Perlunya NU-isasi Santriwan-Santriwati Sejak Di Pesantren

0
369

Sangkhalifah.co — Berdasarkan cerita dari KH. Abdul Muchit Muzadi, sebagaimana pernah disampaikan oleh Muhammad Sulton Fatoni, selama beliau nyantri di Tebuireng dulu, beliau tidak pernah mendengar KH. Hasyim Asy’ari berbicara tentang NU selama di Pesantren. Setiap KH. Hasyim Asy’ari berada di lingkungan pesantren, beliau selalu fokus ngajar dan tidak pernah membahas soal NU. Padahal hampir semua orang tahu bahwa beliau adalah salah satu tokoh inti dari berdirinya NU.

Sikap beliau ini menunjukkan bahwa beliau sangat profesional. Betapapun pesantren merupakan bagian yang tak bisa dilepaskan dari NU, namun NU dan pesantren merupakan hal yang berbeda. NU itu medan perjuangan merealisasikan empat agenda besar, yaitu memberikan perlindungan (jam’iyyatu aman), memperjuangkan keadilan (jam’iyyatu ‘adl), upaya meningkatkan kualitas hidup (jam’iyyatu islah), dan mengupayakan kemakmuran (jam’iyyatu ihsan). Sementara pesantren adalah lembaga pendidikan yang orientasi utamanya adalah ilmu pengetahuan.

Dengan tidak berbicara NU selama di pesantren, sikap KH. Hasyim Asy’ari tersebut menunjukkan bahwa beliau merupakan pribadi yang berintegritas tinggi. Beliau tidak mau mencampuri urusan pesantren dengan hal-hal lain selain urusan keilmuan. Namun, apakah sikap KH. Hasyim Asy’ari tersebut patut untuk tetap dilestarikan hingga sekarang?

Cukup rumit menjawab pertanyaan ini. Zaman sekarang ini menjaga pesantren agar tetap steril dari urusan-urusan lain selain urusan keilmuan tentu tetap penting. Terlebih saat ini banyak pesantren yang rentan untuk dijadikan amunisi politik ketika masa-masa pemilu atau pilkada.

Tetapi, melihat perkembangan wacana keislaman saat ini, agaknya perlu juga pesantren sesekali mengenalkan santri dengan hal “lain” selain urusan keilmuan semata, misalnya mengenalkan realitas wajah gerakan Islam saat ini yang sangat beragam. Para santri perlu dikenalkan dengan wajah-wajah gerakan Islam yang kelak akan dijumpai di luar pesantren. Dalam konteks ini, demi kemudahan, agaknya sering-sering mengenalkan NU sebagai wajah gerakan Islam yang pas bagi para santri adalah pilihan yang patut dipertimbangkan.

Beberapa waktu lalu saya melakukan penelitian tentang adanya alumni pondok pesantren di Jember yang terindikasi ikut gerakan Islam “radikal” di kampus. Dalam penelitian itu, saya mendapati ada beberapa orang alumni pesantren yang aktif dalam halaqah-halaqah Islam “radikal” di beberapa perguruan tinggi di Jember.

Sejak mereka terlibat aktif dalam halaqah-halaqah Islam “radikal” itu, mereka kemudian menunjukkan perubahan sikap yang cukup menonjol. Pertama, mereka mulai memakai pakaian-pakaian yang sering diidentikkan dengan Islam “radikal”, seperti cadar. Kedua, mereka mulai mengganti tradisi ngaji Yasin dengan ngaji al-Kahfi.

Ketiga, ini yang paling patut diwaspadai, mereka mulai berpandangan bahwa ajaran Islam pesantren, tempat mereka dulu belajar, itu merupakan ajaran Islam yang subhat (tidak jelas halal-haramnya). Bagi mereka ajaran Islam yang benar itu hanyalah ajaran Islam yang merujuk pada al-Quran, hadis, dan ulama salaf as-salih. Menurut mereka pesantren sudah tidak lagi murni mengajarkan Islam model ini sehingga ia layak disebut subhat.

Realitas adanya alumni pesantren yang terlibat aktif dalam halaqah-halaqah Islam “radikal” tersebut menunjukkan bahwa saat ini di pesantren juga harus membekali santri dengan hal lain selain ilmu pengetahuan murni. Hal lain itu misalnya penguatan Islam moderat. Selama di pesantren para santri harus sering-sering dianjurkan (baca: doktrin) untuk memegang teguh nilai-nilai Islam rahmatan lil alamin yang selama ini dikampanyekan oleh NU. Kalau perlu, setiap santri yang akan lulus, diberikan pembekalan khusus yang mengenalkan pentingnya pemahaman Islam yang moderat dan bahaya pemahaman Islam garis keras.

Memang, pada prinsipnya, ketika para santri terbekali secara baik dengan ilmu pengetahuan murni seperti biasanya diajarkan di pesantren sejak lama, sebenarnya para santri tidak akan mudah terpapar nalar-nalar Islam radikal. Hanya saja, kalau tidak sering-sering dianjurkan (diktrin) untuk memegang teguh nilai-nilai Islam rahmatan lil alamin, mereka yang sudah mempuni keilmuannya pun masih belum imun untuk tergelincir ke arah wacana Islam garis keras. Sudah amat banyak bukti tentang hal ini.

Responden dalam penelitian saya itu, rata-rata paling tidak sudah belajar di pesantren selama kurang lebih 3 tahun. Bahkan dalam penelitian saya yang lain, saya mendapati bahwa ada alumni pesantren yang kemampuan keilmuannya sangat mempuni, justru sekarang jadi pimpinan salah satu gerakan Islam “radikal” di Yogyakarta. Ini menunjukkan bahwa betapapun sudah berbekal keilmuan pesantren yang mempuni, tetapi kerentanan untuk “hijrah” ke gerakan-gerakan Islam radikal masih belum sirna.

Hal ini karena, gerakan-gerakan Islam radikal itu sekarang mulai sering melancarkan perekrutan dengan metode yang menyentuh dimensi-dimensi sensitif dari seseorang, seperti emosi, politik, ekonomi, hingga hobi. Sebagai contoh, salah satu responden penelitian saya itu mengatakan bahwa ia lebih tertarik untuk bergabung dengan halaqah-halaqah Islam “radikal” karena ia melihat komunitas ini begitu disiplin menerapkan ajaran-ajaran Islam. Oleh karena itu, dalam mengantisipasi ini pesantren mestinya tidak hanya mengurusi hal-hal yang berkaitan dengan ilmu pengetahuan, melainkan juga sesekali menganjurkan santri-santri untuk memegang teguh nilai-nilai Islam pesantren atau NU. Kalau perlu NU-kan santri sejak mereka masih di pesantren.

Selain itu, saat ini para aktivis gerakan Islam “radikal” tengah aktif berkampanye di media sosial. Dalam kondisi seperti itu, bukan tidak mungkin para santri akan berjumpa dengan ajaran Islam “radikal” di media sosial atau internet. Dalam beberapa kesempatan, bahkan penulis sering mendapati banyak alumni pesantren NU, tetapi dalam kesehariannya di media sosial, mereka sering mengeshare konten-konten dakwah Islam yang kontra narasi dengan Islam ala NU. Secara afiliasi keagamaan mereka masih orang NU, tetapi media sosial mereka dijejali oleh konten-konten non-NU.

Untuk itu, pesantren tidak boleh lepas tangan dan berupaya mengontrol agar para santri tidak tergelincir pada wacana Islam “radikal”. Baiknya para satri saat juga diarahkan untuk mengakses konten-konten media sosial atau internet yang ramah. Pesantren bisa menyarankan kalau perlu mewajibkan para santri untuk mengakses konten-konten internet dan media sosial resmi milik pesantren atau yang secara nyata berafiliasi dengan NU. Dengan harapan agar ketergelinciran santri pada wacana Islam radikal akan bisa diminimalisasi. [Muhammad Arif]

Leave a reply

error: Content is protected !!