Pohuwato, Kesalahan Pejabat dan Jaringan Teroris

1
2069

Sangkhalifah.co — Sebagai anak yang tinggal di Pohuwato Gorontalo, dan berkaitan dengan kegiatan sehari-hari, saya selalu menanamkan kepada sahabat-sahabat di Gorontalo: “jan pandang enteng deng jaringan teroris” (jangan pandang enteng dengan jaringan teroris). Bukan tanpa sebab, saya membaca ragam watak radikalis-teroris di beberapa tahun terakhir ini. Mari kita mulai dari pernyataan sang pengebom Bali.

Ali Imron, Eks Teroris pernah berkata, “Semakin banyak orang yang teriak terorisme tidak ada, konspirasi dan tidak ada di sini. Dengan begitu para pelaku kian bebas dan tidak diwaspadai keberadaan dan aktivitasnya.” Jelas maksudnya. Dari sekian data, ada satu data pendukung terjadinya penangkapan teroris di Kabupaten Pohuwato, Provinsi Gorontalo. Salah satunya adalah sikap positif yang opordosis, yang itu lahir dari para pejabat berpengaruh dan pernyataan pejabat itu sampai di telinga para teroris. Optimis boleh, tapi tetap menerapkan aspek “kewaspadaan berlipat”.

Saya mencoba membuat analisis sederhana. Sebab beberapa data tidak memungkinkan saya mewartakannya. Penangkapan teroris di Pohuwato terletak di dua kecamatan, yakni Randangan dan Buntulia. Randangan ini berada di tengah secara geografis di Kabupaten Pohuwato, yang berbatasan dengan Kecamatan Taluditi (Utara), Teluk Tomini (selatan), Patilanggio (barat) dan Wanggarasi (timur). Desanya berjumlah 13 (definitif) ini berupa daerah lereng dan perbukitan. Sebuah tempat strategis untuk bersemanyam kaum teroris.

Beberapa bulan lalu, Kecamatan Randangan ini didatangi oleh tiga lembaga sektor ternama, yaitu Kementerian Desa, Badan Nasional Penanggulangan Terorisme dan Badan Pembinaan Ideologi Pancasila yang di-‘gawangi’ oleh Kampus Universitas Negeri Gorontalo. Acara ini sekaligus meluncurkan program Desa Damai atau yang disebut “Forum Pemuka Masyarakat Cinta Desa” (FORPEACE). Turut hadir dalam acara tersebut adalah Komjen Boy Rafli Amar (Kepala BNPT), Prof Hariyono (Wakil Ketua BPIP), Idris Rahim (Wakil Gubernur Gorontalo), Syarif Mbuinga (Bupati Pohuwatu), dan Dr. Eduart Wolok (Rektor Universitas Negeri Gorontalo).

Baca: Eksklusivisme dan Intoleransi: Watak Dasar Teroris

Kedatangan rombongan ini dijaga secara berlapis dari ragam sektor pihak keamanan, termasuk di dalamnya Densus 88 dan Polda Gorontalo beserta jajarannya. Dalam acara itu pun saya menyimpan pertanyaan mendasar usai Idris Rahim (Wakil Gubernur Gorontalo) menyampaikan pesan bahwa Gorontalo aman dari tindakan-tindakan seperti radikalisme dan terorisme.

“Radikalisme dan terorisme ini tentunya merupakan musuh kita bersama. Insya allah paham-paham seperti itu tidak ada di Provinsi Gorontalo”, ungkap Idris Rahim pada hari Sabtu (19/9/2020) dalam acara FORPEACE.

Setelah saya bergeser ke sebuah tempat dan mendatangi beberapa orang Densus 88, ada seorang yang bertanya dengan peryantaan sama kayak saya: “ustadh, di satu sisi kita memang diwajibkan optimis tapi dalam konteks menangkal radikalisme dan terorisme, pernyataan demikian terkategorikan keliru”. Saya pun menimpali, “betul sekali, pak”. Saya tidak menimpali dengan berpanjang kalam. Sebab, pernyataan itu merupakan angin segar bagi kaum radikalis-teroris. Di samping itu, Gorontalo yang memiliki banyak pengunungan menjadi incaran kaum radikalis-teroris untuk mengembangkan jaringan.

Tak berselang lama, tepatnya Jum’at (27/11/2020) dini hari Densus 88 menangkap 7 orang. Media di Gorontalo belum ada satu pun yang membeberkan identitas dari masing-masing pelaku. Di samping memang, pihak kepolisian Gorontalo akan memberitakan setelah hasil resmi dari Mabes Polri sudah ada. Artinya, statusnya masih di tahap pengembangan.

Gorontalo termasuk dari 13 wilayah yang masuk dalam pantauan pihak kepolisian. Dimana data yang ada, mulai 1 Juni hingga 12 Agustus 2020, Densus 88 telah menangkap 72 orang anggota teroris di 13 wilayah. Wilayah itu meliputi Sumatera Barat, Bali, Sulawesi Tengah, Jawa Timur, Jawa Tengah, Riau, DKI Jakarta, Jawa Barat, Kalimantan Selatan, NTB, Kalimantan Barat, Maluku dan Gorontalo.

Baca: Ikhtiar Santri Membungkam Radikalisme Agama

Disini dalam tiga tahun terakhir, pada tahun 2018 di Gorontalo terdapat tiga orang teroris (Desa Ayumolingo, Kecamatan Pulubala); tahun 2019 Densus 88 menangkan inisial AK di Desa Huntu Barat, Kecamatan Bulango Selatan. Dimana AK ini memang sudah berada di Gorontalo sebelum menikah dengan MS; dan tahun 2020 terdapat 7 terduga teroris sebagaimana yang kita ketauhi. Disini bukan berapa jumlahnya, tapi tiap tahunnya (3 tahun terakhir) Gorontalo tidak bebas dari penangkapan teroris. Lalu Wakil Gubernur berkata demikian dengan dasar apa?

Wakil Gubernur Gorontalo itu satu dari sekian potret pejabat di daerah-daerah rawan tempat bersemanyam jaringan teroris. Seseorang ketika dinyatakan sebagai “terduga teroris” (khususnya dalam pemberitaan), maka itu dimaknai sebagai adanya upaya melakukan, ikut serta, memudahkan suatu tindak pidana terorisme. Artinya, penangkapan di Gorontalo—walaupun berstatus “tahap pengembangan”—tidak akan jauh dari hasil tahap pengembangan dan penyidikan jaringan teroris di provinsi tetangga, Sulawesi Tengah dan jaringan yang masih aktif. Perbedaannya, teroris di Sulawesi Tengah dilakukan dengan “tembak tempat”, sedangkan di Gorontalo tidak. Perbedaan juga bisa dilihat dari penciriannya “kelas teroris”, apakah kelas A, kelas B atau kelas C. Kemudian juga akan dilihat dari sudut pandang agama (sifat perbantuan); paham apa yang melatar belakangi si terduga teroris itu beraktivitas, apakah Wahabi atau lainnya.

Oleh karena itulah, saya sekali lagi mengajak—di samping kita menunggu berita resmi pihak kepolisian—agar seluruh elemen masyarakat tidak menganggap enteng persoalan radikalis-teroris ini dan tidak membuat pernyataan yang menciptakan angin segar kelompok radikalis-teroris. Upaya yang dilakukan Densus 88, hemat penulis dan sesuai analisis yang dilakukan oleh lembaga The Centre for Indonesian Crisis Strategic Resolution (CICSR) dalam rangka memutus mata rantai perbuatan yang berpotensi besar. Disini Densus 88 dan pihak kepolisian mencegah terjadi tindakan brutalisme di Provinsi Gorontalo. []

1 comment

Leave a reply

error: Content is protected !!