Propaganda Menyesatkan Dalam Buku Umaier Khaz

0
664

Sangkhalifah.co — Propaganda di era kekinian tidak lagi sekedar bertengger di platform media sosial. Dan penyebar propaganda tidak saja terjadi di Negara Indonesia, tapi juga di luar negeri. Misalnya kasus sebagaimana yang diberitakan oleh media Al Jazeera, Selasa (5/1/2021) bahwa Pham Chi Dung, Nguyen Tuong Thuy dan Le Huu Minh Tuan akan menjalani persidangan di Pengadilan Rakyat Kota Ho Chi Minh. Sedangkan di Indonesia yang viral adalah informasi terkait OPM membunuh 13 anggota TNI dan 6 lainnya mengalami luka-luka. Namun fakta sebenarnya, setelah ditelusuri oleh Kapuspen TNI Mayjen TNI Sisriadi bahwa berita yang disebarkan Gusby Waker tersebut tidak benar.

Tidak kalah viralnya pula, di tengah kondisi pemerintah sedang berupaya memulihkan kondisi Indonesia dalam melawan pandemi Covid-19, tiba-tiba berita bahwa cairan vaksin tidak masuk saat proses penyuntikan ke tubuh presiden Joko Widodo. Wakil Ketua Dokter Kepresidenan, Prof dr Abdul Muthalib yang bertugas sebagai vaksinator dan yang menyuntikkan vaksin produk Sinovac ke tubuh Presiden Jokowi mengatakan bahwa itu tidak benar. Begitu pula bagi yang sudah vaksin bebas dari protokol kesehatan. Tentunya apa-apa yang diberiktan tersebut adalah hoax.

Hoax itu diberitakan dan diwartakan oleh orang pintar yang tidak bertanggung jawab dan diproduksi oleh orang baik yang bodoh. Bodoh dalam pengertian, mereka yang tidak mampu menggunakan dan mengoperasikan segenap instrumental yang telah diberikan Tuhan untuk mencerna informasi yang baik dan benar. Hal ini disebabkan karena para pembuat hoax dan propaganda tidak menjadikan akal sebagai sasaran utamanya, melainkan emosi dan hati. Keterpikatan seseorang akan membuat pembuat hoax dan propaganda mudah menguasai jiwa seseorang. Mengapa? hati dan jiwa yang goncang akan membuat instablitas akal. Dalam bahasa agamanya, instablitas rohani akan berpengaruh pada instabilitasi akal-pikiran.

Tujuan dibuatnya propaganda dan hoax, tidaklah sebab faktor tunggal. Faktor yang mengitarinya banyak. Umumnya di Indonesia disebabkan faktor politik dan agama. Agama kerap dijadikan bungkus dalam menyebarkan ragam propaganda. Misalnya yang terdapat dalam buku The Journey to Xinjiang oleh Umaier Khaz. Tentunya tidak akan saya ulas secara keseluruhan. Saya akan cuplik hal-hal yang dianggap urgen untuk diberitakan dalam tulisan ini.

Buku ini saya dapatkan, disebabkan para pemberi endors berasal dari kalangan kanan dan anti pemerintah bahkan anti Pancasila dan sistem demokrasi. Sebut saja disitu ada Fatih Karim yang hingga kini masih berdagang khilafah dengan bungkus barunya. Fatih menyatakan, “Masya Allah. Setiap gambar dan tulisan dalam buku ini menghidupkan iman yang redup! Menggugah cinta kepada saudara kita di Xinjiang…”. Kita perlu headline kalimat “menggugah cinta kepada saudara kita di Xianjiang”. Narasi ini bertujuan untuk menggugah emosi masyarakat Indonesia menaruh simpatik (yang tentunya berakhir “secara berlebih-lebihan”) kepada Muslim Uighur. Dimana kasus yang menyita perhatian seluruh dunia ini berawal dari tahun 2009 di Urumqi atas terbunuhnya orang-orang dari etnis Han dan ribuan yang terluka.

Saya tidak akan masuk ke polemik yang terjadi di negara tersebut. Tapi fokus penggiringan narasi bahwa yang bisa menyelesaikan ragam konflik di negara manapun, termasuk China adalah khilafah Islamiyah. Disamping memang, Fatih Karim ini membuka donasi dari para dermawan untuk mengulurkan kepedulian kepada Muslim Uighur. Fatih kala itu bekerjasama dengan Aksi Cepat Tanggap, yang kita ketahui sedang diterpa berita bahwa bantuan kemanusiaan yang digalak-galakkan, justru dibelokkan aliran dananya untuk kegiatan terorisme. Hingga kini, ACT memang telah mengklarifikasi berita tersebut, tapi tidak ada bukti kuat untuk bisa diterima dan dipercaya masyarakat yang masih rasional.

Kedua, diberikan endors oleh Farid Ahmad Okbah (disingkat menjadi FAO). Sosok yang dikenal sebagai penyebar hoax, utamanya terkait perang di Suriah. FAO ini merupakan inisiator MIUMI dan berstatus aktif. Saat terjadi perang di Suriah, melalui halaman pribadinya dengan menulis (lihat gambar di bawah) bahwa “korban kebiadaban Syiah Nushairiyah di Suriah”. Padahal di Google sudah terekam bahwa foto tersebut adalah anak di Brazil yang terbunuh pada tahun 2017.

Kebiasaan dalam menyebarkan berita hoax itu, menjadi wajar jika dia pun mengamini seluruh isi buku The Journey to Xinjiang oleh Umaier Khaz. FAO pun menegaskan bahwa “Insya Allah termasuk fii sabilillah dalam mengungkap keadaan kaum Muslimin di Xianjiang. Semoga Allah melepaskan mereka dari cengkraman negeri komunis yang kejam…”. Kita ketahui bersama bahwa afiliasi MIUMI dalam sistem perpolitikan dan jenis beragama di Indonesia masuk dalam kategori fundamental. Maka endors-nya menjadi jelas tujuannya: melegitimasi narasi hoax ala Umaier Khaz.

Mari kita beberkan hoax yang terdapat dalam buku ini. Pada halaman 130, Umaier menulis “Tidak jauh dari situ, ternyata ada bangunan masjid lain. Tak lain adalah bangunan masjid milik Suku Uyghur. Yang bisa masuk ke dalamnya tidak sembarang orang. Ada monitor dengan seperangkat kamera scanner, yang men-scan wajah yang teah terdaftar. Jika wajah kita terdaftar maka pintu terbuka. Jika tidak, maka pintu tetap tertutup…”. Narasi ini dibangun dalam konteks membangun asumsi di masyarakat bahwa di China shalat dipersulit dan dijaga ketat. Penulis buku ini ingin menggambarkan bahwa China anti-Islam dan sejenisnya.

Padahal faktanya, sebagaimana data yang dimiliki kepolisian di masing-masing negara bahwa masjid dibuat peraturan tersebut karena di China pernah ada kelompok teroris yang ingin melakukan pemboman masjid. Artinya, masjid yang dijaga ketat memiliki nilai positif. Agar nanti jika ada kejadian negatif bisa mendeteksi dan menangkap secara cepat.

Data di China hingga tahun 2019 telah mencatat menyebutkan hampir 13 ribu teroris telah ditangkap di sana sejak tahun 2014. “Sejak 2014, Xinjiang telah menghancurkan 1.588 geng-geng teroris dan keji, menangkap 12.995 teroris, menyita 2.052 bahan peledak, menghukum 30.645 orang atas kegiatan-kegiatan keagamaan ilegal, dan menyita 345.229 salinan material keagamaan ilegal,” sebagaimana yang terdapat dalam dokumen “berkas putih” yang dirilis kabinet China.

Disamping itu pula, China tidak mau kejadian terbunuhnya Jume Tahir, selaku imam masjid Id Kah. Pembunuhan itu dilakukan oleh dua remaja bernama Nurmemet Abidilimit (19) dan Gheni Hasan (18). Dimana kita ketahui bahwa Jume Tahir seorang tokoh agama di Masjid Id Kah, sebuah bangunan Abad 15 yang berdiri kokoh di  Kota Oase Kashgar, Tiongkok.

Kemudian hoax yang diliput dalam buku ini juga pada pembahasan label halal. Pada halaman 32-33, Umaier Khaz mencatat bahwa “sejak tahun 2017, pemerintah China menghapus label halal di setiap restaurant halal, lalu menggantinya dengan tulisan Qing Zhen. Targetnya pada tahun 2020 ini, sudah tidak ada lagi tulisan halal terpampang di semua restoran halal.” Sayangnya, Umaier Khaz tidak mencantumkan sumber utamanya. Sebab, faktanya kebijakan pemerintah dalam soal menghapus label halal dalam konteks barang-barang yang tidak memerlukan label hala tersebut, seperti kursi, pisau dan barang-barang yang diperuntukkan hal-hal yang jelas. Hal ini sebenarnya telah selaras dengan prinsip di Indonesia seperti undang-undang korupsi. Dimana “undang-undang korupsi” tidak perlu ditambahkan menjadi “undang-undang Islam anti-korupsi”. Mengapa? karena Islam sudah anti-korupsi.

Tidak kalah pentingnya pula narasi soal pelarangan berjilbab di Linxia. Umaier Khaz menulis pada halaman 135 bahwa “…yang bekerja di pemerintahan tidak boleh shalat, yang perempuan dilarang mengenakan jilbab”. Disini Umaier Khaz keliru sekali bahwa di China seorang Muslim tidak dilarang pakai Jilbab. Saya termasuk orang yang memiliki jaringan informan di China karena lembaga kami Santri Mendunia telah membuka cabang di Negara China. Framming Umaier Khaz ini sangat berbahaya karena tentunya akan berdampak pada foreigner, misalnya, yang tinggal dan studi di sana.

Tentunya banyak sekali kekeliruan-kekeliruan dan propaganda sesat yang dilakukan oleh Umaier Khaz dalam liputannya yang tertuang dalam buku ini. Apa yang tertulis sebenarnya memiliki tujuan: Muslim di China dipaksa meninggalkan identitas keagamaan atau agamanya. Mengapa kelompok seperti HTI dan sejenisnya sangat membenci China, karena China merupakan negara komunis. Negara Komunis seperti China menjadi musuh utama para pegiat khilafah Islamiyah dan simpatisannya. Bagi mereka, seluruh negara di dunia haruslah menerapkan sistem khilafah Islamiyyah.

Pertanyaannya, bagaimana mungkin sistem khilafah Islamiyah tegak, jika para pembawanya, simpatisannya dan afiliasinya kerap menyebarkan hoax dan berita palsu? Pesan saya, merekam jejak kepergian dan petualangan kita ke sebuah tulisan (karya atau buku) merupakan pekerjaan berharga, tapi janganlah menulis sesuatu yang tidak sesuai faktanya atau mem-framming untuk tujuan terselebung.

Sebagaimana kita ketahui pula, Organisasi Hizbut Tahrir telah dilarang oleh pemerintah China, khususnya di Provinsi Xinjiang, wilayah yang dihuni oleh banyak etnis beragama Islam, seperti yang dilaporkan oleh kantor berita AFP. Maka simpatisan kelompok kanan akan terus tertanam dalam dirinya kebencian terhadap negara-negara yang tidak sepakat akan tawaran sistem dari mereka. Maka dalam buku ini, tidak jarang istilah “syariat” muncul. Dimana konsepsi “syariat” versi mayoritas Muslim dunia berbeda secara praktikal dengan Muslim seperti mereka. []

Leave a reply

error: Content is protected !!