Radikalisme sebagai Implikasi Sikap Berlebihan dalam Beragama

0
123

Sangkhalifah.co — Allah SWT tidak menyukai suatu hal yang berlebihan. Dalam salah satu ayat-Nya Dia berfirman: “Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.” (QS al-Maidah [5]: 87). Sikap berlebihan ini juga nampak pada sekelompok orang yang mengaku beragama Islam namun radikal dalam memahami ajaran agamanya. Akibatnya, alih-alih ingin beragama secara total mereka justru terjebak kepada sikap fanatisme. Jika sudah masuk dalam lubang fanatisme beragama, maka tidak heran jika kemudian timbul sikap keras dalam beragama. Mereka menyelewengkan pemahaman agama hanya karena egoismenya semata. Sikap berlebih-lebihan dalam beragama pada ujungnya berdampak pada kemunduran agama Islam. Sebab, agama hanya dipandang sebagai ajaran yang statis dan tidak bisa berkembang.

Sikap berlebihan yang pertama biasanya ditandai dengan fanatik pada suatu pendapat dan enggan mau mengakui pendapat lain yang berbeda. Sikap ini merupakan kebekuan sikap seseorang yang bersikeras atas suatu faham dan tidak mau memberi kesempatan orang lain untuk berdiskusi serta mempertimbangkan antara pendapatnya dengan pendapat orang lain sehingga dapat memilih sesuatu yang dalilnya lebih kuat.

Yusuf Qardhawi elabeli orang yang demikian sebagai orang “tolol” yang seolah-olah ia ma’shum dan mendapatkan wahyu langsung dari Allah untuk meyakini kebenaran yang dipersepsikannya. Sikap ini berujung pada tindakan radikal dan teror, yang, sangat mungkin hendak mewajibkan orang lain mengikuti pendapatnya. Yang bahaya jika sudah menggunakan tuduhan bid’ah, sesat, tidak sesuai syariat, kufur, dan lain sebagainya.

Berlebihan dalam beragama yang berakibat pada lahirnya radikalisme dan terorisme juga ditandai dengan adanya sikap mewajibkan kepada orang lain atas apa yang sebenarnya Allah SWT sendiri tidak mewajibkannya. Kelompok Islam ini seringkali mengambil pendapat-pendapat yang sulit dalam beragama dan memahami keagamaan. Bukan hanya untuk konsumsi pribadi, seringkali itu ditanggalkan kepada orang lain dan memframingnya sebagai kewajiban agama. Misalnya, mereka mengharuskan dan mewajibkan formalisasi syariat Islam dalam ruang publik dan negara. Seperti halnya kelompok ISIS dan HTI yang menyulitkan diri dan orang lain untuk mewajibkan negara khilafah Islamiyyah, yang, padahal Allah sendiri tidak pernah memerintahnya. Orang yang memiliki sikap demikian dalam beragama bertentangan dengan misi Al-Qur’an QS. Al-Baqarah: 185 yang menegaskan bahwa Allah selalu menghendaki kemudahan, dan tidak menghendaki kesukaran.

BACA JUGA:

Sikap radikal yang menjadi implikasi dalam berlebihan memahami agama salah satunya ditandai dengan selalu memperberat sesuatu yang tidak pada posisinya. Misalnya, mewajibkan seluruh manusia untuk beragama Islam dalam negara yang bukan negara Islam. Kelompok radikal yang memiliki sikap ini seringkali menjadikan ajaran agama yang merupakan cabang di-framming sebagai sesuatu kewajiban atau ushuluddin. Mendirikan negara Islam yang bukan merupakan rukun Islam dan bukan pula merupakan rukun iman diklaim sebagai kewajiban yang harus dipatuhi semua orang. Tidak mau memperjuangkan negara Islam maka label kafir siap-siap disandangnya. Begitulah sikap berlebihan kelompok radikal dan teror dalam beragama. Selalu menyulitkan diri dan menyulitkan orang lain. Agama yang merupakan wahyu yang mempermudah dijadikan suatu yang memberatkan oleh fanatisme mereka.

Ciri lain yang menonjol bagi kelompok Islam yang berlebihan dalam beragama dan menimbulkan dampak radikalisme adalah berwatak keras dan kasar dalam “berdakwah”. Dakwah yang seharusnya bertujuan menjadikan seseorang mengenal Allah dalam pemahaman, perasaan dan perilaku ditangan mereka menjadi alat untuk melahirkan orang-orang yang berwatak keras. Siapa yang tidak sejalan dengan pemikiran dan pendapatnya akan dianggap sebagai kelompok kafir, dan darahnya halal. Agama ditangan mereka menjadi agama yang menakutkan. Sehingga alih-alih berdakwah untuk mendapatkan umat yang ada justru berdampak pada lahirnya islamophobia yang tak berkesudahan. Padahal dalam Al-Qur’an, Allah SWT mengingatkan agar dakwah dilakukan dengan cara-cara yang hikmat, bijaksana dan memberi pelajaran-pelajaran yang terbaik (QS. An-Nahl: 125).

Berlebihan dalam beragama salah satunya juga dapat diketahui dengan nampaknya sikap buruk sangka terhadap manusia. Sebagaimana kelompok ekstrim yang selalu memandang orang lain dengan kacamata hitam. Setiap kali melihat orang yang tidak sejalur dengan kelompoknya maka sekecil apapun kesalahannya akan diungkit dan dibesar-besarkan sebagai perilaku yang bertentangan dengan syariat Islam. Mereka melupakan agama Islam dan keimanan seseorang yang dikafirkannya. Sebagaimana kelompok radikal dan ekstrim dalam beragama, mereka gemar mencari aib orang lain untuk kemudian ia memukul genderang dan menganggap kesalahan kecil yang dimiliki orang lain yang tidak sama dengan pemahaman agamanya dianggap sebagai dosa besar dan identik dengan kekafiran.

Sikap yang dimiliki oleh orang yang berlebihan dalam beragama betapapun akan melahirkan pemahaman radikal, ekstrim, dan berujung pada tindakan teror. Sikap-sikap yang disemat oleh mereka yang berlebihan dalam beragama tidak ada satupun yang sejalur dengan ajaran agama Islam yang mengajarkan umatnya untuk berlaku lembut, mengedepankan dialog, dan mengutamakan persaudaraan antar semua orang tanpa melihat identitas keyakinan atau agamanya.

Rasulullah SAW pernah bersabda: “Barang siapa berkata kepada saudaranya ‘Hai Kafir!’ maka berlakulah perkataan itu pada salah satu keduanya (orang yang mengatakan).” Melalui hadis ini kita diingatkan untuk jangan menjadi orang seperti orang-orang yang berlebihan dalam beragama dan seperti kelompok radikal serta teror, sebab sesungguhnya mereka telah kafir dengan sikap dan perbuatannya sendiri. []

Leave a reply

error: Content is protected !!