Puasa dan Misi Perdamaian

4
127

Sangkhalifah.co — Agama Islam merupakan agama yang membawa misi memanusiakan manusia. Melalui syariat yang menjadi landasan hukumnya, Islam tidak hanya mengutamakan penjagaan agama (hifz al-Dîn) tapi juga penjagaan jiwa (hifz al-Nafs)—seluruh umat manusia. Melalui ajarannya, Islam mengajarkan umatnya untuk menyeimbangkan antara hubungan vertikal (hablun minallâh) dan hubungan horizontal dengan sesama manusia (hablun minannâs).

Ibadah puasa merupakan ibadah yang menjadi salah satu rukun agama Islam yang ada lima. Puasa sendiri dalam Bahasa Arab berarti Al-Shiyâm, yang memiliki makna Al-Imsâk; menahan. Para Fuqaha (ulama Ahli Fikih) memaksudkan makna puasa ini yaitu menahan dari hal-hal yang dapat membatalkan puasa, seperti makan dan minum. Puasa Ramadan sendiri merupakan ibadah spiritual yang diperintahkan Allah kepada hamba-Nya setiap setahun sekali selama satu bulan, sebagaimana firman-Nya, “hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa (QS. Al-Baqarah [2]: 183).

Selain sisi spiritual, yakni mendapatkan derajat ketakwaan, puasa juga membentuk pribadi seorang Muslim menjadi diri yang peduli kepada lingkungan sosialnya. Puasa yang berarti menahan, bisa dimaknai menahan dari melakukan perbuatan-perbuatan yang akan menyulut kekacauan seperti permusuhan dan menebar kebencian.

Seyogyanya, puasa disamping mengajarkan umat Islam untuk memupuk kesalihan ritual, tapi juga kesalihan sosial. Ibadah ritual meskinya berefek positif kepada tingkah laku sosial. Perlu dipertanyakan kesalihan ibadah seorang Muslim yang giat dalam beribadah ritual namun masih sudi menyakiti perasaan orang lain di lingkungannya.

Baca Juga:

Ribuan tahun yang lalu, Rasulullah Saw telah mencontohkan praktik persatuan dan perdamaian secara apik. Karena kecintaanya kepada persatuan dan perdamaian, Rasulullah di dalam khutbahnya menyeru umat manusia menggunakan kata al-Nâs“; manusia, bukan menggunakan kata Al-Muslim. Di sinilah seyogyanya umat Islam tak boleh lupa akan nilai persatuan serta perdamaian yang menjadi misi agama Islam, yang salah satunya melalui ibadah puasa.

Sayyidina Ali menyatakan bahwa bulan puasa Ramadan umat manusia kembali suci dari dosa. Manusia yang melakukan ibadah rukun Islam ke empat ini suci seperti bayi yang baru lahir dari rahim ibunya. Ini artinya bahwa di bulan puasa umat Islam harus mempersiapkan mental untuk menjalankan ibadah sebanyak dan semaksimal mungkin. Sebaliknya, tidak melakukan perbuatan-perbuatan yang justru akan mengotori kesucian dirinya, seperti menebar kebencian, menyulut perpecahan. Kesucian hamba Allah di bulan puasa sudah sepatutnya dihiasi dengan sikap dan tindakan yang mendamaikan.

Bukan amalan orang yang berpuasa manakala ia masih melakukan ghibah dan membicarakan keburukan orang lain; Begitu pula bukan amalan orang yang berpuasa manakala ia masih membenci orang yang tidak se-paham, se-keyakinan atau se-agama sekalipun. Puasa adalah ajaran Islam pertahanan. Pertahanan yang dapat menahan ego setiap manusia untuk melakukan perbuatan-perbuatan keji yang hanya akan menimbulkan permusuhan dan perpecahan di tengah umat.

Perbedaan dan keragaman di tengah umat sendiri merupakan sebuah keniscayaan yang telah diapresiasi Islam. Melalui QS. Al-Hujurat [49]: 13 Allah Swt meniscayakan adanya perbedaan laki-laki, perempuan, bangsa-bangsa, dan kabilah-kabilah. Kesemuanya akan bernilai positif manakala dibangun dengan nilai dan akar persatuan dan kerukunan. Karena sesungguhnya—sebagaimana redaksi akhir ayat ini—yang mulia di sisi Allah hanyalah mereka yang paling bertakwa.

Kita sebagai umat Islam yang sedang menjalankan ibadah puasa Ramadan, jangan sampai lupa bahwa agama Islam adalah agama perdamaian. Melalui ibadah puasa ini, umat Islam akan mendapatkan predikat ketakwaan; naiknya nilai kesalihan spiritual seseorang dan juga kesalihan sosialnya. Puasa tidak saja menjadikan umat Islam menahan untuk tidak melakukan kegiatan makan dan minum, akan tetapi juga menahan mereka untuk melakukan kebencian, permusuhan dan perpecahan. []

4 comments

Leave a reply

error: Content is protected !!