Politik Identitas dan Radikalisme

1
465

Sangkhalifah.co — Globalisasi juga mengancam identitas suatu etnik, suku dan kelompok agama terutama yang minoritas. Identitas kelompok minoritas semakin kabur terseret arus globalisasi ke dalam identitas “bersama” yang dikuasi kelompok mayoritas. Tarik menarik dan gesekan antar identitas menghasilkan daya resistensi dari setiap kelompok. Masing-masing kelompok berjuang agar eksistensi identitas mereka tetap terjaga dengan baik menuju persaingan antar kelompok identitas yang memicu konflik dan krisis politik identitas.

Kemudian masing-masing kelompok identitas menciptakan ideologi baru yang bisa membenarkan perjuangan politik mereka sampai ke tingkat negara. Ideologi adalah seperangkat ide koheren yang menyediakan basis bagi tindakan politik terorganisasikan untuk mempertahankan, memodifikasi atau menggantikan sistem kuasa yang sudah ada. Tiga ciri penting suatu ideologi: a) Menawarkan pemahaman tentang tatanan yang ada, biasanya dalam bentuk “pandangan dunia”; b) Mengembangkan model tentang masa depan yang diinginkan, visi tentang “masyarakat yang baik”; c) Menjelaskan bagaimana perubahan politik dapat dan sebaiknya dilakukan. (Andrew Heywood, 2016).

Radikalisme dan terorisme dalam hal ini dalam konteks pemikiran dan tindakan politik yang berlatar belakang agama. Karena itu potensi radikalisme dan terorisme ada di semua agama, bukan monopoli salah satu agama tertentu. Bahkan potensial pada setiap individu manusia.

Jika isu radikalisme dan terorisme di Indonesia berhubungan dengan agama Islam, implikasi dari pemilik pemikiran radikal dan pelaku terorisme di Indonesia beragama Islam. Mereka menjadikan Islam sebagai alasan dalam bertindak radikal dan melakukan aksi terorisme. Sangat sayangkan radikalisme dan terorisme atas nama Islam menjadi “fitnah” bagi Islam dan umatnya. Sedangkan hal tersebut sebenarnya tidak sesuai dengan substansi dan tujuan Islam itu sendiri. Tentu saja merugikan dan memecah belah umat Islam, serta merusak citra baik Islam (Islam Phobia).

Radikalisme Islam tidak ada hubungannya dengan kedalaman iman seseorang. Karena kedalaman iman seseorang terkait dengan kedekatan hatinya dengan Allah swt. Kedalaman iman ada dalam diri seseorang, ia bersifat imanen. Dari kedalaman iman memancar kesalehan pribadi. Pada hakikatnya tujuan beragama (Islam) hanyalah untuk mencari ridho Allah SWT, maka mutlak harus berangkat dari hati yang ridho atau ikhlas, guna mengenal dan mencintai, serta dicintai-Nya (makrifat).

Kedalaman iman yang memancarkan kesalehan pribadi sesuai dengan substansi Islam tertuang dalam visi, “Menjadi rahmat bagi alam semesta” (Wama arsalnaka illa rahamatan lil’alamin), dan misi berupa tiga pilar agama, yaitu enam rukun iman (tauhid-aqidah), lima rukun Islam (syariat fiqih), dan puncaknya adalah rukun ihsan yaitu akhlaqul karimah. Ciri seseorang berakhlak karimah, memberi manfaat kepada orang lain. Orang merasa aman, nyaman dan damai bersamanya. Dari kesalehan pribadi menjadi kesalehan sosial.

Sedangkan radikalisme bersifat politis. Motif dasar kaum radikal sesungguhnya adalah kekuasaan. Islam menjadi alat melegitimasi motif tersebut. Dalam paradigma kaum radikal, Islam akan tegak dengan kekuasaan politik. Sebab itu puncak kekuasaan harus diraih. Tanpa memegang tampuk kekuasaan, syariah Islam tidak bisa diterapkan. Karena itu pemaksaan keyakinan pada level ini akan mengganggu ketertiban masyarakat, keamanan dan ketahanan negara.

Relasi mayoritas-minoritas terbagi menjadi dua: antar umat yang berbeda agama dan antar umat seagama. Kekerasan mayoritas-minoritas antar umat yang berbeda agama atau diskriminasi dan intimidasi agama tidak terjadi karena faktor tunggal agama, melainkan ditimpali oleh faktor-faktor non agama seperti sentiment ras, kepentingan politik, persaingan ekonomi, kecemburuan sosial dan lain sebagainya. Kelompok mayoritas melakukan kekerasan kepada kelompok minoritas dalam rangka memaksakan kelompok minoritas pindah ke agama mayoritas (inquisisi), tidak bermanfaat bagi kelompok mayoritas, bahkan masuknya kelompok minoritas ke dalam agama mayoritas secara paksa, memicu perlawanan senyap yang berkepanjangan. Seperti kasus kekerasan di India (mayoritas Hindu kepada minoritas muslim), Myanmar (mayoritas Budha kepada minoritas muslim) dan Xinjiang Cina (mayoritas komunis kepada minoritas muslim), bukan karena motif inquisisi.

Adapun relasi mayoritas-minoritas antar penganut agama yang sama, yang sering terjadi, kelompok minoritas melakukan diskriminasi dan intimidasi kepada mayoritas. Dilatarbelakangi oleh kebutuhan kelompok minoritas guna mempertahankan dan mengeksiskan diri di tengah kelompok mayoritas yang dimanifestasikan dalam bentuk mengagregasi suara kelompok mayoritas, melakukan pelecehan, penistaan dan penghinaan terhadap kelompok mayoritas baik itu anggota kelompok, pemimpin, ajaran dan simbol-simbol. Menyerang cara terbaik bagi kelompok minoritas untuk bertahan dan eksis.

Bagi kelompok mayoritas, ketertiban masyarakat adalah wujud keunggulan mereka sebagai mayoritas. Demi hal tersebut, mereka merasa tidak perlu menanggapi diskriminasi dan intimidasi dari kelompok minoritas. Mereka memilih menyerahkan persoalan tersebut kepada penegak hukum. Konsekuensinya, mereka menjadi silent majority dipermukaan. Seperti relasi antara FPI dengan NU. Diskriminasi dan intimidasi aktivis FPI terhadap warga NU seringkali terjadi ranah luring dan daring. Berebut identitas aswaja, mungkin. []

*Ayik Heriansyah, Mantan Ketua DPD HTI Bangka Belitung

1 comment

Leave a reply

error: Content is protected !!