Politisasi Agama Khalifah Pertama Abbasiyah

1
317

Sangkhalifah.co — As-Saffah, khalifah pertama Abbasiyah, untuk melegitimasi kekuasaannya, dia menjustifikasi bahwa kekuasaan khalifah berada di tangan keluarga nabi jalur Abbas. Sebuah langkah untuk melegitimasi kekuasaan.

Dalam rekam sejarah memang agama kerap menjadi kendaraan paling empuk bagi para elit politik untuk melegitimasi kekuasaan. Hingga hari ini pun agama masih sangat relevan untuk membranding apa saja, tidak terkecuali politik. Pada masa awal-awal kekhalifahan Abbasiyah dengan khalifah bernama Abul Abbas, agama sudah dijadikan legitimasi politik. Politik tanpa simbol-simbol agama, rasanya eksistensi kekuasaan akan sulit terwujud.

Nama lengkapnya adalah As-Saffah, Abdullah bin Muhammad bin Ali bin Abdullahh  bin Abbas bin Abdul Muthallib bin Hasyim. Lahir pada tahun 108 H di Humaimah, salah satu tempat di Balqa’. Ibunya bernama Raithah al-Raritsiyah. Dia dibaiat di Kuffah pada tanggal 3 Rabiul Awwal tahun 132 H.

As-Saffah merupakan julukan bagi sang khalifah yang memiliki arti ganda; orang yang dermawan sekaligus sang penumpah darah. Di sisi lain, ia juga ia juga sosok yang “sadis”, siapa pun yang menentang pemerintahan Abbasiyah, akan dibunuh secara kejam.

Imam Suyuti dalam Tarikh Khulafa menyebutkan, bahwa para ahli sejarah berkata, “As-Saffah adalah sosok yang begitu gampang menumpahkan darah. Perilaku ini banyak diikuti oleh para pejabatnya di Barat dan Timur. Meskipun demikian, dia terkenal dengan kemurahan hatinya.”

Nasab Abul  Abbas masih sampai pada Abbas, paman Nabi Muhammad Saw., hal ini dijadikan sebagai dalih bahwa ia berhak mewarisi kekuasaan. Dalam pidatonya yang menyinggung kezaliman dan kesewenang-wenangan Dinasti Umayyah, ia juga mengutip beberapa ayat al-Quran yang berkaitan dengan keluarga Nabi (QS 33:33 dan QS 42:33). Jika Syiah mengklaim kepemimpinan atas dasar keturunan Ali bin Abi Thalib dan Fatimah (ahlu al-Bait), maka Abbul Abbas melegitimasi kekuasaan atas dasar masih memiliki jalur nasab ke Abbas, paman nabi.

Lebih lanjut, dalam Tarikh Khulafa, Imam Suyuti mengutip riwayat Ibnu Jarir al-Thabari, seorang pakar sejarah, tafsir, dan fikih. Ibnu Jarir mengatakan, “Awal mula kekhalifahan Bani Abbas, Rasulullah memberitahu kepada Abbas, pamannya, generasi khalifah yang akan datang akan dipegang oleh anak cucunya. Sejak saat itulah Bani Abbas membayangkan datangnya khalifah tersebut.” Namun Imam Suyuti sendiri mengatakan bahwa riwayat tersebut lemah.

Tidak hanya riwayat lemah yang bernada legitimasi kekuasaan. Terdapat riwayat yang seolah “memperkuat” bahwa Abul Abbas adalah keturunan Nabi, padahal Abul Abbas hanyalah keturunan Abbas, paman nabi. Dalam Sunan al-Tirmidzi terdapat riwayat yang mengatakan, “Abbas adalah bagian dariku (Nabi Muhammad) merupakan bagian darinya”; “Barangsiapa yang menyakiti pamanku (Abbas), berarti dia telah menyakitiku.”

Nadirsyah Hosen dalam Islam Yes, Khilafah No mengkritik hadis di atas, “Hadis hasan dan gharib ini hanya satu-satunya yang diriwayatkan oleh Sunan Tirmidzi dan tidak dijumpai riwayat senada dalam kitab hadis ulama lainnya.”

Tidak hanya sampai di situ. Imam al-Tirmidzi juga meriwayatkan beberapa keutamaan Abbas, dalam sebuah riwayat dijelaskan bahwa Nabi mendoakan agar Allah mengampuni dosa-dosa keturunan Abbas. Riwayat ini seolah melegalkan apapun yang dilakukan keturunan Abbas, termasuk pembantaian yang dilakukan Abbul Abbas.

Imam Suyuti juga mengutip riwayat Imam Ahmad dalam Musnadnya yang seolah-olah kekhalifahan Abul Abbas sudah di-nubuwwat-kan oleh Nabi. Dalam Musnadnya, Imam Ahmad meriwayatkan,

يخرج عند انقطاع الزمان و ظهور من الفتن رجل يقال له السفاح فيكون اعطائه المال حثيا

“Akan muncul penguasa dari kalangan keluargaku pada suatu zaman yang carut marut dan penuh dengan fitnah . Dia disebut As-Saffah. Dia suka memberikan harta dengan jumlah yang sangat banyak.”

Nadirsyah Hosen dalam Islam Yes, Kilafah No menjelaskan bahwa riwayat ini tidak terdapat dalam kutubut tis’ah, kitab-kitab hadis utama.

As-Saffah berkuasa selama empat tahun, pada 10 Juni 954 Masehi dalam usia yang cukup muda, yaitu 33 tahun. Sebelum wafat ia telah mewasiatkan kekuasaannya kepada adiknya, Abu Ja’far dan ponakannya, Isa bin Musa. Ini artinya pada saat itu suara umat tidak memiliki andil dalam memilih penguasa. Kekuasaan penuh di bawah otoritas rezim  yang menganut sistem khilafah islamiyah itu. [Muhammad Abror]

1 comment

Leave a reply

error: Content is protected !!