Radikalisme Meningkat, Islah Bahrawi: Kapolri Harus Sigap

2
496

Sangkhalifah.co — Jajaran kepolisian di bawah pimpinan baru Jenderal Polisi Drs. Listyo Sigit Prabowo masih memiliki tugas penting dalam menjaga keamanan dan kedaulatan negara, salah satunya menghadapi paham radikalisme atau ekstremisme yang masih meningkat dan berpotensi berubah menjadi tindakan nyata.

Kesigapan dalam menghadapi itu dinyatakan oleh Direktur Jaringan Moderat Indonesia (JMI) untuk memperkuat internal dari pusat sampai daerah. Penguatan internal penting dalam menghadapi berbagai persoalan seperti intoleransi, radikalisme, ekstremisme dengan segala motif dan tujuannya

“Dibutuhkan perencanaan yang matang oleh seluruh pejabat pimpinan Polri dari pusat hingga daerah untuk menghadapi berbagai persoalan intoleransi, radikalisme, dan ekstremisme berbasis kekerasan yang mengarah pada terorisme,” ungkap Direktur Eksekutif JMI, Islah Bahrawi.

Polri harus bertindak secara terukur sebagaimana konsep presisi sebagaimana yang dicanangkan oleh Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo. Selain itu, Islah Bahrawi mempertegas bahwa pemerintah pusat harus mencegah dan menindak secara komprehensif walaupun waktu yang dibutuhkan tidak sebentar.

“Penanganan persoalan itu juga tidak cukup hanya mengandalkan pada pemerintah saja, tetapi juga perlu dukungan masyarakat di dalamnya seperti keikutsertaan lembaga civil society,” tegasnya.

Islah menambahkan juga, Perpres Nomor 7 Tahun 2021 tentang Rencana Aksi Nasional Pencegahan dan Penanggulangan Ekstremisme Berbasis Kekerasan yang Mengarah pada Terorisme (RAN PE) menjadi penting dalam proses pencegahan, penegakan hukum, dan kemitraan.

“Sikap intoleransi menjadi benih-benih awal yang membawa kecenderungan akan lahirnya radikalisme, ekstremisme kekerasan dan terkadang mengarah pada aksi terorisme,” tambahnya.

Paham kekerasan yang dilatarbelakangi apapun sesungguhnya bukan bagian dari ajaran agama manapun. Secara tidak langsung, kita tidak hanya fokus pada ujungnya, tetapi sejak embrio sudah harus diantisipasi sebagaimana keinginan Presiden Republik Indonesia, Joko Widodo.

“Berawal dari intoleransi kemudian membentuk radikalisme, kalau sudah terbentuk radikalisme, terbentuklah ekstremisme, kalau ekstremisme yang terbentuk kemudian berbentuk terorisme pada tataran terakhir nantinya. Dengan begitu, kolaborasi dalam menangkal dan mencegahnya harus lintas sektor,” tutupnya. []

2 comments

Leave a reply

error: Content is protected !!