Radikalisme dan Intoleransi Masih Merajalela di Indonesia

1
185

Sangkhalifah.co — Kita mengakui bahwa bangsa Indonesia belum bebas dari ancaman radikalisme. Riset Alvara Research Center (2019) menyebutkan 23% Mahasiswa di Indonesia berpotensi radikal. Survei tersebut juga menunjukkan 29,50 persen Mahasiswa tidak mendukung pemimpin non Muslim, mendukung perda syariah, 23,50 persen, setuju Negara Islam, dan 16,80 persen setuju ideologi Islam. Hasil riset ini tentu harus menjadi perhatian khusus para pemangku kebijakan, baik pemerintah maupun lembaga-lembaga swasta yang konsen dalam penanganan deradikalisasi atau pengembangan pemikiran kebangsaan. Riset Alvara Institut yang memotret gerakan anak muda di kampus-kampus cukup patut untuk ditindaklanjuti agar tidak terjadi kekacauan di dalam tubuh bangsa yang dilakukan oleh kelompok teror.

Salah satu fakta bahwa radikalisme masih menjadi hantu bagi bangsa Indonesia adalah adanya peristiwa penyerangan acara Midodareni anak Habib Umar Assegaf pada 08 Agustus 2020 di Surakarta. Kompas menyebut kelompok tersebut meneriaki acara doa malam hari sebelum paginya melaksanakan pernikahan itu dituduh sebagai kegiatan kelompok Syiah. Sekelompok orang yang disebut Laskar dengan jumlah ratusan orang itu tidak saja membuat onar dalam acara tersebut, tetapi juga pemukulan keluarga Habib Umar berjumlah tiga orang, yang kemudian terluka. Klaim bahwa acara yang digelar Habib Umar sebagai rutinitas Syiah menjadi alasan kelompok radikal itu membuat resah keluarganya, bahkan masyarakat sekitar.

Ibn Qayyim Al-Jauzi pernah menegaskan bahwa musuh manusia adalah apa yang tidak diketahuinya (a’dâ’unnâs mâ jahilû). Pernyataan IBN Qayyim ini relevan untuk menggambarkan apa yang dilakukan oleh kelompok radikal Laskar di Surakarta dalam acara Midadaroni itu. Mereka tidak mempelajari terlebih dauhulu apa yang tidak diketahuinya soal adat dalam hajatan pengantin itu. Sehingga mengklaim sebagai rutinitas kelompok Syiah. Parahnya, tidak tahu akan tetapi langsung melakukan swipping yang mengakibatkan keonaran. Meminjam istilah Imam Ghazali, kelompok Laskar dalam peristiwa ini bukan hanya orang yang tidak tahu. Akan tetapi juga tidak mau tahu. Ghazali menyebut kelompok demikian sebagai jahil murakkab. Kalau mereka mau tahu atau belajar, harusnya menyelidiki dulu, atau minimal menanyakan dulu. Tidak langsung menyerang yang tanpa sopan santun itu.

Pertanyaan selanjutnya, kalau memang itu kelompok Syiah, mengapa harus dimusuhi? Apakah kelompok Syiah sampai merugikan aktivitas keagamaannya? Apakah kelompok Syiah sampai mengusik ideologi bangsa dan atribut negara lainnya? Selagi mereka tidak mengganggu kita, kenapa harus marah? Toh, bangsa ini adalah bangsa yang beragam. Hanya kelompok teror yang tidak mau menerima kelompok lain yang berbeda. Kalau mau meminjam istilah Gus Dur, bahkan beliau pernah menegaskan, NU adalah Syiah minus imamah. Itu karena, antara NU dan Syiah terdapat banyak persamaan dalam segi amaliah keagamaan, seperti baca Maulid, Haul, Yasinan, dan sebagainya. Kalau kelompok Laskar memang bulan kelompok teror dan radikal, tentu tidak akan melakukan itu. Sebab mau kelompok Syiah atau apapun, asal masih teguh dengan kebangsaan, haram untuk dimusuhi.

Kalau mau belajar sejarah Islam, Syiah adalah kelompok Islam yang sudah lama berada di Indonesia dibanding kelompok radikal seperti HTI dan ISIS atau semacamnya. Syiah sudah ada di Nusantara sejak 840 M dibuktikan dengan adanya Kerajaan Peurlak di Aceh, yang didirikan oleh pendatang yang berfaham agama Islam Syiah. Beberapa peninggalan Syiah di Aceh misalnya, pemujaan pada Ahlul Bayt, tari Saman, dan tradisi Asyura, yang juga dilangsungkan di Jawa. Ada banyak tradisi-tradisi Islam di Indonesia yang itu merupakan tradisi Syiah dan banyak dari kelompok Sunni melakukannya. Bahkan, Peneliti Sumber Daya Padang Hendra Teja pernah mengatakan bahwa acara Tahlil, Maulid, Barzanji, Diba’i, dan sesamanya, dinilai merupakan ajaran NU yang masih sejalan dengan Syiah. Itu artinya, tidak ada problem sejak lama antara Sunni dan Syiah. Hanya kelompok radikal yang tidak tahu diri ingin merusak harmoni beragama di Nusantara.

Midadoreni adalah salah satu adat budaya di Surakarta yang dilakukan oleh keluarga yang akan mengawinkan anaknya. Biasanya, dilakukan sehari sebelum acara pernikahan, digelar dengan membaca doa-doa dengan dikunjungi oleh para sejawat dan keluarga besarnya. Midodaroni berasal dari kata Widodari yang bearti Bidadari turun dari langit. Adat budaya ini dilakukan sudah sejak lama biasanya dilangsungkan setelah calon pengantin perempuan melakukan siraman sebagai pembersihan diri sebelum akad.  Fajar Laksmita Dewi menyebut, bahwa acara Midodareni juga diisi dengan doa-doa, memohon kepada Tuhan agar diberikan kebahagiaan, keberkahan, dan kelancaran dalam acara menikah. Tidak ada yang bertentangan dengan tradisi budaya itu. Sebagaimana tidak ada pertentangan antara kelompok Laskar penyerang acara Midodaroni dengan terorisme.

Maka sudah selayaknya kita semua waspada dengan isu-isu radikalisme yang masih menghantui bangsa kita. Radikalisme yang menjadi ancaman bagi semua masyarakat Indonesia. Jangan sampai terjadi lagi perilaku busuk seperti kelompok Laskar yang bodoh, dan tidak mau tahu apa itu tradisi budaya dan sejarah Islam tentang harmoni kelompok-kelompok Islam di Nusantara. Tugas anak bangsa terus mengawasi gerakan radikal. Setidaknya, mengoptimalkan media sosial dengan menggunakan untuk kontranarasi radikalisme. Di lain itu, anak bangsa juga harus terlibat dalam kampanye mengusir radikalisme dan terorrisme di manapun berada. Dan tidak kalah penting, mempelajari agama secara kritis dan proaktif. []

1 comment

Leave a reply

error: Content is protected !!