Pudarnya Nilai-Nilai Islam Dibalik Bayang-Bayang Khilafah

0
148

Sangkhalifah.co — Sejatinya nilai-nilai yang diajarkan dan dikembangkan Islam selalu sesuai dengan fitrah manusia. Jati diri setiap manusia tentu ingin perdamaian. Fitrah yang melekat dalam diri manusia selalu berupaya meraih jalan kebahagiaan dalam hidupnya. Salah satunya, yang patut diperjuangkan adalah nilai toleransi

Merupakan sebuah nilai penting yang patut diwujudkan oleh setiap individu yang bercita-cita merawat kerukunan bangsa. Menerima akan perbedaan dalam keragaman budaya dan bangsa yang multikultural menjadi kunci utama. Maka, untuk mencapai itu semua harus dilandasi semangat perdamaian dalam wadah semangat Pancasila. Hingga eksistensinya selalu menjadi payung pengayom segala segala perbedaan dalam keragaman.

Pancasila sebagai dasar ideologi bangsa yang disusun para sesepuh bangsa ini layak dipertaruhkan. Nilai-nilainya yang mengilhami kerukunan dalam keragaman bangsa ini harus terjaga kelestariannya. Sebagai wujud kokohnya bangsa, Pancasila menjawab setiap tantangan dari para pengusung separatisme maupun radikalisme. Untuk mengembangkan nilai-nilainya butuh peran serta setiap warga bangsa.

Dalam tiap sila Pancasila ini memiliki relevansi terhadap nilai-nilai Islam yang terkodifikasi secara utuh dan komprehensif. Prinsip ketuhanan, kerukunan, kebangsaan, keberagamaan hingga keadilan tersusun apik secara runtut di dalamnya. Maka, Pancasila dalam aplikasinya bukan saja menjadi nilai-nilai secara verbal semata. Kedudukannya yang sangat terhormat mampu berdampingan bersama Islam untuk mengilhami kerukunan dan perdamaian bangsa.

Islam yang harusnya jadi penengah dalam segala macam perbedaan dan konflik, tidak boleh dibiarkan menjadi pencipta kekeruhan suasana. Spirit perdamaian sebagai nilai dasar Islam itu jangan dibiarkan tereduksi oleh satu pihak dengan kepentingan politik. Maka apapun kondisinya, nilai Islam harus mampu mengilhami terwujudnya perdamaian di seluruh penjuru dunia.

Namun demikian, nilai-nilai itu berpotensi memudar hanya karena ulah mereka yang mengaku paling Islam sendiri. Para pengasong khilafah sebagai topeng kelicikan gerakannya, menjadikan Islam jauh dari kata Islam itu sendiri. Sebab, sejatinya Islam itu selamat dan mencipta perdamaian. Sangat berbeda kondisinya ketika Islam dipaksa membela khilafah justru menebar kesan bahwa Islam itu keras dan penuh perlawanan. Alih-alih memberikan perdamaian, pemerintah yang tidak mendukung mereka pun kena tuduh sebagai anti Islam.

Padahal dalam faktanya, Islam merupakan pembawa rahmat dan perdamaian. Pesan sentral Rasulullah Saw. sebagai juru dakwahnya lebih mengajarkan cara bersikap dibandingkan cara berkuasa. Keramahan menjadi nilai utama di samping kesantunan dalam sikap dan aksi. Lain halnya dengan khilafah Eks HTI, yang dalam segala kesempatan selalu berteriak paling benar. Adapun selainnya yang tidak mendukung gerakannya salah. Kebiasaan demikian ini selalu meresahkan orang-orang yang di sekitarnya.

Mereka yang terlalu bersemangat membawa nama agama untuk ambisi dan kepentingannya berkuasa. Kendati tidak mau disebut sebagai gerakan politik, secara faktual mereka sangat kelewatan memaksakan kehendaknya. Meskipun nama Islam selalu dibawa-bawa, namun dalam konsep ideologisnya mengandung ancaman terhadap Pancasila. Tentunya, jika dibiarkan akan berpotensi memudarkan nilai-nilai Islam sesungguhnya.

Sementara Pancasila, secara faktual berperan dalam menerjemahkan nilai-nilai Islami dalam bentuk yang elegan. Secara konseptual, bahkan boleh disebut jikalau Pancasila telah mengilhami nilai-nilai ajaran al-Qur’an dan hadis. Dalam konteks Indonesia ini, Pancasila secara substantif sangat sejalan dengan ajaran Islam. Inilah dasar kuat mengapa Indonesia sangat menjunjung tinggi bela negara daripada bela khilafah.

Semangat Keberagamaan Harus Seimbang dengan Nilai Perdamaian

Islam sebagai agama memiliki falsafah ajaran di dalam al-Qur’an dan hadis. Sebagai dua sumber ajaran utama, keduanya memiliki nilai-nilai ajaran yang tak pernah lekang oleh waktu. Kendati demikian, kontekstualisasi keduanya perlu dikompromikan dalam setiap tantangan zaman yang berkembang. Tujuannya agar Islam ini tidak kaku dan cenderung bercita-cita seperti kembali kepada masa lalu.

Karena sejak awal dakwahnya, Rasulullah Saw. telah menampilkan moderasi Islam yang sarat perdamaian. Nilai-nilai moral sebagai semangat al-Qur’an menjadi hal mutlak disampaikan. Karenanya, Imam Taufiq yang mengutip Syahrur (2009) menegaskan bahwa perdamaian merupakan aktualisasi perintah moral dalam al-Qur’an. Dengan pendekatan ayat al-Qur’an, diupayakan untuk senantiasa menyebarkan perdamaian dengan penerapan kebijakan damai. Dan tentunya, itu semua dilakukan semata-mata dalam menghindari pertikaian dan peperangan (Taufiq, 2016: 9).

Semangat keberagamaan memang perlu dikembangkan. Namun, dalam praktiknya sangat dianjurkan untuk tetap memperhatikan konteks yang melingkupi. Bukan soal yang sulit, tapi sangat mudah dilakukan apabila peran serta ulama maupun tokoh agama membimbing segala bentuk pelaksanaannya. Implementasi nilai-nilai al-Qur’an berbasis perdamaian ini harus berimbang dengan sikap keberagamaan.

Hal ini perlu digagas dan dipraktikkan dalam kehidupan berbangsa dan lintas bangsa. Ketika perdamaian itu menjadi landasan berpikir dan bersikap, tentu akan terwujud rasa aman untuk semua. Ketika agama apapun yang dibawa penganutnya dengan prinsip perdamaian, maka secara otomatis akan mencipta keharmonisan kehidupan. Ini sejalan dengan pesan moral yang terkandung dalam al-Qur’an terkait pentingnya perdamaian dalam segala ruang dan zaman (QS. al-Nisa’ [4]: 91). Sehingga, Islam akan terjaga dari kepudaran nilai-nilainya bagi kehidupan nyata. []

Leave a reply

error: Content is protected !!