Puasa Sebagai Perisai dari Hoaks, Adu Domba dan Provokasi

0
61

Sangkhalifah.co — Bulan Ramadhan adalah bulan untuk berlatih menahan. Sebab di bulan Ramadan, kita diwajibkan menjalankan ibadah puasa. Adapun puasa sendiri menurut bahasa adalah shiyam, yang berarti menahan (imsak).

Apa yang ditahan di bulan Ramadhan? Selain makan dan minum, puasa melatih kita menahan segala hal yang bisa membatalkan puasa. Seperti menahan diri dari ucapan kotor, berbohong, mencela, membenci, dan menghasut.

Nabi Muhammad Saw bersabda,“Puasa itu adalah perisai, jika salah seorang dari kalian sedang berpuasa, maka janganlah mengucapkan ucapan kotor, dan jangan pula bertindak bodoh, jika ada seseorang yang mencelanya atau mengganggunya, hendaklah mengucapkan: sesungguhnya aku sedang berpuasa, sesungguhnya aku sedang berpuasa.” (HR. Al Bukhari).

Puasa adalah perisai. Puasa adalah benteng. Dengan menjalankan ibadah puasa, kita membentengi diri kita dari berbagai hal buruk. Tak hanya hal buruk bagi diri sendiri, namun hal buruk bagi banyak orang.

Secara logika, dengan berpuasa, kita menahan lapar dan dahaga, sehingga kita ikut merasakan apa-apa yang selama ini dirasakan orang yang kurang beruntung. Di sini, rasa empati kepada sesama manusia diasah selama berpuasa, sehingga kita menjadi lebih peka dan peduli dengan sesama.

Di tengah era digital dan media sosial sekarang, ibadah puasa juga akan menjadi benteng diri kita dari berbagai narasi negatif yang membahayakan persatuan dan perdamaian. Setidaknya, ada 3 hal narasi negatif membahayakan yang bisa ditangkal atau dibentengi ibadah puasa.

Pertama, hoaks atau berita bohong. Hoaks adalah ancaman membahayakan di era informasi digital saat ini. Hoaks sering menjadi awal dari perdebatan, pertengkaran, bahkan kekerasan di tengah masyarakat. Merebaknya hoaks adalah ancaman nyata bagi perdamaian, persatuan, dan persaudaraan.

Nah, momentum puasa Ramadan diharapkan membuat kita terlatih menahan diri dari pengaruh beredarnya hoaks atau berita bohong tersebut. Berpuasa membuat kita menahan diri dari segala hal yang belum jelas, baik berbuat bohong atau menyebarkan sesuatu yang belum diketahui kebenarannya.

Syekh Said Muhammad Ba’asyin dalam kitab Busyrol Karim mengatakan bahwa dusta atau bohong termasuk perbuatan yang layak dijauhi bagi orang yang sedang puasa. Syekh Said mengatakan, “Dusta dan ghibah semestinya dijauhi terutama oleh mereka yang sedang puasa, meski menjauhi dua sifat tercela substansinya memang wajib..“ (NU Online, 8/7/2015).

Kedua, puasa membentengi diri kita dari adu domba. Adu domba adalah salah satu strategi yang kerap digunakan orang atau kelompok yang punya tujuan tertentu, dengan mengorbankan atau menghancurkan persaudaraan dan persatuan. Adu domba (namimah) biasanya dilakukan dengan menyebarkan kabar bohong (hoaks) untuk menghasut atau memprovokasi.

Ketiga, puasa juga akan menjadi perisai diri kita dari provokasi. Provokasi adalah tindakan menghasut yang juga sejenis dengan adu domba (namimah). Berpuasa, selain membentengi diri kita untuk berbohong, juga membentengi diri kita dari adu domba, menghasut dan memprovokasi. Sebab puasa adalah melatih diri untuk tidak menyebarkan kata-kata tidak baik, bohong, atau menyakiti orang lain, baik melalui lisan maupun tulisan.

Di samping itu, Islam memang mengajari kita agar menghindari sifat adu domba (namimah). “Sesungguhnya orang-orang yang suka menghasut, tidak akan masuk surga” (HR. Bukhari-Muslim).

Selain ancaman tidak masuk surga, para penghasut juga dikecam sebagai manusia paling buruk perilakunya. “Maukah aku beritahukan kepada kalian tentang orang yang paling buruk perilakunya di antara kalian? Yaitu, orang yang berjalan di atas muka bumi seraya menghasut, yang merusak di antara orang-orang yang tadinya saling mencinta, dan hanya ingin membeberkan aib orang-orang yang tidak bersalah” (HR. Ahmad bin Hanbal).

Hoaks, adu domba, dan provokasi, adalah narasi negatif yang menjadi musuh bersama kita saat ini, di tengah pesatnya era informasi digital. Ketiganya merupakan sumber dari pertengkaran, pertikaian, yang bisa mengancam perdamaian dan persatuan bangsa.

Hoaks, adu domba, dan provokasi juga kerap dijadikan alat kelompok radikal terorisme untuk menyebarkan paham radikal mereka di dunia maya. Melalui kebohongan, adu domba, dan provokasi, mereka sengaja membuat kericuhan dan perpecahan, untuk menciptakan suasana tidak aman dan nyaman di masyarakat.

Bulan Ramadan diharapkan bisa menjadi bulan untuk berlatih menahan diri dari pengaruh narasi negatif tersebut. Puasa Ramadhan yang dijalankan dengan sungguh-sungguh dan niat yang lurus insyaAllah akan bisa menjadi benteng atau perisai yang melindungi kita dari berbagai ancaman bagi perdamaian dan persatuan tersebut. [Al-Mahfud]

Leave a reply

error: Content is protected !!