Puan dan Jihad Media Sosial

0
92

Sangkhalifah.co — Tragedi demi tragedi semakin nampak terlihat dan ditunjukkan oleh teman kita yang katanya sedang membela Tuhan dengan  cara berlebihan. Teman  kita pada dasarnya mengidap doktrinasi yang menyebabkan dia terpapar over thingking, dimana dirinya sendiri tak menyadari akan hal itu. Penyakitnya itu menyebabkan teman kita tidak betah untuk hidup karena ingin membela organisasinya bukan Tuhannya, hatinya gundah gulana karena anak yang dikandungnya masih berumur kurang lebih empat bulan, dan kekhawatirannya memuncak saat doktrin itu ia telan dengan begitu  banyak hingga mencapai over dosis. Kaburlah penglihatannya antara realitas dan kebenaran.

Over thingking  yang tidak dirinya sadari adalah pertama, ia ingin membela Tuhan dengan keadilan versi pribadi plus siasat keras organisasi. Pemikiran seperti ini adalah pemikiran yang konyol, seolah-olah tidak percaya pada Maha Besarnya Tuhan, khawatir terhadap Ke-Esaan Tuhan. Tuhan saja mampu menciptakan  manusia, bumi dengan segala isinya, tanpa lelah memberi di waktu yang tepat, tapi Tuhan tidak pernah mengakatan ‘Tolong Aku, Hambaku’. Sehingga doktrinisasi yang mengajak kita untuk berjihad  kepada Allah dengan cara melakukan bom bunuh diri di area sahabat kita kaum nasrani, apakah Tuhan akan suka dan bersyukur karena hamba-Nya telah membela? Bukankah Tuhan melarang hamba-Nya bunuh diri? Dan Tuhan-lah yang menyerukan akan indahnya toleransi dan saling menghargai?. Kekhawatirannya itu justru merontokkan jati dirinya, dan menjadikannya semakin putus asa, sehingga revolusi kemanusiaan dan keagamaan yang awalnya ingin mendefinisikan Islam rahmatan lil alamin, menjerumuskannya pada lubang kehidupan yang radikal.

Kedua, karena memang teman kita tidak sadar sedang memasuki ruang hampa dengan  teori yang melebihi kadarnya. Pasalnya salah langkah saja, bisa tercebur dan bahkan tidak bisa kembali pada indahnya kehidupan. Ia ingin mengambil bagian dari perjuangan islam dan kemanusiaan, tapi bahkan keilmuan yang biasanya ia lewati dalam beberapa tahap, harus ia loncati seketika. Kecerdasan  ibarat sebuah pisau, semakin diasah akan semakin tajam, sehingga fungsi pisau harus tepat, jika salah digunakan ia akan mengganggu ketertiban nasional.

Teman kita sudah melangkah, ditambah dengan aksinya yang terbirit-birit. Begitu jelas pesan verba yang dijelaskan—tanpa bekal yang kuat karena baru memakan satu suapan. Teman kita tidak sadar bahwa dirinya sedang memasuki lingkaran  ilmu yang bahkan dirinya sendiri tidak mampu untuk menerimanya dengan sederhana. Dirinya merasa kuat dan gagah untuk mengatakan lebih jauh tentang orang lain sebagai ‘Kafir’ dan teman organisasinya sebagai yang paling ‘Beriman’. Kekuatan dan kegagahan organisasi itu telah mampu  menutup pintu-pintu realitas yang sebenarnya.

Negara dan pemerintahan yang bertentangan  dan  tidak mengakui keberadaannya saja dianggap sebagai ‘Kafir’. Terlebih sejak kedatangan mantan ketua organisasi perjuangan islam yang baru-baru ini organisasinya dibubarkan juga oleh pemerintah, seruan propaganda dan narasi kejahatan semakin keras juga lantang. Jangan-jangan sejak pemerintah melakukan penahanan terhadap mantan ketua organisasi tersebut, aksi anggotanya semakin merajalela, rentetan  itu bisa diteropong dan dirasakan sebagai ancaman yang di-operakan oleh kelompok dramatikal kaum marginal, akhirnya negara semakin salah saja.

Memasuki Ruang Programatik

Saat memasuki ruang programatik yang secara riil tampak dengan sangat jelas bahwa garis keras terorisme adalah bermaksud menjadi ‘Tuhan’, meskipun peran yang dipilihnya tidak pada hakekatnya sebagai Tuhan, melainkan ‘Tuhan yang otoritarian’ Tuhan yang tidak mau mengakui keberagaman, Tuhan yang tidak memiliki toleransi terhadap perbedaan dan kekerasan, juga Tuhan yang menempuh keadilan dengan cara pembunuhan.

Kalau katanya Gus Dur, menerjemahkan agama dalam kehidupan tidak perlu ruwet apalagi dibuat mbulet. Agama diturunkan untuk manusia lengkap dengan kemanusiaannya, begitupun aksi untuk membela agama atas dasar kemanusiaan yang diimplementasikan baik berupa penafsiran atas teks-teks yang dianggap suci tidak perlu mengatasnamakan Tuhan, akan tetapi seharusnya just only atas nama kemanusiaan itu sendiri.

Saat ini, propaganda dan gerakan-gerakan ekstremisme berkedok dakwah agama, revolusi akhlak, begitu banyak ditemui dalam ruang media. Salah satu teman kita yang juga baru-baru ini berakhir di Mabes Polri, karena tekadnya menembak orang-orang yang sudah terbiasa memegang pistol dan handal dalam pertempuran, sebelumnya dia sempat membuat lini masa instagram pribadinya untuk memberitahu publik bahwa dirinya sedang ‘berjihad’. Masih ingat dengan Aqsa Mahmood, remaja perempuan asal  Skotlandia yang pada tahun 2014 berhasil mengajak teman-temannya melalui media sosial untuk bergabung dengan ISIS.

Tidak hanya itu, banyak akun media sosial baik yang dikelola secara pribadi atau kelompok, memberikan konten ala islami jihad bahkan tidak jarang yang melontarkan narasi kebohongan dan narasi kebencian (hate speech). Pergeseran paradigma saat ini menemukan momentum dengan pemanfaatan teknologi sebagai media propaganda, teror, dan aktivitas memperbanyak massa. Ditambah dengan media sosial yang menggunakan algoritma encaves sebagai strategi mempertahankan seseorang untuk berlama-lama di dalam media sosial dan menemukan jalannya dengan konten yang tidak pernah ada habisnya (echo chamber). Jadi, saat kita banyak menengok konten-konten dakwah dari satu dua akun radikal, maka secara otomatis lini masa kita akan dipenuhi dengan informasi yang sejenis, dan doktrinisasi telah benar-benar terjadi.

Hati-hati saat ini dengan banyaknya media yang mengatasnamakan ‘konten dakwah’. Memang manis awalnya, biasanya yang ditarik adalah artis-artis berwajah tampan dan cantik, akan tetapi harus ditelisik jangan sampai anda dan saya menerimanya dengan mentah-mentah. Apalagi saat ini konten-konten dengan konsep ‘like, subscribe, and share’ menjadi sangat mudah. []

*Ruli Aprilia, Mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Trunojoyo Madura

Leave a reply

error: Content is protected !!