jalan Protokol, kota Cirebon, soal penolakan khilafah. Spanduk tersebut bertuliskan “Khilafah Adalah Masalah, Bukan Solusi.” Spanduk tersebut sebagai rangkaian penolakan umat Islam di kota Cirebon atas munculnya redaksi khilafah dalam draft ikrar terhadap kesetiaan Pancasila yang dilakukan oleh DPRD kota setempat. Bukti khilafah masalah, baru muncul namanya saja sudah membuat kacau umat Islam, apalagi jika diterapkan menjadi sistem pemerintahan. Umat Islam di Cirebon, termasuk PCNU setempat, menolak dengan tegas sistem gagal itu. Penolakan itu bukan tanpa alasan, karena memang khilafah adalah sumber masalah, sama sekali bukan solusi. Khilafah bukan ajaran agama, akan tetapi ajaran para politikus Hizbut Tahrir yang dibungkus dengan nama agama untuk mengelabuhi orang awam.

Menyusul adanya spanduk penolakan umat Islam atas sistem gagal khilafah lahirlah bantahan artikel di situs ‘muslimah news’ yang mempertanyakan apa dosa khilafah, sehingga ia dimusuhi sejak setelah dibentuk oleh pendirinya pada dekade tahun 50-an. Hizbut Tahrir memang paling jago berkamuflase, sebab dalam faktanya, ada banyak dosa para pengasong khilafah. Misalnya, mereka gemar mengkudeta atau berusaha mengkudeta pemerintah sah. Di Suriah dan Turki misalnya, selama tahun 1962-1964 Hizbut Tahrir berusahalah kudeta pemerintah setempat dengan mencoba masuk ke pertahanan militer. Selain itu, dengan memanfaatkan momentum pertempuran, HT berusaha menyusup ke militer Yordania pada 1968,1969, dan 1971, Irak pada1969 dan 1972, dan Mesir 1969 dan 1979. Padahal jelas, kudeta dalam ajaran Islam adalah perbuatan laknat, dikecam agama. Itu karena taat kepada pemerintah adalah suatu keharusan (QS. An-Nisa: 105).

Dosa para pengusung khilafah telah mengakar dalam daging. Bagaimana tidak, mereka selalu berbuat sesuatu yang bertentangan dengan Islam. Agama selalu hanya dijadikan simbol islami untuk menipu umat. Mereka paling getol memusuhi Pancasila, sebagai hasil ijtihad para ulama dan founding father bangsa. Kaidah Ushul Fiqh sederhana menegaskan “al-ijtihâd lâ yunqad bi al-ijtihâd; ijtihadi tidak boleh dibatalkan dengan ijtihad lain.” Preseden tatanan agama ini menemukan momentumnya dalam peristiwa pembentukan Piagam Madinah yang merupakan ijtihad Nabi menemukan titik temu di antara keragaman warga Madinah. Nabi tidak menghapus Piagam Madinah dengan syariat Islam sebagaimana khilafah hendak menghapus Pancasila dengan iming-iming syariat. Dosa aktivis khilafah pada posisi ini adalah melanggar ketentuan Islam dan melanggar tata cara yang diajarkan Nabi dalam bernegara. Mereka sok-sok Islam tapi esensial bermaksiat di bawah lindungan nama Islam.

Para aktivis khilafah banyak pura-pura tidak sadar akan dosa-dosanya yang terorganisir rapih. Mereka paling suka dengan mencatut nama orang lain demi jualan dagangan khilafah yang murahan itu. Bagi mereka mungkin sudah menjadi kegiatan ibadah, tapi sungguh menurut agama maupun hukum catut mencatut nama adalah perbuatan dusta. Meskipun pencatutan itu dengan bahasa yang baik, tetap saja namanya dusta. Yang dalam agama, jelas besar dosanya. Aktivis khilafah mencatut banyak tokoh-tokoh demi menjajakkan khilafah, seperti mencatut Imam Nawawi, Imam Qurthubi, Imam Syafi’i, Petter Carey, Alwi Al-Atas, ulama-ulama PBNU, dan masih banyak lagi. Perbuatan ini jelas dinilai dosa secara tegas dalam Al-Qur’an. Lihat misalnya QS. An-Nahl: 105 mereka sesungguhnya, kata Al-Qur’an, adalah orang-orang yang tak beriman.

Al-Qur’an pada ayat di atas dengan sangat jelas memasukan orang yang gemar berbohong dan mencatut nama orang tanpa izin bukan saja berdosa, akan tetapi hilang keimanannya. Begitulah para aktivis khilafah. Meskipun terlihat islami, akan tetapi hakikat imannya sudah pada hilang. Implikasi hilangnya keimanan para aktivis khilafah ini merambat kepada kegemaran mereka berjualan agama, ayat Al-Qur’an, dan nama-nama Islam demi terjual ideologi murahan khilafhnya itu. Di mana-mana mereka berkampanye kata Islam, syariah, khilafah, umat, dan lain sebagainya, yang tidak lain tujuannya satu, yaitu mendirikan keinginan nafsu politin khilafah. Menjual agama selain jelas dosa, juga dikecam secara nampak dalam ayat Al-Qur’an yaitu QS. Al-Ma’un: 1. Bahkan di akhir ayat ini, orang yang gemar berbohong atas nama agama sesungguhnya mereka sering abai akan kewajiban shalatnya. Beginikah para aktivis khilafah? Al-Qur’an telah membenarkan itu. Na’uzubillah.

Dosa-dosa para aktivis khilafah yang tidak pantas ada pada diri seorang manusia adalah mengorganisir kelompoknya untuk sama-sama berbohong di media sosial. Sejak dari atasan hingga para aktivis bawahannya mereka memang sudah hobbi dengan berbohong di media sosial. Lihat saja Ismail Yusanto Jubir eks HTI dulu, ia pernah dilaporkan ke Polisi karena berbohong kalau HTI tidak memiliki bendera. Sedangkan nyata-nyata di Kantor HTI dulu terpampang jelas bendera HTI. Dalam wawancara dengan media, ia juga berbohong menyatakan kegiatan aktivis khilafah adalah murni dakwah, padahal faktanya tidak ada nilai dakwah, semuanya bernilai provokasi. Yusanto berbohong di media sosial untuk meyakinkan para pengikutnya. Kebiasaan bohong Yusanto diwarisi oleh Nicko Pandawa aktivis khilafah asal UIN Jakarta, yang hendak membuat film Jejak Khilafah. Namun, untuk menjual dagangan khilafahnya Nicko juga berbohong dengan mencatut sederet tokoh yang nyatanya tidak pernah dirinya diizinkan membawa-bawa nama mereka dalam jualan ideologi basinya itu.

Jangan beranggapan bahwa para aktivis khilafah dan khilafah tanpa dosa. Justru, seluruh aktivitas para aktivis khilafah semuanya berpotensi dosa. Kegiatannya tidak lain dan tidak asing, yaitu mencatut tokoh, berbohong atas nama agama, mengolok pemerintah sah, menganggap najis Pancasila dan UUD 1945 serta menuduh kufur orang-orang yang tidak mengikuti khilafah tahririyah versinya. Gerak-geriknya tidak ada lain kecuali menuju ruang dosa. Namun demikian, untuk menutup malu perbuatan dosa yang terus menerus menjadi aktivitasnya itu mereka menutupinya dengan simbol-simbol agama, yang itu juga perilaku dosa. Seluruh aktivitas mereka tidak lain kecuali satu muaranya, yaitu mengkoleksi dosa tanpa merasa melakukannya. []

Leave a reply

error: Content is protected !!