Polisi Cinta Sunnah, Makmun Rasyid: Fenomena Berbahaya di Tubuh Polri

3
1722

Sangkhalifah.co — Kepolisian Republik Indonesia Indonesia menjadi garda terdepan dalam menangkal paham-paham anti-nasionalisme, anti-Pancasila dan gerakan transnasional. Bagaimana jika oknum kepolisian yang ikut terlibat dalam paham-paham anti-istiadat, anti-nasionalisme, mengikuti gerakan Salafi-Wahabi dan lain sejenisnya.

Makmun Rasyid, Founder Media Sang Khalifah mengatakan mereka yang terpapar paham atau gerakan Salafi-Wahabi biasanya mengikuti perkumpulan Polisi Cinta Sunnah. “Fenomena Polisi Cinta Sunnah ini bukan baru, tapi sudah ada 3 sampai 5 tahun belakangan ini. Dan maraknya di tahun 2019. Saat itu mereka punya akun Instgram dengan pengikut 103 ribu.”

Dari nama saja sudah menandakan bahwa mereka tidak akan pernah sepaham dengan selain kelompoknya. Istilah “Polisi Cinta Sunnah” menjadi virus tersendiri di internal kepolisian.

“Sebab yang merasuki jiwa mereka bukanlah paham yang ditradisikan Nahdlatul Ulama maupun Muhammadiyah, tetapi mereka menjadi target sendiri dari kelompok Salafi Haraki dan Salafi Jihadi. Dua kelompok inilah, yang banyak melahirkan teroris-teroris dimana-mana. Dan mungkin awalnya mereka menyesuaikan diri, tapi ketika melihat kondisi sudah memungkinkan, mereka pasti berontak,” tegas Makmun yang juga Co-Founder Lembaga The Centre for Indonesian Crisis Strategic Resolution.

Seharusnya Polri menindak tegas perkumpulan sempalan ini. Karena Polri tidak memiliki sayap bernama “Polisi Cinta Sunnah”, apalagi memuat di dalamnya ada logo yang mencantumkan tanda Tri Brata, yang identik dengan institusi Polri.

Makmun juga menambahkan, selain perkumpulan Polisi Cinta Sunnah, sebenarnya bibit-bibit eksklusif dalam beragama itu ada juga, misalnya Bhayangkara/ri Hijrah dan tentunya saya menyelidiki perkumpulan sejenis juga bernama Polisi Mengaji.

“Polisi maupun militer kerap berbeda secara ideologi pergerakannya dengan Salafi-Wahabi, Ikhwanul Muslimin, Front Pembela Islam hingga Hizbut Tahrir Indonesia. Jadi kalau ada polisi yang ikut gerbong Polisi Cinta Sunnah berarti ada dua kemungkinan: nasionalismenya menurun atau KW, dan dia minim informasi pergerakan keagamaan yang bersifat transnasional. Tentunya ini perlu penataran kembali,” tambahnya.

Mereka yang ikut tergabung dalam perkumpulan tersebut adalah kerap belajar agama kepada orang dengan melihat sampulnya, tapi tidak ke kedalaman dan misi gerakannya. Dalam aspek ini, bisa dipastikan. Maka hampir semua polisi yang terpapar ini tidak mengerti sepak terjang Salafi-Wahabi, IM maupun HTI.

“Bahkan tak jarang di antara mereka, ada yang “taqiyyah” (menyembunyikan identitas mereka) dan ada pula yang terang-terangan. Di lapangan, ketika mereka dihadapkan untuk memilih: antara institusi kepolisian atau gerakan yang diikutinya, maka tak jarang mereka keluar dari institusi kepolisian. Salah satu alasan yang kerap kita temukan di lapangan seperti “jabatan bukan seumur hidup, tapi belajar agama selama-lamanya,” tutupnya.

3 comments

  1. Pidsus 25 April, 2021 at 05:42 Balas

    Assalamualaikum
    Maaf pak, bapak sudah bosan ketemu tiap hari dengan keluarga bapak kah pak, atau memang ingin nuansa baru..gitu

    Kalau seumpama begitu, kami siap membuatkan laporan polisi untuk bapak,. Agar bapak bisa nasionalis dan toleran juga bermartabat

    • artikel sangkhalifah 25 April, 2021 at 05:54 Balas

      Anda ingin membuat laporan ke polisi tapi Anda sambil mengancam. Jangan-jangan bukan laporan Anda yang digubris, tapi dilapor balik akan menjadi bumerang Anda sendiri. Pada paragraf pertama, unsur pengancaman telah terpenuhi. Salam dari admin

Leave a reply

error: Content is protected !!