Praktik Cinta Tanah Air dan Kebangsaan Dalam Islam

0
156

Sangkhalifah.co — Salah satu hal penting untuk merekatkan persatuan antar-kelompok di dalam sebuah bangsa adalah cinta tanah air dan semangat kebangsaan. Tanpa memiliki keduanya maka suatu bangsa sulit untuk mewujudkan kemandirian dalam persatuan yang kokoh. Tidak terkecuali bangsa-bangsa yang mayoritas berlatar agama Islam, cinta pada tanah air, nasionalisme dan kebangsaan merupakan hal penting yang harus dijiwai oleh setiap warganya.

Agama Islam sangat kaya memberikan bukti baik berupa teks keagamaan maupun dalam bentuk praktik kehidupan sosial yang membuktikan bahwa cinta tanah air bukan merupakan hal asing. Tidak benar jika mengatakan bahwa konsepsi semangat kebangsaan dalam Islam lahir dari Barat yang landasan utamanya adalah perpecahan.

Beberapa di antaranya misalnya QS. Al-Hasyr ayat 9, Allah berfirman yang artinya: “Dan mereka tidak menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa yang diberikan kepada mereka (Muhajirin); dan mereka mengutamakan (Muhajirin), atas dirinya sendiri, meskipun mereka juga memerlukan. Dan siapa yang dijaga dirinya dari kekikiran, maka mereka itulah orang-orang yang beruntung.”

Selain itu dalam QS. al-Mumtahanah ayat 8, “Allah tidak melarang kamu berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tidak memerangimu dalam urusan agama dan tidak mengusir kamu dari kampung halamanmu. Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berlaku adil.” Quraish Shihab menegaskan, kedua ayat di atas merupakan bukti akan melekatnya cinta tanah air dalam Islam, yaitu dalam bentuk penggabungan antara iman dan negeri.

Praktik kebangsaan diperkuat oleh kebijakan Nabi Muhammad SAW saat beliau tiba di kota Madinah. Beliau menghimpun semua penduduk Madinah walaupun satu sama lain berbeda dalam kepercayaan, agama, suku, dan asal-usul keturunan. Semua bersepakat untuk satu piagam kerja bagi semua umat sembari tetap memberikan kesempatan pada setiap pemeluk agama untuk menjalankan kepercayaan dan agamanya. Bukan hanya itu, ketika datang musuh yang hendak menyerang maka mereka akan bersama, tanpa mempertimbangkan latar belakang apapun di antara mereka, untuk membela dan mempertahankan Madinah. Praktik cinta pada tanah air telah terpatri rapih dalam teks maupun konteks sosial masyarakat Islam.

Perlu diketahui bahwa Piagam Madinah dibuat dalam konteks di mana masyarakat dalam kondisi damai. Lembaran-lembaran kerja bersama itu dibuat tidak dalam kondisi konflik baik internal masyarakat Madinah ataupun eksternalnya. Artinya, Piagam Madinah yang menjadi konsensus bersama dibuat atas dasar kerelaan dan keikhlasan antar-umat dengan perbedaan yang melatarbelakangi mereka satu sama lain.

Semua masyarakat menyepakatinya dengan kerelaan dan tanpa ada rasa intimidasi dari siapapun. Piagam Madinah juga dibuat saat pertama kali Nabi Muhammad hijrah di kota tersebut, artinya, secara naluri semua penduduk Madinah sudah selalu menginginkan adanya perdamaian, persatuan dan kesatuan walau dalam konteks masyarakat yang berbeda-beda.

Praktik kebangsaan amat nampak dalam butir-butir Piagam Madinah. Pada muqaddimah piagam tersebut setelah disebutkan Basmalah dinyatakan bahwa “Ini adalah piagam dari Muhammad Rasulullah Saw di kalangan Muslimin dan mukminin yang berasal dari Quraisy dan Yatsrib, dan yang mengikuti mereka, menggabungkan diri dan berjuang bersama”. Kemudian pada pasal 2 disebutkan “Kaum Muhajirin dan Quraisy sesuai keadaan mereka bahu membahu membayar diat di antara mereka dan menebus tawanan dengan cara yang baik dan adil”.

Begitu pada pasal 16 disebutkan “Sesungguhnya orang Yahudi yang mengikuti kita berhak atas pertolongan dan santunan sepanjang tidak terzalimi dan ditantang olehnya”. Pasal-pasal di atas tidak lain kecuali bentuk praktik sosial cinta kebangsaan di tengah umat Islam dan umat lain.

Quraish Shihab menguatkan, jika dipahami esensi dari 47 pasal Piagam Madinah, meskipun Nabi Muhammad membuat piagam tersebut bersama dengan penduduk Madinah di awal kehadirannya di Madinah namun tidak ada satu pasal pun yang bertentangan dengan kondisi sosial dan antropologi masyarakat Madinah dengan berbagai tipologi yang berbeda satu sama lain. Masih menurutnya, pasal-pasal Piagam Madinah semuanya memiliki argumentasinya di dalam ayat-ayat Al-Qur’an. Pasal-pasal tersebut juga tetap relevan hingga detik ini dalam konteks menciptakan masyarakat yang bersatu dalam perbedaan. Muhammad Imara—cendekiawan Muslim Mesir—pernah menyatakan bahwa negara yang dibentuk Nabi di Madinah berhasil menyatukan berbagai etnis dan agama dengan satu kebijakan politik.

Praktik cinta terhadap tanah air sudah jauh-jauh diamalkan oleh Nabi Muhammad. Praktik tersebut yang membuat masyarakat yang berperadaban (Madani) dan masyarakat yang terbuka yang bahkan menjadi magnum opus negara beperadaban yang luar biasa yang dibentuk dalam Islam. Ini sekaligu membuktikan bahwa nasionalisme dalam dunia Islam bukan lahir dan terinspirasi oleh Barat yang dilandasi perpecahan antara Istana dan Gereja.

Nasionalisme dalam Islam lahir langsung dan diberikan teladannya langsung oleh Baginda Nabi Muhammad SAW. Praktik nasionalisme di masa nabi ini memiliki prinsip persatuan yang kokoh, dengan jargon “lahum ma lana wa alaihim ma alaina; mereka (non-Muslim) memiliki hak (dalam konteks kewarganegaraan) sebagaimana hak kita dan juga memiliki kewajiban sebagaimana kewajiban kita (umat Islam).” Sikap dan praktik cinta Tanah Air serta kebangsaan ini harus menjadi motivasi dan inspirasi bagi umat Islam untuk terus menumbuhkan persatuan dan kesatuan antarbangsa dengan berbagai perbedaannya, tidak lain kecuali untuk melahirkan masyarakat yang berperadaban. [Lufaefi]

Leave a reply

error: Content is protected !!