Perspektif Kitab Kuning, Turki Usmani Tidak Memenuhi Kualifikasi Sebagai Khilafah

2
826

Sangkhalifah.co — Dalam kitab kuning yang biasa dikaji di pesantren, syarat menjadi imam a’dzam atau khalifah salah satunya adalah harus berasal dari Quraisy. Hal itu dapat ditilik semisal dalam beberapa kitab tarikh seperti kitab “Tarikh Al Umam wa al Mulk” karya Abi Ja’far Muhammad bin Jarir Tabari, juga kitab “Al Imamah wa al Siyasah” karya Al Imam Abi Muhammad Abdullah bin Muslim Ibn Qutaybah Al Dainuri dan kitab “Tarikh Al Khulafa'” karya Al Hafidz Jalaluddin Al Suyuthi. Ketiga kitab tarikh di atas mengisahkan, saat terjadi perdebatan di Saqifah, tokoh Muhajirin berargumen keutamaan suku Quraisy di hadapan kaum Ansor.

Pentingnya suku Quraisy sebagai salah satu syarat menjadi khalifah ini ditegaskan lagi oleh Al Mawardi dalam fiqih siyasinya “Al Ahkam al Sultaniyyah” bahwa syarat seorang imam yang ketujuh adalah bernasab Quraisy karena adanya nash dan Ijmak. Al Mawardi mengajukan bukti historis bahwa saat di Saqifah, Abu Bakar menolak klaim khilafah atas Sa’ad bin Ubadah dengan menggunakan argumen hadis “الٱئمة من قريش”.

Kata kunci Quraisy untuk jabatan imam atau khalifah akhirnya menjadi baku dalam fiqih, semisal dalam kitab “Fathul Wahhab” karya Syaikh Zakaria Al Ansori juga kitab Al-Bujayrami alal Khatib dijelaskan salah satu syarat imam a’dzam adalah dari suku Quraisy karena adanya hadis dari Nasai. Selanjutnya Syaikh Zakaria Al Ansori menjelaskan hierarki keterpilihan alternatif.

Lalu apa kaitan dengan Turki Usmani? Turki Usmani dalam penelusuran saya bukan dari klan Quraisy. Dalam buku “The Islamic Dynasties” karya Clifford Edmund Bosworth dan dalam buku “Ensiklopedi Tematis Dunia Islam” dijelaskan bahwa Turki Usmani berasal dari Qayigh Clan (suku Kayi) salah satu suku di Turki Barat. Maka dinasti Usmani yang begitu dipuja eks HTI dan diratapi keruntuhannya bukan termasuk katagori khilafah bila mengacu kepada syarat dalam kitab kuning.

Tidak hanya syarat yang tidak terpenuhi, klaim eks HTI atas Nusantara adalah negara vassal adalah tergugurkan. Dalam wikipedia, negara vassal adalah “negara yang sepenuhnya berada di bawah kekuasaan negara lain secara internasional. Jika negara vasal dalam bahaya dan diserang negara lain, maka negara “pelindung” akan membantu negara vasal tersebut.”

Dari peta kekuasaan Turki Usmani seperti dalam karya Albert Hourani yang berjudul “A History of The Arab Peoples” tergambar peta kekuasaannya tidak sampai Nusantara. Demikian juga peta dari buku “The Cambridge History of Islam” peta puncak kekuasaan Turki Usmani tidak tercantum Nusantara. Justeru peta negara Eropa yang dikusai Turki Usmani ditampilkan (lihat petanya).

Lebih jauh, Prof. Oman Fathurahman (dalam republika.co.id) meneliti manuskrip dan menjelaskan memang benar bila Aceh memiliki hubungan diplomatik yang baik dengan Turki Utsmani, tetapi tidak ada riwayat sebagai negara vassal. Pada abad ke-16 Aceh pernah mengajukan diri sebagai negara vassal dan pada abad ke-19 kembali meminta, tetapi Turki tetap menolak. Bagi Turki, tidak ada keuntungan signifikan jika menjadikan Aceh sebagai negara vassal. Apalagi Aceh juga beberapa kali dipimpin pemimpin perempuan (sultanah) yang bertentangan dengan prinsip kekhalifahan.
Setidaknya, mulai abad ke-14, Aceh memiliki empat sultanah.

Memang benar penjelasan Prof Oman bahwa perempuan tidak boleh menjadi Khalifah, juga menjadi hakim mazalim maupun gubernur dan lain-lain seperti dijelaskan oleh kitab otoritatif milik Hizbut Tahrir sendiri semisal kitab “Al Nizam al-Ijtima’i fil Islam” hal 81, kitab “Nizam Al Hukm fil Islam” hal 53, kitab “Nizam Al Islam” hal 104, kitab “Ajhizat Daulat Al Khilafah” hal 23.

Turki Usmani pernah berjaya dan membawa kemajuan sebagaimana sejarah dinasti muslim yang lain seperti Umayyah, Abbasiyah, Fatimiyah, Safawi, Moghul ataupun kerajaan di Peureulak, Samudra Pase, Aceh Darussalam, Demak, Pajang, Ceribon, Madura, dan Mataram serta kerajaan muslim lain di Nusantara.

Turki Usmani semakin mundur setelah kalah perang dengan pasukan sekutu Kristen, juga pernah dikalahkan oleh Rusia walau bisa direbut kembali. Turki semakin lemah karena terjadi pemberontakan-pemberontakan. Prof Ali Mufrodi dalam Ensiklopedi Tematis Dunia Islam juga menyebut kemunduran Turki Usmani karena problem internal seperti Sultan Muhammad III dengan membunuhi semua saudara laki laki serta para janda janda dari ayahnya. Kekuasaan memang terkadang kejam. []

*Ainur Rofiq Al-Amin, Penulis Buku “Membongkar Proyek Khilafah Hizbut Tahrir Indonesia”

2 comments

Leave a reply

error: Content is protected !!