Puasa dan Keteguhan Sikap Toleran Seorang Muslim

0
307

Sangkhalifah.co — Terdapat banyak keistimewaan di dalam ibadah puasa Ramadan. Beberapa di antaranya, sebagaimana disebut dalam hadits Nabi, doa-doanya orang yang berpuasa tidak akan tertolak (HR. Muslim). Dalam hadits yang lain disebutkan pahala orang yang berpuasa tidak terbilang, Allah yang langsung memberikan (HR. Muslim).

Keistimewaan yang tidak kalah pentingnya di bulan suci Ramadan ialah dituntutnya orang yang berpuasa memiliki sikap toleran, tidak mudah marah, dan mudah memaafkan. Dalam salah satu sabda Nabi dikatakan, jika kamu sedang berpuasa dan ada orang yang hendak menyakiti atau bahkan membunuhmu, maka katakan ‘saya sedang berpuasa, saya sedang berpuasa, saya sedang berpuasa.’

Muslim yang berpuasa sudah seharusnya otomatis toleran dengan sesama Muslim atau dengan non Muslim sekalipun. Karena pada dasarnya, sesuatu yang membatalkan dan melebur pahala puasa bukan hanya berupa makanan dan minuman yang masuk ke dalam tubuh orang yang puasa, tetapi juga sifat-sifat negatif seperti menyakiti orang lain, membully, dan menyebar kabar yang tidak benar (dusta/hoax).

Demikian dikuatkan oleh dalil Al-Qur’an bahwa tujuan utama orang-orang yang berpuasa adalah agar menjadi pribadi yang bertakwa, menjalankan perintah-perintah Allah dan menjauhi larangan-laranganNya, termasuk larangan bersikap intoleran kepada orang lain yang berbeda keyakinan dan paham keagamaan.

Dalam Ihya Ulumuddin, Imam Al-Ghazali mengkategorikan orang yang berpuasa kepada tiga kategori. Pertama, puasanya orang umum, puasanya orang khusus, dan puasanya orang yang paling khusus. Puasa model pertama adalah puasa bagi orang-orang awam yang berpuasa hanya dengan menahan lapar dengan tidak makan dan minum di siang hari. Sedangkan puasa kedua, selain tidak makan dan minum juga menahan diri dari memiliki akhlak buruk, seperti sombong, pelit, ghibah, khiyanah, dan lain sebagainya. Sedangkan puasa model ketiga yaitu bagi orang-orang yang berpuasa dengan menghindari apapun yang dapat memalingkan dirinya dengan Allah.

Tentu Islam sangat menekankan agar umat Islam memiliki tingkatan puasa yang ketiga, yaitu puasa yang dilakukan dengan cara tidak hanya menahan lapar dan dahaga, tetapi juga menahan diri dari segala bentuk yang menjauhkan diri dari Allah. Termasuk dalam hal ini adalah merasa paling benar sendiri dalam memahami agama dan keyakinan serta memandang orang lain salah bahkan sesat. Sikap intoleran lainnya yang dapat menjauhkan diri dari Allah seperti menebar kebencian kepada pemerintah karena alasan tidak sejalan dengan pemikirannya dalam beragama.

Kontekstualisasi nilai-nilai toleransi dari apa yang ditegaskan Imam Al-Ghazali tentang tingkatan orang yang berpuasa dalam konteks keindonesiaan adalah menghargai keragaman, menjauhi tindakan pecah belah, dan menjunjung tinggi empat pilar kebangsaan, yaitu Pancasila, Bhinneka Tunggal Ika, NKRI dan UUD 1945.

Dalam konteks yang lebih konkrit yaitu tidak melarang adanya warung-warung yang buka di siang bulan Ramadan. Sebab tidak semua masyarakat Indonesia adalah Muslim. Dan tidak semua diwajibkan berpuasa, seperti wanita menyusui, wanita hamil, dan wanita haid. Semua itu merupakan pesan moral yang ada dalam ibadah bulan puasa Ramadan dan harus diejewantahkan dengan sikap toleran.

Bulan puasa menjadi momentum penting untuk meneguhkan kembali sikap toleransi umat Islam, baik sesama Muslim maupun dengan non Muslim. Demikian juga dipraktikkan langsung oleh Nabi Muhammad saat Peristiwa Fathu Makkah (pembebasan kota Makkah) yang terjadi di bulan Ramadan. Nabi Muhammad, sekalipun sebelumnya sering disakiti dan dimusuhi orang-orang kafir Quraisy, tetapi di bulan puasa beliau dan sahabatnya menekankan sikap kasih sayang (yaum al-marhamah) dalam peristiwa tersebut. Nabi melarang para sahabatnya membalas dendam atas kekejaman kaum kafir yang dulu pernah dialamatkan kepada mereka. Sebab hal itu terjadi pada bulan puasa Ramadan.

Begitu juga ketika kemerdekaan bangsa Indonesia, pun terjadi pada bulan puasa Ramadan. Para pahlawan dan ulama kita melawan penjajah di tengah-tengah bulan puasa. Melihat makna kemerdekaan yang esensinya adalah melarang melakukan penjajahan dan menguasai orang lain tanpa adanya hal yang dibenarkan, kemerdekaan juga sarat dengan nilai-nilai toleransi.

Kemerdekaan Indonesia yang terjadi pada bulan puasa itu memberi pesan penting akan toleransi dengan negara lain. Oleh demikian, Ramadan selain dikenal sebagai bulan ampunan dan bulan rahmat, juga dapat dikenal sebagai bulan toleransi. Bulan yang seharusnya umat Islam menghargai keragaman dan perbedaan. [Lufaefi]

Leave a reply

error: Content is protected !!