Peran “Ulama” Dalam Perang Suriah dan Pelajaran Untuk Indonesia

3
12407

Oleh: Dina Y. Sulaeman, Pengamat Timur Tengah

Sangkhalifah.co — Perang di Suriah adalah perang antara pemerintah Suriah (yang dipilih melalui pemilu) melawan milisi-milisi bersenjata yang mengklaim diri “berjihad”. Milisi-milisi itu terdiri dari ratusan kelompok dan nama, dan sebagiannya sudah ditetapkan PBB sebagai teroris. Misalnya, ISIS dan Jabhah Al Nusra sudah ditetapkan sebagai teroris. Ada faksi lainnya, bernama Free Syrian Army (FSA), tidak dimasukkan dalam list teroris, tetapi aksi-aksi mereka di lapangan tidak ada bedanya dengan ISIS dan Al Nusra.

Apa bedanya teroris dengan aksi kriminal lain? Teroris melakukan pembunuhan sadis kepada rakyat sipil (atau ancaman-ancaman pembunuhan) dengan tujuan politik. Sering kali mereka tidak kenal dengan korbannya karena target asli mereka bukan si korban langsung. Target mereka adalah memunculkan ketakutan yang luas pada masyarakat yang masih hidup agar mau tunduk kepada mereka; dan memberikan tekanan kepada pemerintah agar mau menuruti kehendak politik mereka. Jadi, tujuan utama terorisme adalah melakukan perubahan politik secara radikal sesuai keinginan mereka.

Bila kita melihat perjalanan konflik Suriah sejak awal, kita akan mendapati bahwa sebagian “ulama” berperan sangat besar dalam memobilisasi massa agar mau angkat senjata melawan pemerintah. Bila kita memperhatikan kalimat-kalimat ceramah mereka, sangat dipenuhi dengan ujaran kebencian (hate speech) terhadap pemerintah Suriah. Misalnya, mari kita amati “ulama” asal Arab Saudi, Muhammad Al Arefe, yang sangat aktif menyerukan “jihad” di Suriah.

Baca: Dua Tokoh Islam Ini Sindir Kelakuan Habib Rizieq Shihab

Arefe menggunakan media sosial dengan sangat aktif. Ia memiliki lebih dari 27 juta follower di Twitter. Dia rata-rata membuat 12 tweet dan tujuh posting Facebook, ditujukan kepada jutaan anak muda di dunia. Bahkan, Arefe punya akun twitter berbahasa Indonesia. Arefe bisa dikategorikan “ustad seleb” dan diidolakan sangat banyak manusia.

Kalau dilihat sekilas, cuitan Arefe seolah baik-baik saja. Ia mengutip hadis, ayat, dan mengajarkan kebaikan. Misalnya, cuitannya 3 jam yll: “Keagungan Allah ta’ala. Dan milik Allah-lah apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi. Cukuplah Allah sebagai pemeliharanya.”

Tapi, kalau kita melihat ceramahnya terkait agama/mazhab lain, terutama terkait Suriah, barulah kita bisa melihat melihat betapa besar perannya dalam meradikalisasi anak-anak muda di berbagai penjuru dunia. Sebagian dari mereka bergabung dengan kelompok jihad di Suriah, dan sebagian lainnya tetap tinggal di negaranya masing-masing, memendam kebencian, teradikalisasi, dan menunggu ada komando untuk angkat senjata atau meledakkan bom di negerinya sendiri.

Narasi Arefe soal “jihad’ Suriah diawali dengan menceritakan bahwa Bashar Al Assad adalah “rezim yang zalim”, bekerja sama dengan Syiah (Iran) dan Rusia (ateis) lalu menyerukan kepada umat Islam untuk bergabung dengan Free Syrian Army (FSA) untuk menggulingkan “rezim yang zalim” itu. Termasuk yang dia dorong untuk bergabung dengan milisi teroris itu adalah para tentara Suriah. Dia menyitir “janji-janji Allah” untuk orang-orang yang berjuang “demi Islam”. Dia mengancam pihak-pihak yang disebutnya sesat dengan kata-kata yang mengandung kekerasan. Misalnya, “Orang yang beriman harus memenggal tangan dan kaki musuhnya dan memecahkan tengkorak mereka.”

Meskipun Arefe menyerukan jihad ke Suriah, dia sendiri tidak datang ke Suriah. Dia lebih memilih “berdakwah” ke berbagai negara. Fotonya sedang jalan santai di London (ketika perang di Suriah sedang panas-panasnya) pernah tersebar di media sosial dan dikritik oleh netizen yang paham hakikat konflik ini. Daily Mail (media Inggris) kemudian memberitakan bahwa ada 3 anak muda Inggris yang mengikuti pengajian Arefe di Cardiff (Inggris) yang kemudian bergabung dengan kelompok teror di Suriah. Menurut Daily Mail, Arefe sudah dilarang masuk ke Swiss, tapi ia tetap bisa masuk berkali-kali ke Inggris.

“Ulama” lainnya yang berperan dalam memobilisasi massa untuk “jihad” di Suriah adalah Adnan Arour, juga dari Saudi. Arour dengan terang-terangan mengatakan bahwa “orang-orang Alawi harus dicincang dan dagingnya diberikan kepada anjing.” Tokoh lainnya adalah Yusuf Al Qaradhawi yang berfatwa “wajib” hukumnya membunuh ulama, orang biasa, atau tentara yang bekerja sama dengan rezim (Assad).

Baca: Politisasi Agama Jadi Biang Aksi Intoleransi

Video-video ceramah Arefe, Arour, Qaradhawi, dan banyak lain “ulama” lainnya, tersebar sangat masif ke seluruh dunia, karena fasilitas internet. Dan sepertinya, cara bicara mereka juga diikuti oleh sebagian orang di negara kita.

Coba amati, template narasi ala Arefe akan terasa sangat familiar di Indonesia jika diganti dengan tokoh lain atau label lain. Misalnya, “Rezim ini zalim kepada umat Islam; rezim ini thoghut; rezim ini antek China; rezim ini komunis… dst.” Ancaman-ancaman berdarah dan kekerasan juga banyak kita dengar di negeri ini. Misalnya, dalam satu ceramah, seorang “ulama” mengatakan:

“Saya ingatkan, kalau pemerintah Indonesia coba-coba zolim, tentara dan polisi coba-coba jahat kepada umat Islam, bisa jadi besok tentara dan polisi yang disembelih di tengah jalan!”

Fakta ini tentu mengerikan. Tak ada satu pun pemerintahan di dunia ini yang sempurna. Kritik dari rakyat terhadap pemerintah adalah hal yang wajar dan memang perlu dilakukan. Tapi bila dilakukan dengan narasi penuh kebencian, dengan kata-kata yang memprovokasi rakyat untuk angkat senjata, lalu terjadi chaos, hasilnya adalah kehancuran 5 pilar utama yang seharusnya dilindungi negara, yaitu agama, jiwa, akal, harga diri, dan harta (ini kutipan ceramah dari Habib Ali Al Jufri). Seperti pesan Syekh Afyouni* ketika beliau datang ke Indonesia: bangsa Indonesia harus menjaga persatuan. Apapun yang terjadi, utamakan persatuan. Kalau persatuan hancur, negara hancur, ke-5 pilar itu pun ikut hancur. []

Catatan: saya memberi tanda kutip pada kata “ulama”, karena saya berpendapat, orang-orang pendukung terorisme tidak layak diberi status ulama.

*Pada 23 Oktober 2020, Syekh Al Afyouni (Mufti Suriah) gugur di bom teroris, lahumul Faatihah

3 comments

  1. Anna Johana 21 November, 2020 at 02:20 Balas

    Sangat bermanfaat sebagai pengetahuan dikaitkan dengan kejadian akhir2 ini di Indonesia.. Kepada penulis Mbak Dina Sulaeman.. Terimakasih pencerahannya.

Leave a reply

error: Content is protected !!