Prof Azyumardi Azra Beberkan Faktor Pendukung Wasathiyah Islam di Indonesia

1
368

Sangkhalifah.co — Guru Besar UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Prof Azyumardi Azra mengungkapkan, wasathiyah Islam tidak akan bisa berkembang jika masih ada sektarianisme politik dan budaya.

Ia bahkan berani menyebut bahwa sebagian kalangan di negeri ini telah keblinger dalam mengikuti paradigma, pemahaman, dan praktik Islam seperti di Timur Tengah dan Asia Selatan.

“(Praktik keagamaan di sana) tidak memberikan tempat bagi ekspresi wasathiyah Islam,” jelasnya dalam Bedah Buku Wasathiyah Islam karya Sekretaris Umum PP Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama M Kholid Syeirazi, Sabtu (24/10) lalu.

“Saya kira kita sudah banyak diskusi bahwa wasathiyah Islam itu mengandung tawassuth, tawazzun, taadul, dan tasamuh. Hal itu susah ditemukan di negara-negara seperti Maroko hingga Oman dan Asia Selatan (Afghanistan, Pakistan),” tambah Prof Azra.

Ia melihat dari banyak negara berpenduduk mayoritas muslim di dunia, hanya Indonesia yang prinsip wasathiyah Islam sangat kuat, karena beberapa faktor. Pertama, penyebaran Islam di Kepulauan Nusantara yang secara damai.

“Penyebaran secara damai kebanyakan dilakukan oleh para gurus sufi yang mengembara dari satu tempat ke tempat lain. Seperti ada Walisanga di Pulau Jawa yang mengajarkan agama dengan akomodatif dan inklusif,” jelasnya.

Prof Azra menolak teori yang menyatakan bahwa penyebaran Islam di Indonesia dilakukan oleh para pedagang. Sebab, katanya, para pedagang lebih tertarik mengurusi dagangannya daripada menyiarkan Islam.

“Menyiarkan Islam itu kan menghabiskan banyak waktu,” tambahnya.

Kedua, imbuh Prof Azra, budaya lokal yang akomodatif. Ia menilai, di Kepulauan Nusantara ini kebudayaannya cenderung terbuka atau disebut juga sebagai budaya kosmopolitan.

“Karena budaya saling terbuka, maka tidak saling menang-menangan atau budaya tenggang rasa dan tepo sliro. Saling menerima sehingga seringkali terjadi pertukaran (budaya),” jelas Prof Azra.

Ia mengaku pernah melakukan penelitian di jalur rempah-rempah. Menurutnya, yang terjadi di sana bukan hanya perdagangan tapi juga pertukaran kebudayaan (bahasa).

“Apalagi kemudian ketika kesultanan-kesultanan Islam muncul, sebagian besar berpusat di pinggir pantai. Kecuali beberapa di pedalaman seperti Mataram,” jelasnya.

Ketiga, wasathiyah Islam bisa menguat karena terjadi proses ishlah (inovasi) dan tajdid (pembaruan) secara terus-menerus, sehingga mendekatkan tradisi-tradisi Islam ke dalam ortodoksi Islam (pemahaman atau ajaran Islam yang sudah disetujui ulama otoritatif).

“Karena pada abad 17 terjadi konsolidasi para ulama muda Indonesia yang belajar selama dua dasawarsa di Mekkah dan Madinah yang kemudian pulang ke tanah air. Ketika itulah mereka mengonsolidasikan wasathiyah Islam,” terang Prof Azra.

Konsolidasi tersebut melahirkan tiga aspek ortodoksi wasathiyah Islam. Pertama, kalam Asy’ariyah yang moderat di antara Khawarij yang tekstual dengan Muktazilah yang liberal.

Kedua, fiqih Syafi’iyah yang juga moderat di antara fiqih yang cenderung tekstual seperti madzhab Zahiri dan Hambali dengan Hanafi yang cenderung lebih longgar.

“Madzhab Syafi’i lebih ketat (dari Hanafi) meskipun tidak seketat Hambali,” ungkap Prof Azra.

Ketiga, tasawufnya adalah mengikuti Imam Ghazali dan Imam Junaidi Al-Baghdadi yang berada di tengah, di antara tasawuf yang tidak mengikuti Sunnah Nabi dengan tasawuf falsafi yang bersifat spekulatif.

“Jadi inilah faktor-faktor yang membuat wasathiyah Islam menjadi terwujud yang memang sudah dipegangi sejak abad ke-17 dan diperkuat oleh ulama yang terus muncul dan mengajarkan wasathiyah Islam itu,” terang Prof Azra.

Kenapa Wasathiyah Islam Menguat?

Prof Azra membeberkan karena sejak awal abad 20 muncul organisasi kemasyarakatan Islam yang mendukung atau mengamalkan wasathiyah Islam itu. Seperti Sarikat Islam, Sarikat Dagang Islam, Muhammadiyah, Jami’at Khair, hingga NU pada 1926.

“Semuanya adalah ormas pendukung yang berpegang pada wasathiyah Islam. Inilah Islam mainstream yang perannya besar sampai sekarang ini,” ungkapnya.

Sementara sejak orde baru hingga era reformasi, bermunculan pemahaman salafi-takfiri dan organisasi transnasional seperti Hizbut Tahrir yang ingin menegakkan khilafah dan syariat Islam di Indonesia.

“Memang itu menjadi tantangan sendiri bagi kita. Sekarang kita harus terus melakukan konsolidasi wasathiyah Islam, ormas-ormasnya, pesantrennya, masjidnya, madrasahnya, perguruan tingginya harus dikonsolidasikan,” katanya.

“Indonesian wasathiyah Islam is too big to fail. Wasathiyah Islam Indonesia itu terlalu besar untuk bisa gagal karena lebih dari 28 ribu pesantren di seluruh Indonesia ada di tangan para kiai NU yang mengajarkan wasathiyah Islam,” katanya. []

1 comment

Leave a reply

error: Content is protected !!