Politisasi Agama Jadi Biang Aksi Intoleransi

2
795

Sangkhalifah.co — Sejarah intoleransi di dalam Islam, berangkat dari politik. Saat agama diperkenalkan dengan ambisi politik, maka terciptalah sikap intoleransi. Politisasi agama menjadi biang dari aksi intoleransi dan meruntuhkan spektrum sosial dalam kehidupan beragama.

“Kalau agama sudah diperkenalkan ambisi politik, tuntunan Kanjeng Nabi dalam hal kehidupan muamalah akan dilabrak begitu saja,” ungkap Pegiat Media Sosial Islah Bahrawi, seperti dikutip Media Sang Khalifah dari webinar yang dilakukan NUisme via Kanal Youtube NUisme, Jumat (20/11).

Di Madinah, lanjutnya, Nabi Muhammad telah memberikan contoh kepada umat Islam soal kehidupan toleransi dalam tatanan sosial yang sangat majemuk. Sementara itu, kata Islah, Allahyarham Grand Syaikh Al-Azhar Mahmoud Syaltout pernah mengatakan bahwa Indonesia adalah serpihan surga.

“Kalau kita berdiri di depan peta bumi, kita akan melihat betapa uniknya Indonesia. Pecahan-pecahan pulau ini sangat mustahil bagi kita membentuk satu entitas negara. Tapi inilah serpihan surga,” ungkap Islah dengan bangga.

“Kalau kita melihat geopolitik dan geo-ekonomi secara global, Indonesia dikepung oleh negara-negara persemakmuran. Inilah mengapa Indonesia menjadi satu pertarungan proxy dan menjadi melting port dari semua pertarungan global itu dan akhirnya semua bermuara di sini,” lanjutnya.

Islah mengatakan, peristiwa Arab-Spring yang terjadi di negara-negara yang homogen itu sangat berbeda dengan Indonesia yang selalu aman dalam ruang-ruang perbedaan. Hal ini menjadi suatu keanehan sekaligus keunikan tersendiri.

Baca: Islam, Muslim dan Kemanusiaan

“Tapi ini menjadi daya tarik bagi negara-negara lain untuk melakukan penetrasi kepada kita. Ada beberapa jalur, orang ingin belajar kita soal bagaimana mengelola negara dalam kemajemukannya,” tegasnya.

Sementara itu Intelektual muda Nahdlatul Ulama Gus Rifqil Muslim menyampaikan soal Tri kerukunan. Ketiganya itu adalah kerukunan antarumat beragama, kerukunan antara umat beragama, dan kerukunan antara umat beragama dengan pemerintah.

Ia lantas menceritakan soal kisah toleransi yang dialami Nabi Musa dan Harun kepada pemerintahan zalim, yakni Fir’aun. Namun, Al-Quran seketika itu menurunkan ayat agar mampu bersikap toleran dengan pemerintah.

“Ayat ini jadi pelajaran untuk kita sebagai seorang muslim kemudian tidak cocok dengan pemerintah yang sah, kita harus tetap menjalin komunikasi yang baik,” katanya.

Gus Rifqil kemudian mengutip surat Thaha ayat 44. Artinya, “Maka berbicaralah kamu berdua (Nabi Musa dan Nabi Harun) kepadanya (Fir’aun) dengan kata-kata yang lemah lembut, mudah-mudahan ia ingat atau takut”.

Menurut Gus Rifqil, demikianlah Al-Quran mengajarkan umat Islam selalu berlemah-lembut, sekalipun kepada pemerintahan yang zalim. Menyampaikan sesuatu tidak dengan kalimat berapi-api atau marah. Tetapi melakukan komunikasi dengan baik, dari hati ke hati.

“Maka barangkali dengan perkataan lembut itu, mudah-mudahan Fir’aun itu menjadi ingat dan takut kepada Allah. Fokusnya di sini, kita harus menerima perbedaan,” jelasnya.

Lebih jauh, Gus Rifqil menyatakan bahwa perbedaan yang dialami oleh umat Nabi Muhammad merupakan rahmat dari Allah. Namun dengan catatan, perbedaan tersebut harus sama-sama dari orang yang berilmu.

“Kalau perbedaan itu asal beda saja, itu bukan rahmat. Itu akan menjadi laknat. Misalnya ada dua kubu berbeda, tapi tanpa dalil dan referensi. Perbedaan ini tidak bisa menjadi rahmat,” katanya.

Ia mengatakan bahwa tradisi para ulama Ahlussunnah wal Jamaah adalah mengedepankan diskusi atau musyawarah bukan politisasi agama. Hal ini kemudian dilestarikan oleh kiai-kiai di lingkungan NU yakni bahtsul masail.

“Di sana, dalam bahtsul masail, kita dihadapkan dengan satu perkara permasalahan. Lalu kita dituntut untuk menyelesaikan masalah dengan solusi. Bukan sekadar halal-haram, tapi solusi yang cocok untuk keadaan umat sekarang. Ini dilahirkan karena diskusi atau musyawarah,” ungkapnya. []

2 comments

Leave a reply

error: Content is protected !!