Premanisasi Ulama; Pembohongan Publik yang Merugikan Agama dan Budaya

0
130

Sangkhalifah.co — Premanisasi ulama merupakan istilah yang digunakan untuk menggambarkan kondisi seseorang yang sebenarnya berwatak preman, namun diframming oleh sementara orang sebagai ulama. Istilah premanisasi ulama sempat ramai sejak Pemilihan Gubernur DKI Jakarta 2016 silam, digunakan untuk menyebut orang-orang yang menggunakan simbol-simbol agama sebagai aksi brutalismenya. Ahmad Syafi’i Ma’arif menyebut, premanisme ulama sebagai istilah untuk orang-orang yang mengaku sebagai ulama namun hidupnya hanya untuk kepentingan duniawi. Perjuangannya bukan untuk menebar pesan-pesan Islam secara damai dan mendamaikan, sebagaimana para pewaris nabi, namun justru mengumbar kebencian priabdi dan kelompoknya atas nama membela Islam.

Secara historis, praktik premanisasi ulama sudah ada sejak masa sahabat nabi masih hidup. Terdapat beberapa orang yang sebetulnya bukan ahli agama, namun selalu mencari perhatian dengan menggunakan simbol-simbol agama untuk kepentingan dunia dan kekuasaan. Adalah Abdurrahman Ibn Muljam, seorang yang membunuh Khalifah Ali bin Abi Thalib, dengan alasan telah keluar dari Islam. Ibn Muljam, sebagaimana penuturan KH Said Aqil Siradj, dikenal sebagai orang yang rajin beribadah, tidak meninggalkan ibadah, hafal Al-Qur’an, dan bahkan rajin salat tahajud dan tak pernah meninggalkannya. Namun, karakternya adalah karakter preman, sehingga ia tega membunuh Khalifah Ali bin Abi Thalib dengan sadis tanpa rasa berdosa.

Contoh yang semacamnya adalah apa yang dilakukan oleh Mu’awiyah, saat menjabat sebagai seorang Khalifah. Ia diframming sementara orang sebagai orang yang pandai dalam beragama, membawa misi ajaran Nabi yang mengedepankan kedamaian dan perdamaian antar sesama. Namun fakta kelakuannya tidak demikian. Mu’awiyah kerap melakukan perbuatan yang justru layaknya premanisasi. Ia paling gemar melaknat Sayyidina Ali dan itu dilakukan manakala ia sedang khutbah salat Jum’at. Tidak hanya itu, Mu’awiyah bahkan mengharuskan warga yang dipimpinnya untuk selalu melaknat dan menghujat Ali ketiak sedang berada di mimbar masjid.

Rupanya, kondisi ini terus menggejala hingga hari ini. Kita menyaksikan di media sosial orang-orang yang dipersepsikan sebagai seorang ulama akan tetapi kelakuannya bejad dan amoral. Mereka menggunakan jubah dan bersorban laiknya ulama yang sesungguhnya, namun akhlaknya jauh dari tuntunan Islam. Mereka menghujat pemerintah yang sah. Mereka berkata-kata kotor di depan publik tanpa rasa tanggung jawab. Fenomena premanisasi ulama menemukan gejala yang sangat mengkawatirkan ketika masyarakat luas banyak yang tertipu, bahwa Islam yang sebenarnya adalah apa yang dibawa dan dipraktikannya, meski dengan cara-cara brutal.

Di tengah percaturan politik global, di mana Islam diperebutkan oleh masyarakat dunia, namun kelahiran preman yang diasumsikan sebagai ulama sangat-sangat merugikan. Islam berbalik dianggap sebagai agama yang ‘kotor’. Carol Cersteen menyebut, lahirnya islamophobia di sebagian negara-negara Barat disebabkan oleh sementara orang yang mengaku Islam tetapi perilakunya jauh dari Islam. Senada dengan Cersteen, Syaikh Muhammad Abduh pernah menegaskan, bahwa agama Islam kelak akan tertutup oleh umatnya sendiri. Apa yang dikhawatirkan Abduh sejalan dengan lahirnya premanisasi ulama yang menutup kran pemahaman Islam yang santun dan toleran sehingga dapat diterima di berbagai kalangan.

Adanya fenomena premanisasi ulama di ruang publik betapapun amat sangat merugikan agama. Agama hanya ditampilkan dalam simbol-simbol semata sementara secara esensial nihil akhlak dan moral. Penggunaan jubah dan cadar lebih diutamakan ketimbang penggunaan adab dan akhlak dalam bergaul antar sesama. Jargon membela Islam lebih substansif dibanding fakta memperjuangkan pesan-pesan agama yang diajarkan nabi. Kondisi ini yang kemudian diwanti-wanti oleh Al-Qur’an melalui pesan QS. Al-Ma’un Ayat 1-5. Allah SWT melalui ayat tersebut berpesan agar waspada dengan adanya orang yang mengatasnamakan agama, namun lada akhirnya abai pada kondisi sosial kemiskinan, dan bahkan sering meninggalkan ibadah kepada Allah SWT dengan cara khusyu.

Secara budaya fenomena premanisasi ulama pun begitu merugikan. Orang-orang awam akan termakan hoax dengan tampilan simbol-simbol agama yang dikenakan oleh para preman. Sehingga agama di tengah budaya akan terasa kering tanpa esensi dan nilai yang semestinya. Masyarakat akan dibuat gaduh dengan adanya preman-preman yang dianggap sebagai ulama. Atas nama agama, atas nama Islam, dan atas nama membela ajarannya, preman yang dianggap ulama ini melakukan hasutan dan penghinaan kepada siapa saja yang tidak sependapat dengan nafsu duniawinya. Terkesan kaya akan nilai-nilai Islami, tetapi faktanya justru memperkosa Islam dengan akhlak dan moral yang bobrok. [Lufaefi]

Leave a reply

error: Content is protected !!