Pluralisme Gus Dur Sebagai Upaya Menyembuhkan Penyakit Radikal

2
220

Sangkhalifah.co — Salah satu topik yang menarik untuk terus dibahas dalam konteks Indonesia adalah persoalan pluralisme. Pluralisme memiliki daya tarik tersendiri, baik yang berkaitan dengan agama ataupun kaitannya dengan potensi konflik yang disebabkan oleh SARA. Bahkan, tidak jarang isu tentang pluralisme ini menjadi tranding topic di mata masyarakat Indonesia. Pluralisme sendiri merupakan sunnatullah. Sebab demikian alangkah mustahilnya di masa sekarang kita tidak bersinggungan dengan kelompok yang berbeda keyakinan dan agama. Namun demikian, rupanya, keniscayaan ini masih tidak diakui oleh sebagian kelompok kecil, sehingga menganggap bahwa pluralisme tidak boleh ada. Kelompok ini yang menurut Fahruddin Faiz memunculkan sikap ekslusif, claim of truth dan salvation of claim yang berbahaya bagi keutuhan bangsa dan negara.

Menghentikan tindakan dan sikap radikal dan teror memang tidak semudah yang dibayangkan. Sebab demikian sikap dan tindakan ini masih banyak menyeruak di banyak titik di wilayah Indonesia. The Power Reserach Center, pada tahun 2015 merilis data bahwa 10 juta masyarakat Indonesia memiliki faham radikal. Setahun setelahnya, 2016, Setara Institusi juga merilis data penelitiannya yang mengatakan pada tahun tersebut terdapat 182 pelanggaran kebebasan berkeyakinan dan beragama di Indonesia. Masih banyak penelitian-penelitian lain yang mengungkapkan akan radikalisme di Indonesia. Dan, sudah seharusnya, ini menjadi catatan penting bagi bangsa Indonesia, sebab tidak sejalan dengan amanah UUD 194t pasal 2o ayat (2) yang menegaskan bahwa negara menjamin kemerdekaan tiap-tiap penduduk untuk memeluk agamanya masing-masing dan untuk beribadah menurut agama dan kepercayaannya.

Tindakan kelompok radikal dan teror yang merugikan banyak pihak itu juga tidak sejalan dengan semangat pluralistas bangsa Indonesia sendiri. Keragaman yang ada di dalamnya, seperti ras, suku, bahasa, hingga agama, menjadi bukti bahwa Indonesia adalah negara yang beragam dari sananya. Selain itu menurut Saifuddin Ansori, menegaskan bahwa dihapusnya tujuh kata dalam Piagam Madinah merupakan implikasi dan pengakuan sejak awal bahwa bangsa Indonesia adalah bangsa yang beragam. Namun lagi-lagi, keragaman ini tidak diindahkan oleh kelompok radikal seperti misalnya FPI dan HTI yang mencita-citakan agar Indonesia menerapkan syariat Islam sebagai perundang-undangan. Sehingga keragaman Indonesia justru menyulut ketegangan, bahkan konflik dan perang saudara yang tidak bisa dihindarkan.

Pandangan tentang pluralisme yang patut dijunjung tinggi adalah pemikiran Abdurrahman Wahid. Gagasan pluralisme Gus Dur cukup penting untuk menjadi obat penawar dalam membingkai persatuan dalam umat yang beragam. Sikap pluralisme Gus Dur yang identik dengan mengedepankan sikap saling terbuka, mengerti, memahami, dan menyadari bahwa setiap agama berhak mengekspresikan keyakinannya patut untuk ditilik lebih jauh. Ketika dirinya memaknai keragaman sebagaimana tercatat dalam QS. Al-Hujurat ayat 13, Gus Dur memaknai bahwa “Li ta’ârafû” tidak sekadar saling mengenal dengan berbagai alamat rumah dan nomor handphone, akan tetapi juga mengenal dan memahami tradisi, kebiasaan, adat istiadat, pikiran dan hasrat setiap manusia. Sehingga dengan demikian kita akan sadar bahwa perbedaan semua itu adalah hak Allah yang tidak bisa kita tolak.

Gus Dur juga menafsirkan makna bahwa sebaik manusia adalah mereka yang paling bertakwa. Baginya, takwa dalam arti ini bukan sekadar rajin beribadah ke masjid dan mengaji Al-Qur’an. Akan tetapi lebih dari itu takwa adalah mengendalikan amarah, hasrat-hasrat rendah, menjaga hati, tidak melukai, tidak mengancam, ramah, sabar, dan rendah hati yang harus dipraktekkan pada setiap individu. Selain itu Gus Dur juga, sebagaimana ditegaskan Husein Muhammad, memiliki tiga prinsip Islam, yaitu rukun iman, rukun Islam, dan rukun tetangga atau kemanusiaan. Dengan ini ia hendak memberikan maksud bahwa nilai keislaman dan keimanan yang dimiliki seseorang hendaknya tidak mereduksi nilai kesalehan sosialnya dengan tetangga. Bagi Gus Dur, keimanan harus berimplikasi pada kesalehan spiritual sekaligus kesalehan sosial.

Sikap Gus Dur dalam mengimplementasikan apa yang diyakininya soal pluralisme di tengah masyarakat tidak bisa dielakkan. Gus Dur tidak hanya berbicara soal kehebatan teori dan konsep pluralisme akan tetapi mempraktekkan secara langsung di tengah masyarakat. Ia dikenal sebagai pejuang kemanusiaan yang seringkali memberikan advokasi kepada orang-orang yang ditindas dan dimarjinalkan. Tidak sekadar menghargai perbedaan keyakinan dan agama akan tetapi menyambut baik dengan rendah hati dan rengkuhan yang hangat. Ngatawi Al-Zastrow menyebutkan bahwa Gus Dur sering sekali mengadakan Open House untuk memberikan kesempatan kepada siapa saja mengadukan problematika yang sedang dihadapinya di tengah masyarakat.

Sebaiknya, Gus Dur akan mendak dengan tegas siapa saja yang merendahkan martabat manusia, apalagi yang menyakiti, mengurangi, dan menghalangi hak-haknya. Lagi-lagi, Husein Muhammad dalam buku Sang Zahid menyatakan fakta sikap pluralisme Gus Dur untuk menyatukan umat Indonesia yang beragam. Ketika sekelompok Ahmadiyah diusir dan masjidnya dirobohkan, Gus Dur hadir di tengah-tengah mereka. Ia membersamai mereka dan memberikan advokasi serta dukungan kepada mereka. Ketika gereja-gereja dilempari batu, Gus Dur bilang “jangan”. Ketika orang-orang Tiong Hoa meminta diresmikan Hari Raya Imlek dan Barongsai, Gus Dur memberikannya dengan tulus meskipun penglihatannya tidak normal. Bahkan, Gus Dur hadir di acara tersebut dan bertepuk tangan dengan sangat riang.

Begitulah sikap dan tindakan Gus Dur dalam upaya membangun persatuan dan mengobati penyakit radikalisme di tengah masyarakat. Apa yang dilakukan Gus Dur patut dicontoh semua elemen bangsa agar Indonesia selalu dijadikan bangsa yang bersatu dalam keragaman. []

2 comments

Leave a reply

error: Content is protected !!