Radikalisme Sebagai Ancaman Terhadap NKRI

0
349

Sangkhalifah.co — NKRI bisa terbentuk berkat perjuangan para pendiri bangsa dahulu awal kemerdekaan RI. Mereka berjuang sepenuh hati, mereka korbankan kehidupan mereka untuk bisa mewujudkan persatuan dan keutuhan negara Republik Indonesia. Sehingga sampai sekarang kita kenal banyak pahlawan bangsa yang sudah gugur jauh mendahului kita dalam rangka memperjuangkan cita-cita luhur bangsa.

Sayangnya banyak generasi muda yang tidak tahu atau tidak mau tahu dengan perjuangan mereka para leluhur pendiri bangsa. Sehingga timbullah sekarang ini banyak kelompok-kelompok yang secara diam-diam atau terangterangan ingin mengganti dasar negara RI yang merupakan landasan terwujudnya persatuan dan kesatuan RI.

Mereka menyempal dan berafiliasi ke jaringan Islam aliran keras. Mereka yang setuju dengan penggantian Pancasila dan UUD 45 bergabung dan membuat kelompok ekslusif yang dibungkus dengan agama, sehingga terkesan menarik bagi orang-orang awam yang tidak paham dengan politik. Orang awan ini merasa terakomodasi ide-idenya, sebagai orang yang marginal atau termarginalkan, mereka sama-sama tidk puas dengan pengelolaan negara yang ada sekarang ini.

Sehingga mereka berbondong-bondong bergabung dan mendukung ide penggantian ideologi Pancasila yang sudah menjadi kesepakatan bersama antara rakyat dan pemerintah. Mereka bersatu dan bertekad ingin mengganti idiologi Pancasila dengan sangat halus. Mereka berusaha memiliki sekolah sendiri, bank sendiri,usaha sendiri, jaringan bisnis sendiri dan seterusnya yang semua itu dijalankan oleh kelompok beraliran keras dengan dibungkus agama.

Apabila ada organisasi mengganggu ketertiban umum, memecah belah umat dan NKRI, bertentangan dengan ideologi Pancasila, maka pemerintah harus campur tangan. Pemerintah untuk tidak sekadar berwacana dalam menangkal perkembangan radikalisme di Indonesia, namun harus berupa tindakan reaktif cepat dan tepat sasaran. Pemerintah agar menegakan undang-undang terorisme secara maksimal sehingga terorisme tidak berkembang di Indonesia.

Kompomponen yang berperan penting terhadap situasi suatu negara, yaitu agama, ekonomi dan politik. Faham radikalisme kegiatannya dapat dikategorikan sebagai terorisme dimana terdapat suatu ancaman, kekerasan dan mengambil hak asasi manusia. Untuk itu, bangsa Indonesia harus bekerjasama menentang dan melawan untuk meminimalisir dampak dari faham radikalisme serta mendorong pemerintah untuk mencoba mengurai potret kemunculan faham radikalisme dengan mencoba membatasi potensi-potensi perkembangan faham itu dari luar, yakni dengan cara membentengi NKRI dari paham-paham yang tidak dibenarkan oleh agama. Salah satunya bentengi NKRI dengan pemahaman sesuai ajaran Islam melalui pengajian, pendekatan anak dengan orangtua, dan melalui diskusi-diskusi, dll.

Yang tidak kalah penting adalah revitalisasi lembaga, badan, dan organisasi kemahasiswaan intra maupun ekstra kampus. Organisasi-organisasi yang ada di kampus memegang peranan penting untuk mencegah berkembangnya paham radikalisme ini melalui pemahaman keagamaan dan kebangsaan yang komprehensif dan kaya makna.

Keanggotaan dan aktivisme organisasi merupakan faktor penting untuk mencegah terjerumusnya seseorang ke dalam gerakan radikal yang ekstrem. Sebaliknya terdapat gejala kuat para mahasiswa yang non aktivis dan kutu buku sangat mudah terkesima sehingga segera dapat mengalami cuci otak dan indoktrinasi pemikiran radikal dan ekstrem. Mereka cenderung naïf dan polos karena tidak terbiasa berpikir analitis, kritis, seperti lazimnya dalam kehidupan dunia aktivis.

Menggalakkan propaganda anti radikalisme seharusnya menjadi salah satu agenda utama untuk memerangi gerakan radikalisme dari dalam kampus. Peran itu menjadi semakin penting karena organisasi mempunyai banyak jaringan dan pengikut sehingga akan memudahkan propaganda-propaganda kepada kader-kadernya. Jika ini dilaksanakan dengan konsisten, maka pelan tapi pasti gerakan radikalisme bisa dicegah tanpa harus menggunakan tindakan represif yang akan banyak memakan korban dan biaya.

Perlu langkah strategis, inovatif, terpadu, sistematis, serius, dan komprehensif. Yang diperlukan bukan hanya pendekatan keamanan dan ideologi, tetapi juga memperhatikan jaringan, modus operandi, dan raison d’etre gerakan ini. Perlu perpaduan langkah ideologis, program deradikalisasi melalui masyarakat sipil, serta pendekatan ekonomi dan sosial. Ini guna mencegah para mantan aktivis gerakan radikal dan teroris agar tak kembali pada komunitas lamanya. Program “memanusiakan” ini, juga jadi salah salah satu prasyarat mencegah meluasnya aksi radikalisme dan terorisme.

Untuk menjalankan langkah itu, pemerintah harus berdiri di garda depan sebagai pihak yang paling bertanggung jawab terhadap keamanan warga negaranya. Ketegasan dan keseriusan negara dalam melindungi warganya, menciptakan rasa aman, serta mencegah aksi kekerasan akibat radikalisme keagamaan ini menjadi amanah konstitusi yang mendesak dilakukan.

Dalam hal ini, pemahaman kembali Pancasila sebagai pilar bangsa dan pilihan terhadap paham keagamaan yang toleran dan moderat harus menjadi agenda yang dipertimbangkan. Ketegasan negara dan dukungan masyarakat tentu akan jadi kekuatan strategis guna membendung proliferasi radikalisme keagamaan ini.

Agar kita terhindar dari radikalisme yang mengatas namakan organisasi keagamaan, ada beberapa hal yang dapat dilakukan seperti, tidak mudah percaya pada sembarang organisasi keagamaan, harus ditanya tentang identitas organisasi keagamaan tersebut ,organisasi keagamaan haruslah terbuka, dalam artian organisasi tersebut tidak menutup-nutupi diri dari masyarakat dan hindari organisasi yang melakukan sesuatu yang terkesan aneh seperti meminta uang dala jumlah besar, mengganti nama kita, atau memutus hubungan dengan keluarga.

Biasanya organisasi keagamaan yang menyeleweng akan langsung membahas hal-hal yang berat seperti seperti permasalahan negara atau tentang kekafiran. Namun kita juga tidak harus terlalu anti atau menghindari organisasi keagamaan, karena tidak semua organisasi keagamaan itu nyeleneh, banyak juga organisasi keagamaaan yang sangat baik untuk diikuti. []

*Nur Khamid, Dosen IAIN Surakarta

Leave a reply

error: Content is protected !!