PPATK Sebut Aliran Dana Terorisme Naik Signifikan

0
535

Sangkhalifah.co — Terorisme merupakan tindakan kejahatan yang dapat mengancam peradaban manusia di setiap negara di seluruh dunia. Setiap aksi terorisme dapat dipastikan memerlukan dukungan pendanaan yang jumlahnya tentu tidak sedikit. Pendanaan tersebut bukan hanya bersumber dari dalam negeri, melainkan datang dari berbagai negara-negara konflik di dunia.

Seperti yang diceritakan Hendro Fernando, mantan anggota Mujahidin Indonesia Timur (MIT) ini pernah meminta dana ke Amir ISIS di Suriah sebesar Rp1,3 miliar. Jumlah uang tersebut sudah dihitung sesuai dengan kebutuhan logistik bagi para jaringan MIT Susanto di pegunungan Sulawesi Tengah. Kemudian pihak ISIS memintanya untuk mengambil secara tunai di Turki. Hal tersebut tentu bukan sesuatu yang mudah, karena tidak mungkin membawanya langsung ke Indonesia. Sehingga ia memutuskan untuk mengirim satu orang ke Turki untuk mengambil uang tersebut dan memintanya untuk mengirim ke Indonesia.

“Kita menemukan cara menggeser dana tersebut dengan waktu sekitar seminggu, yaitu dengan penggeseran dana melalui Western Union. Kita pecah dana tersebut di berbagai data. Saya mengumpulkan sepuluh data penerima. Akhirnya masuklah dana tersebut ke Indonesia,” ujarnya dalam diskusi yang diselenggarakan Badan Penanggulangan Ekstrimise dan Terorisme (BPET) Majelis Ulama Indonesia (MUI), Jumat (13/8/2021).

Kepala Pusat Pelaporan dan Analisa Transaksi Keuangan (PPATK) Dr Dian Ediana Rae berupaya menekan pemberantasan terorisme dan pelacakan dana teroris harus dilakukan secara paralel. Menurutnya, pendanaan dalam kegiatan terorisme merupakan ‘aliran darah’ yang dapat menghidupi mereka.

“Upaya kita melakukan pemberantasan tindak pidana terorisme maupun pendanaan terorisme itu dilakukan secara paralel. Karena memang ini salah satu petunjuk secara global yang diberikan juga oleh PBB, upaya-upaya pemberantasan terorisme itu tidak bisa dipisahkan dari upaya memberantas pendanaan terorisme. Ini merupakan suatu prinsip-prinsip baru yang dikembangkan, bahwa ketika memberantas kejahatan terorisme, maka harus diberantas pendanaan terorismenya karena ini merupakan suatu, bisa dikatakan aliran darah yang bisa menghidupi kegiatan terorisme,” katanya.

Lebih lanjut ia menyebut jika masalah ideologi merupakan pengaruh yang sangat besar bagi terorisme. Hal tersebut membuat para teroris tidak memiliki target yang pasti. Sehingga berebeda dengan zaman dulu yang memiliki sasaran yang jelas.

“Ideologi tentu adanya di hati dan kepala kita, ini tantangan yang terbesar saya kira yang kita hadapi karena membubarkan organisasi itu tidak serta merta menghilangkan sebetulnya ideologi para pengikutnya. Sekarang dengan ideologi, persoalan seperti ini tidak mudah sehingga kita perlu melakukan langkah-langkah yang komprehensif secara politis, secara sosial, secara ekonomi, yang memang memerlukan kerja sama kita semua,” ungkapnya.

Dian memaparkan jika dari tahun ke tahun laporan yang diterima PPATK terutama dari perbankan cukup besar. “Kalau kita lihat pada tahun 2016 masih sekitar 340 laporan, maka pada tahun 2020 ini sudah mencapai angka 1.122 laporan. Ini laporan transaksi keuangan yang terkait dengan masalah pendanaan terorisme,” jelasnya.

Menurutnya, laporan transaksi keuangan pendanaan terorisme yang berkembang secara signifikan ini menjadi hal yang cukup serius. Dari data statistik terkait hasil analisis dan pemeriksaan yang dilakukan PPATK kepada berbagai laporan transaksi keuangan yang mencurigakan bisa disimpulkan jika perkembangannya juga lumayan tinggi.

“Pada 2016 PPATK selama satu tahun penuh hanya menyampaikan 36 hasil analisis dan pemeriksaan kepada Densus 88, Badan Intelijen Negara dan BNPT. Pada 2020 meningkat menjadi 99 hasil analisis yang dilaporkan ke lembaga-lembaga tersebut,” tutupnya.

Leave a reply

error: Content is protected !!