Radikalisme Mampu Merenggangkan Harmoni Sesama Kita

2
335

Sangkhalifah.co — Jenderal Polisi Boy Rafli, Ketua Badan Nasional Penanggulangan Terorisme menyebut bahwa indeks potensi radikalisme di tahun 2020 mencapai 14,0 (pada skala 0-100). Ia menyebut potensi radikalisme turun sebanyak 12% di tahun 2020 dibandingkan dengan tahun 2019 yang menyampai 38,4. Meskipun demikian, dengan adanya media sosial yang terus mengemuka, Kominfo mencatat pada tahun 2018 konten-konten radikalisme telah teridentifikasi sebanyak 10,449.

Jumlah itu kemudian meningkat sebesar 11,800 konten di tahun berikutnya. Sementara itu Kasubid Kewaspadaan dan Deteksi Dini Kesbangpol Kota Bandung mengatakan, di tahun 2020 radikalisme berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Radikalisme di tahun itu selalu berujung kepada tindakan anarkhisme. Anarkhisme ini berujung pada tindakan terorisme.

Gerakan radikalisme di Indonesia adalah ancaman bagi bangsa Indonesia yang terdiri dari bangsa yang beragam, bukan hanya beragam dalam suku, bahasa, dan etnisnya, tetapi juga beragam dalam keyakinan dan agamanya. Kondisi ini bertentangan dengan gerakan radikalisme dan terorisme yang beragama dengan cara yang kaku, intoleran dan keras.

Najih Arromadhoni menyebut, secara geneologis, semua gerakan radikal di dunia berakar pada gerakan Salafi Wahabi. Lebih lanjut Aksin Wijaya menyebutnya sebagai gerakan Khawarij-Salafi, yaitu gerakan yang mengkampanyekan Islam dengan kolaborasi pemikiran Khawarij yang dikenal skriptualis, simbolik dan kasar dengan Wahabi yang pandai menilai orang lain dengan tuduhan syirik, bid’ah, sesat, dan kurafat. Orang-orang yang tidak mengikuti kelompoknya dianggap kafir dan wajib diperangi.

Secara historis, gerakan Khawarij dikenal sebagai gerakan yang terbiasa berfikir kaku, intoleran dan keras. Sikap fanatiknya itu digunakan untuk menyerang kelompok Ali bin Abi Thalib dengan membawa-bawa agama. Berawal dari ekstrimisme pemikiran, gerakan Khawarij yang menjadi inspirasi kelompok radikal dan teror ini mengarah pada tindakan brutal dan menghilangkan harmoni sesama anak bangsa.

Muhammad Sa’ad al-Asmawi dalam Ma’âlim al-Islâm menyebutkan bahwa Khawarij dikenal sebagai orang-orang yang taat beribadah, rajin salat, bahkan di antaranya penghafal Al-Qur’an. Al-Qur’an mengecam keras golongan yang terlihat taat beribadah namun ekstrim dalam beragama dan dengan mudahnya membunuh orang lain yang tak seiman atau sependapat. Al-Qur’an juga mengkritik keras mereka sebagai orang-orang yang beribadah hanya sampai pada kerongkongan, belum sampai dengan menggunakan hati (QS. Al-Ahzab Ayat 35). Mereka hanya sebagai muslim, bukan sebagai mukmin.

Kelompok Khawarij dan inspirator-inspirator lainnya melakukan kekerasan atas nama agama. Mereka menganggap bahwa bertauhid tidak hanya mengucapkan dua kalimat syahadat, tetapi juga membasmi orang-orang kafir di muka bumi agar Islam dapat tegak dan orang Islam dapat beribadah dengan nyaman.

Sayangnya, mereka menganggap kafir siapapun yang tidak bergabung dengan kelompoknya. Mereka terus berusaha membunuh Ali, Mu’awiyah, Usman bin Affan dan orang-orang yang terlibat dalam perang Jamal seperti Aisyah, Talhah dan Zubair. Bahkan Said Al-Asmawi menegaskan, mereka tidak segan-segan mengkafirkan dan membunuh anak-anak dan perempuan yang bukan dari kelompoknya.

Jika gerakan radikalisme dan terorisme dibiarkan, maka politisasi teks akan terus terjadi dan akan berdampak pada retaknya harmoni bangsa Indonesia yang multikultural. Mereka lebih menekankan kepada nahi mungkar, bukan amar makruf. Hal tersebut pun dipahami secara salah karena memahami nahi mungkar dengan cara-cara kekerasan dengan membunuh dan melakukan bom bunuh diri.

Mereka pandai menganggap orang lain yang tidak mengikuti kelompoknya sama seperti umat jahiliyah pra Islam, bahkan lebih buruk. Pandangan ini perlu ditentang, karena terlalu gegabah. Dalam kenyataannya, banyak ulama-ulama dan cendekiawan muslim yang pandai dalam ilmu agama, cakap melebihi kecakapan kelompok Khawarij, Salafi, dan gerakan radikal selainnya, namun ia harmoni dalam beragama, selalu memberikan pesan kedamaian di tengah masyarakat, sebagaimana agama Islam hakiki yang selama ini diajarkan oleh Nabi kepada umatnya. [Lufaefi]

2 comments

Leave a reply

error: Content is protected !!