Peran Masyarakat dalam Disengangement

2
270

Oleh: Khafifah Indar Parawangsa (Gubernur Jawa Timur 2019-2024)

Sangkhalifah.co — Kecenderungan radikalisasi ternyata sudah merambah ke generasi muda dan akademisi, ini terbukti dengan adanya semacam “pendoktrinan bernuansa ekstremisme” yang diadakan di kampus-kampus elit di Indonesia. Sangat ironis, justru radikalisme, salah satunya muncul di tengah para akademisi dan kalangan intelektual.

Di samping fenomena itu, muncul kritikan bahwa deradikalisasi itu bukan untuk diseminarkan atau di workshop-kan. Mereka jarang mendapatkan informasi melalui forum-forum sejenis. Disini peran para kiai-kiai yang merupakan para leader di masing-masing daerahnya, komunitasnya, jamaahnya, pesantrennya dan seterusnya harus bersinergi dengan pemerintah dalam meminimalisir radikalisme.

Mereka-mereka yang eks-napi, eks-terorisme tentu akan mengalami nasib dimana sebagian ditolak untuk bekerja di suatu tempat. Mereka tidak mempunyai tempat untuk bersosialisasi. Pasca sadar dan insafnya mereka, tidak mudah juga untuk dapat menemukan komunitas yang dapat menerima mereka untuk bersama-sama membangun moderasi.

Baca: Puasa dan Misi Perdamaian

Di antara tugas dari pemerintah adalah pemetaan dalam membina warga negara yang telah kembali ke pangkuan pertiwi, khususnya dalam konteks penerimaan terhadap Pancasila dan UUD 1945. Seperti dahulu ketika saya di Kementerian Sosial, bekerjasama dengan Densus 88 dalam menangani para tersangka, semisal 11 orang keluarganya Amrozi setelah dipulangkan dari Turki.

Ketika 11 orang ini hendak dipulangkan ke Indonesia, saya menghubungi bupatinya untuk memberikan lahan karena rumahnya sudah dijual, sedangkan tugas Kemsos RI menganggarkan dana untuk bangunan rumah, meskipun tidak cukup representatif untuk keluarga yang berjumlah 11 orang tersebut. Kami terus melakukan monitoring dengan bupatinya di Ciamis, tapi keluhannya adalah keluarga Amrozi ini sangat eksklusif dan tidak bersedia bergaul dengan orang lain. Oleh sebab itu, para kiai-kiai harus turun agar bisa membina mereka, dari eksklusif menjadi inklusif.

Juga seperti eks-Gavatar dalam kategori ideologi yang kuatnya luar biasa. Saat itu, kami meminta polisi untuk mendampingi seorang anak perempuan umur 22 tahun yang sangat ideolog ke Jakarta untuk bertemu dengan saya. Anak Bangka ini akan dijadikan sebagai calon menteri pendidikan apabila Gavatar sudah berhasil membangun sistem khilâfah. Selaku Menteri Sosial kala itu, saya mengkomunikasikan hal-hal tersebut dengan salah satu pejabat, selaku yang memiliki kader anak perempuan tersebut; Ketua organisasi ekstra kampus di salah satu kampus di Sumatera Utara menjadi komandan Gavatar. Pribadinya yang menjadi tokoh, magister juga kaya. Mereka-mereka itu berawal dari tahapan pertama berupa hijrah, tahapan peperangan, sedangkan tahapan berikutnya adalah futūḥ (kemenangan).

Baca: Khilafah Yang Tak Dirindukan Umat

Kasus-kasus di atas menjadikan kita bersama dalam memetakan radikalisme dan terorisme harus lebih serius lagi, karena dengan hal ini, kita bisa mengetahui ranah intervensi dari bentuk radikalisme tersebut secara terukur; apakah ranah pembunuhan atau pencucian otak?

Karena paham tersebut, ujung-ujungnya juga bisa berani melakukan pembunuhan terhadap orang “yang tidak sepaham dan yang tidak mau mengikutinya”. Para pengikut Gavatar menganggap bahwa mengambil isteri orang, mengambil anak orang bukan termasuk perbuatan tercela, tapi itu adalah pilihan hidup. Sedangkan orang-orang di luar mereka, harus diperangi meskipun orang tuanya sendiri. Mereka seperti itu terorganisir. Ada yang bagian ideolog (leader); operator, yakni para pengikut yang bagian menjual harta bendanya semisal rumah; dan ada followers yang dianggap relatif mudah untuk direhabilitasi.

Kondisi para pengikut Gavatar sangat eksklusif, sehingga pada saat MUI menginterogasi mereka terkait ketika melahirkan, belajarnya anak-anaknya karena jauh dari perkampungannya, belajar anak-anaknya bagaimana apabila tidak ada listrik, makanan yang dikonsumsinya dan seterusnya.

Baca: Teror Kata Berkedok “Janji Allah”

Semua ini dijawab dengan mudah oleh para pengikut Gavatar bahwa terkait melahirkan, kita mempunyai dokter; terkait belajarnya anak-anak kita mempunyai guru; terkait tidak ada penerangan kita mampu membuat listrik; terkait makanan kita sudah menyiapkan makanan dan seterusnya. Bahkan untuk memperbanyak para pengikut, Gavatar mempunyai program memperbanyak anak setiap dua tahun sekali.

Di samping itu, Gavatar juga memiliki kualifikasi perekrutan orang-orang yang dapat memenuhi aspek-aspek yang menjadi kebutuhan mereka. Pada saat MUI berceramah seputar rukun iman dan rukun Islam, justru MUI dijawab oleh mereka bahwa shalat itu masing-masing tergantung niatannya.

Oleh karena itu, pemetaannya harus lebih detail semisal adanya pengelompokan terhadap orang-oang yang sudah dilepas oleh Densus; Lapas A, Lapas B terkait dengan kasus radikalisme atau terorisme, kemudian kementerian lain saling bersinergi dan ikut serta mengambil bagian, utamanya men-support dengan memberikan bantuan ekonomi produktif. Pemetaan berikutnya yaitu pemetaan pasca mereka kembali dari rehabilitasi atau hukuman yang sudah dijalaninya. Tapi kendala seperti Kementerian Sosial umumnya adalah tidak semua informasi dapat tersambung.

Selain mereka yang terindikasi radikal, di masyarakat ada pula yang kerap dijauhi, yakni PSK. Disamping PSK tidak menyukai dirinya dikenali oleh orang lain, sehingga pendekatan harus seperti pendekatan seorang mursyid. Dulu ada kisah memilukan yang menimpa seorang perempuan, yang masih berumur 14 tahun dinikahkan oleh orang Kalimantan untuk dijadikan sebagai isteri keduanya.

Baca: Moderasi Berbasis Pancasila

Berdasarkan pengakuannya, dirinya disiksa setiap hari, sehingga pada suatu ketika dia terpaksa melarikan diri dari rumah suaminya di Kalimantan. Pada saat tiba di Tanjung Priok, wanita ini diperkosa oleh tujuh Anak Buah Kapal (ABK) secara bergiliran. Kemudian wanita ini dimasukkan ke tempat PSK selama enam bulan untuk diperdagangkan oleh para lelaki hidung belang. Kemudian berhasil melarikan diri ke Jakarta, tapi berhasil ditangkap lagi oleh mucikarinya dan dimasukkan kembali ke Keramat Tunggak.

Untuk contoh seperti ini, yang merupakan korban perdagangan orang tentunya banyak. Para mucikari biasanya melakukan rotasi dari satu lokalisasi ke lokalisasi lainnya setiap enam bulan sekali sebagai strategi untuk menarik minat laki-laki hidung belang supaya terkesan ada PSK pendatang baru. Bahkan ada sistem rotasi sekarang adalah dua kali dalam seminggu.

Artinya, PSK tidak semuanya atas kemauannya sendiri, betapa sadisnya perdagangan orang. Apakah ini bukan teror bagi perempuan? Dalam hal, tentu betul sabda Nabi Muhammad SAW, yaitu: kefakiran hampir menjadikan pada kekufuran. Di samping bukan sebab kemauannya, ada juga yang menjadikan hal tersebut pekerjaan, karena salah satu faktornya adalah ekonomi.

Apabila pemetaan terorisme dan orang-orang yang rentan di masyarakat ini mau diperluas lagi, maka tidak hanya berkutat pada ranah ideologi saja, tapi pada ranah ekonomi dengan adanya mafia pajak, ranah sosial seperti perdagangan orang, NAPZA dan lain-lain. Terdapat hal yang terkait dengan tatanan kenegaraan dan juga terdapat hal yang terkait dengan tatanan keumatan. Tatanan keumatan apabila tidak mendapatkan perhatian, tentu akan membuat negara menjadi rapuh, karena yang dirusak mereka adalah konstruksi otaknya.

Harapan saya kedepannya, para kiai-kiai, dai-dai milenial dan pemerintah terus bersinergi dalam upaya meminimalisir gerakan radikalisme, terorisme dan ekstrimisme di Indonesia. Lebih dari itu, kita saling bergandengan tangan dalam mendampingi mereka-mereka yang rentan di masyarakat, sebab pekerjaan dan aktivitas yang mereka lakukan. []

2 comments

Leave a reply

error: Content is protected !!