Radikalisme dan Kaum Kafir Quraisy; Respon Al-Qur’an Terhadap Kekerasan Agama

0
148

Sangkhalifah.co — Ada banyak ayat-ayat Al-Qur’an yang jika dipahami secara sepintas mengiyakan umat Islam melakukan kekerasan. Kekerasan yang dimaksud adalah kekerasan kepada umat yang berbeda agama. Ayat-ayat model demikian yang seringkali menjadi legitimasi kelompok radikal dan teror melancarkan aksi brutal bom bunuh diri dan teror kepada non Muslim dan tempat ibadahnya. Salah satunya adalah potongan surah Al-Fath ayat 29 yang artinya: “Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka….”. Dengan ayat ini kelompok radikal meyakini bahwa Nabi Muhammad dan para sahabatnya adalah orang-orang yang intoleran kepada selain Muslim. Mereka diklaim “keras” terhadap pemeluk agama lain dan hanya mau bersahabat dengan sesama Muslim.

Pemahaman ini merupakan pemahaman yang salah kaprah yang amat cukup berbahaya jika dibiarkan. Dan, kesalahan memahami pesan utuh ayat ini sangat memungkinkan menimbulkan gesekan sosial di masyarakat yang majemuk sebagaimana masyarakat Indonesia. Karena gagal memahami pesan murni ayat ini misalnya, kelompok Islam radikal pasang wajah muram dan angker kepada non Muslim atau kepada sesama Muslim yang sudah mereka anggap kafir. Tidak ada senyum dan tiada sikap ramah mereka kepada sesama. Lebih dari itu bahkan kelompok radikal menganggap ayat ini sebagai kewajiban melaksanakan kekerasan. Kata “keras” dalam ayat tersebut dimaknai sebagai permusuhan kepada non Muslim dan Muslim yang tidak sekeyakinan dan tidak seagama. Semua aktivitas orang di luar Islam dan (Islam) di luar kelompoknya dicurigai dan ditolak mentah-mentah.

Konteks ayat ini adalah dalam suasana ketegangan di mana orang-orang kafir terus melakukan dendam kepada orang Islam sementara waktu orang kafir juga baru saja kalah dari Perang Khandaq. Ayat ini tidak berlaku dalam kondisi damai di mana orang kafir tidak memerangi orang Islam. Ayat ini menyangkut peristiwa perjanjian Hudaibiyah, yaitu sebuah perjanjian diplomasi yang dilakukan oleh orang Islam dengan orang kafir Quraisy agar mereka tetap bisa umrah. Sebelumnya, orang-orang kafir memblokade jalan orang Islam untuk masuk kota Makkah. Padahal orang Islam murni ke Makkah dengan tujuan untuk melakukan ibadah Thawaf, bukan untuk perang. Akan tetapi orang kafir tetap saja menolak. Mereka dendam dengan orang Islam yang telah membawa risalah Islam untuk mengganti ajaran nenek moyang mereka. Orang kafir meminta orang Islam membuat perjanjian agar orang Islam kembali ke Makkah untuk ibadah tahun depan saja, bukan tahun ini.

Pada perjanjian Hudaibiyah itu hendak disepakati antara Nabi Muhammad dan Suhail, utusan kafir Quraisy. Kesepakatan yang disepakati beberapa di antaranya adalah permintaan Suhail untuk menghapus teks dalam perjanjian kalimat “Muhammad Rasulullah” diganti dengan “Muammad bin Abdullah”. Dan, Rasulullah pun mentoleransi apa permintaan orang kafir Quraisy itu. Sikap Rasulullah demikian merupakan bukti sikap toleransi yang luar biasa. Rasulullah tidak sama sekali marah ketika status kerasulannya ditolak oleh orang kafir dan ia harus menghapusnya. Ciri ini rupanya masih melekat kepada orang-orang Islam yang masih mengikuti ajaran Rasulullah di mana mereka bersifat toleran kepada siapa saja. Sebaliknya, sikap sombong dan takabur sebagimana sikap Suhail orang kafir sejalan dengan kelompok radikal yang di samping kerapkali memaksa pendapat dan keyakinan orang lain, juga bernada kasar dengan orang di luar kelompoknya.

Masih dalam perjanjian Hudaibiyah. Padaanya itu didapati sebuah kesepakatan bahwa selama kurang lebih 10 tahun tidak boleh ada perang dan yang mengangkat senjata. Baik orang Islam atau orang non Islam boleh memilih faham keagamaan masing-masing dan tidak boleh memaksakan. Namun demikian, ketika orang Kafir masuk Islam dengan tana seizin kelompoknya maka ia harus kembali ke tangan orang Kafir. Sementara jika ada orang Islam ikut ke orang kafir dan ia belum izin ke kelompoknya maka ia sudah pasti menjadi golongan orang-orang kafir Quraisy dan tidak boleh kembali. Keputusan ini diminta oleh Suhail. Padahal jelas-jelas keputusan ini adalah keputusan yang sangat merugikan orang Islam. Namun, lagi-lagi, Nabi Muhammad menerima dengan lapang dada. Nabi Muhammad menyepakati apa permintaan orang Kafir yang memaksakan semua itu demi bisa melakukan ibadah di tanah suci.

Meskipun demikian pada akhirnya orang Kafir melanggar perjanjian yang mereka buat. Perjanjian yang sudah banyak dimintanya justru mereka salah artikan sehingga kemudian mereka meminta perang dengan orang Islam. Setelah beberapa waktu Nabi Muhammad dan para sahabatnya hendak ke Makkah orang-orang kafir sudah menyiapkan pasukannya untuk memerangi dan meruntuhkan orang-orang Islam. Akan tetapi pada awalnya Nabi Muhammad menolak untuk melakukan peperangan. Nabi Muhammad menyadari bahwa Makkah adalah kota suci yang tidak boleh ada pertumpahan darah. Kisah dalam perjanjian Hudaibiyah ini semakin mengingatkan tentang perbedaan antara orang Islam dan orang Kafir Quraisy yang kemauannya hanya perang dan perang. Sebagaimana kafir Quraisy adalah kelompok radikal yang selalu meminta agar agama Islam tegak dengan cara-cara kekerasan bahkan teror bom. Apa yang dilakukan kelompok teror bertentangan dengan ciri khas Islam yang dibawa Nabi Muhammad sebagai agama yang mengedepankan kemanusiaan dan kasih sayang.

Respon Al-Qur’an melalui potongan surat Al-Fath ayat 29 ini menyangkut kritik terhadap kekerasan yang mengatasnamakan agama. Bahwa hakikatnya, agama Islam yang diekspresikan oleh Nabi Muhammad dan para sahabatnya bukanlah agama kekerasan akan tetapi agama kedamaian. Secara tidak langsung ayat ini juga hendak mengkritik bahwa apa yang dilakukan kelompok radikal dengan memaksakan orang lain untuk berkeyakinan dan beragama sama dengan dirinya sama sekali bukan sikap dan watak orang Islam, akan tetapi merupakan watak orang kafir. Melalui ayat ini juga kita diingatkan bahwa agama Islam mengatur interaksi dengan orang di luar Islam. Dalam QS. Al-Mumtahanah ayat 8 Allah berfirman: “Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil. []

Leave a reply

error: Content is protected !!