Peran Keluarga Dalam Menangkal Radikalisme dan Ekstremisme

4
543

Sangkhalifah.co — Berdasarkan hasil survei nasional PPIM UIN Syarif Hidayatullah (2017) yang menunjukkan bahwa internet berpengaruh besar terhadap meningkatnya intoleransi pada generasi milenial. Dalam catatannya, siswa dan mahasiswa yang tidak memiliki akses internet lebih memiliki sikap moderat dibandingkan mereka yang memiliki akses internet. Padahal, mereka yang memiliki internet sangat besar yaitu, sebanyak 84,94% sisanya 15,06% siswa/mahasiswa tidak memiliki internet.

Data tersebut menunjukkan bahwa, pada tahun 2017 kemarin generasi milenial lebih cenderung mengandalkan internet dalam melakukan interaksi sosialnya termasuk sebagai sumber belajar agama. Tercatat, ada sebanyak 54,37% siswa dan mahasiswa belajar pengetahuan tentang agama dari internet, baik itu media sosial, blog, maupun website. Angka ini tentu akan terus meningkat di sepanjang era disrupsi dan di tengah berlangsungnya pandemi korona – apabila tidak segera ditemukan vaksinnya.

Era disrupsi itu sendiri secara umum dipahami sebagai fenomena ketika masyarakat mengubah aktifitas-aktifitas yang lazim dilakukan di dunia nyata namun sekarang bisa dilakukan di dunia maya. Selain itu, revolusi digital juga mempengaruhi pola membaca masyarakat. Tak ayal, apabila masyarakat cenderung menyukai judul berita yang bersifat provokatif dan heboh dibandingkan dengan berita yang moderat. Pendeknya, radikalisme akan sulit ditangkal apabila masyarakat kerap menyukai dan mempercayai isi berita yang provokatif dan hoaks.

Fenomena tersebut diperburuk oleh adanya pandemi virus korona yang semakin sulit diprediksi kapan berakhirnya. Fakta menunjukkan bahwa sejak korona masuk ke Indonesia pada bulan Maret kemarin maka kegiatan-kegiatan dilakukan di rumah termasuk kegiatan belajar mengajar (KBM). KBM pun turut dilakukan dengan cara daring (atau mengandalkan basis internet). Dengan menggunakan basis internet sebagai media utama dalam KBM maka tak dapat dihindari bahwa konten-konten provokatif sedikit banyak bertebaran di smartphone para siswa dan mahasiswa. Tentu ini merupakan sebuah warning.

Hemat penulis, kompleksitas kehidupan keagamaan saat ini mengalami tantangan yang sangat besar dan berbeda dengan masa-masa sebelum era disrupsi masuk di dunia ketiga ini dan kemudian diperparah dengan hadirnya korona yang turut memaksa masyarakat mau atau tidak, menggunakan internet sebagai basis utama dalam melakukan interaksi sosial. Akhirnya, era disrupsi dengan segudang fasilitasnya telah memanjakan kita.

Menurut Lukman Hakim Saifuddin (2019), dengan fasilitas internet dan sosial media (sosmed), generasi milenial cenderung tidak menganggap otoritas agama (kiai, ustadz dan guru agama) sebagai bagian penting dari kehidupan sehari­hari mereka. Berbeda dengan generasi sebelumnya, yang sering fokus pada kebutuhan individu dan sangat kritis terhadap nilai­nilai dan keagamaan tradisional. Mereka telah diajarkan untuk mempertanyakan otoritas keagamaan ketika cita­cita moral dipertaruhkan. Akibatnya, mereka menjadi lebih mandiri dan berkonsultasi dengan berbagai sumber untuk bimbingan agama mereka. Seringkali kita menyaksikan penjelasan obyektif sebuah keyakinan keagamaan dikalahkan oleh pilihan­pilihan personal yang diperolehnya dari sumber­sumber yang tidak otoritatif.

Lebih lanjut, Lukman Hakim menjelaskan, konten­konten keagamaan yang radikal dan ekstrem menjadi mudah dikonsumsi tanpa ada konsultasi dengan otoritas­otoritas keagamaan tradisional yang ada. Akibatnya, pemikiran keagamaan sebagian kelompok milenial cenderung radikal dan ekstrem. Kondisi dimana sumber kebenaran tidak lagi tunggal, tapi beragam, bahkan dianggap tidak penting, disebut juga dengan pasca kebenaran atau post-truth, sebuah kondisi yang menggambarkan era kita saat ini, yakni ketika situasi fakta obyektif lebih sedikit pengaruhnya dibanding hal­hal yang mempengaruhi emosi dan kepercayaan personal dalam pembentukan opini publik.

Itulah sebabnya, Noorhaidi Hasan mengatakan (2020), era disrupsi ini tidak hanya membawa kemaslahatan bagi kita melainkan era yang ditandai oleh teknologi digitalisasi pada akhirnya menjungkirbalikkan peran tokoh ulama atau kiai pesantren. Menurutnya, era inilah yang disinyalir membantu tumbuh-kembangnya radikaslisme dan ekstrimisme di jagat maya ini. Maka, jangan heran apabila radikaslisme dan ekstrimisme dalam beragama begitu kuat di sepanjang era disrupsi.

Oleh karena itu, kebutuhan masyarakat akan pemahaman agama yang baik dan benar juga dibutuhkan pada era disrupsi sekarang ini dan lebih-lebih di tengah berlangsungnya pandemi. Karena agama menempati posisi dan peran kuat dalam kehidupan masyarakat Indonesia yang multi agama, pelaksanaannya dalam kehidupan publik harus taat pada konsititusi.

Dalam konteks pandemi, peran pemerintah dalam upaya membentengi warga negaranya dari serangan radikalisme dan ekstrimisme sangatlah terbatas. Pasalnya, semua alat negara (mulai dari aparat desa hingga pusat) juga memiliki kekhawatiran yang sama yakni, bagaimana menjaga diri dan keluarganya dalam membentengi diri dari radikalisme dan ekstrimisme. Di samping, pemerintah tertatih-tatih dalam melawan badai pandemi covid-19 ini.   Maka, pada titik inilah peran keluarga itu dibutuhkan.

Dalam rangka menjaga generasi milenial (atau generasi penerus bangsa) terhindar dari kebiasaan mengkonsumsi konten-konten yang provokatif dan perangruh “ustaz dadakan” maka mengawasi dan membatasi ruang akses putra-putrinya dalam menggunakan akses internet merupakan suatu kewajiban. Baik kewajiban sebagai orang tua terhadap anaknya maupun kewajiban sebagai warga negara terhadap kesetiaannya pada NKRI. Karena NKRI itu harga mati. []

*Saiful Bari, Alumnus Ilmu Hukum Fakultas Syari’ah dan Hukum UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

4 comments

Leave a reply

error: Content is protected !!