Peran Islam Moderat dalam Menangkal Radikalisme

0
63

Sangkhalifah.co — Meskipun kondisi pandemi Covid-19 sedang menghantui bumi, namun aktivitas gerakan radikal terus menguat. Menteri Politik dan Hukum dan HAM Mahfud MD di dalam pertemuan The 3rd Sub-Region Meeting on Counter Terrorism and Trannational Security (SRM on CTTS) menyebut, meski kondisi pandemi terjadi di belahan dunia, termasuk di Indonesia, namun tidak mengurangi aktivitas gerakan radikal dan teror.

Pada awal tahun 2021 Densus 88 juga telah menggerebek rumah di salah satu Villa di Makassar yang diduga sebagai teroris. Dua orang ditangkap karena diduga merupakan Anggota teroris Jama’ah Anshor ad-Daulah (JAD). Sebelumnya, pada Desember 2020, Polisi Indonesia juga berhasil menemukan sasana bela diri di Ungaran, Semarang, yang menjadi kegiatan aksi terorisme oleh kelompok teroris Jama’ah Islamiyah (JI). Dan tentu saja deretan-deretan aksi teror lain yang tak perlu disebut secara keseluruhan di artikel pendek ini.

Syahrin Harahap menyebut secara umum gerakan radikalis teroris terbagi atas dua kubu. Kubu pertama, mereka yang memang memiliki tindakan kekerasan, mereka militan dalam upaya mengatasnamaan Islam untuk gerakannya, seperti JAD, JI, ISIS, Hizbut Tahrir, dan lainnya. Dan kubu kedua, mereka yang pada dasarnya tidak keras dan militan namun memiliki potensi untuk melakukan kekerasan dan radikalisme, seperti Wahabi, FPI, dan Ikhwan Al-Muslimun.

Sedangkan ciri-ciri gerakan radikal, ia menyebut ada 10 ciri, yaitu: tekstualis dalam memahami teks, ekstrim dan kaku, ekslusif, semangat mengoreksi orang lain, membenarkan kekerasan, memiliki hubungan dengan gerakan luar negeri, konstruksi musuh yang tidak jelas, melakukan kekerasan tanpa melihat siapa yang salah, semangat membahas negara agama, dan memiliki keyakinan tauhidiyyah hakimiyyah.

Sedangkan Aksin Wijaya menyontohkan tindakan tekstualis radikal kelompok radikal dalam membaca teks. Misalnya saat menafsirkan ayat yang artinya, “Barang siapa yang tidak berhukum dengan Allah maka ia dihukumi kafir” (Al-Maidah: 44). Kelompok radikal, kata Aksin, memahami hukum Allah adalah produk hukum selain yang tertulis dalam teks Al-Quran dan Hadis. Sebab hanya yang ada dalam keduanya yang dianggap syariat, selain itu adalah hukum taghut.

Dalam hal ini mereka mengklaim UUD dan Pancasila dianggap hukum taghut dan yang meyakininya dianggap kafir. Padahal, sebab turunnya ayat di atas bukan soal hukum Islam. Ibn ‘Ashur dalam Tafsir At-Tahrir wa At-Tanwir menyebutkan bahwa ayat di atas tentang kebiasaan kaum Yahudi yang lebih mementingkan ego pribadi dibanding hukum dalam Taurat. Ayat di atas tidak berbicara soal hukum syariat Islam, tapi tentang Taurat.

Era pandemi satu sisi membuat kaum radikal teroris gencar melakukan penyebaran ideologi dan penyesatan di media sosial, namun gerakan Islam moderat terus berupaya mengimbanginya. Gerakan radikal di era pandemi terus mengkampanyekan ideologinya. Misalnya akun Facebook “Fatimah Syed Azhar” pada 17 Februari 2021, ia mengkampanyekan syariat Islam versi Hizbut Tahrir.

Menurutnya, khilafah pasti akan tegak sehingga umat perlu mempersiapkan diri, mendukung apa yang digagas Hizbut Tahrir. Akun Facebook “Fer” pada 23 Juli 2020 juga menyesatkan banyak orang dengan mengatakan bahwa ilmu-ilmu seperti Kimia, Astrologi, Falak, dan lainnya tidak akan ada jika bukan karena khilafah. Padahal, kita tahu bahwa ilmu-ilmu itu lahir bukan oleh khilafah, tetapi oleh tokoh-tokoh Islam, seperti Al-Khawarizmi, Al-Ghazali, Al-Haitami, dan selainnya.

Meski demikian kita patut bersyukur, karena di era pandemi ini gerakan kelompok Islam moderat terus mengimbangi permainan gerakan radikal di media sosial. Pengajian dan kajian tentang Islam yang selama ini jarang bisa ditemui di jagat medsos, dan hanya bisa ditemukan di pesantren-pesantren, rumah-rumah kiai, dan tempat-tempat pengajian yang terpencil, kini semua itu dapat dilakukan dan ditonton melalui media sosial seperti Facebook, YouTube, Instagram, dan Podcast.

Pada akun Facebook “Kyaiku.com” misalnya, setiap hari meng-upload pengajian dan podcast ceramah dan gagasan-gagasan Kiai yang memiliki pemahaman agama yang moderat, santun, dan kontra-naratif terhadap gerakan radikal. Atau “Ceramah Kyai NU” juga menampilkan ceramah-ceramah Kiai NU yang mengampanyekan Islam rahmatan lil ‘Alamin.

Selain dua akun medsos di atas, masih banyak lagi akun-akun Islami yang menampilkan ceramah dan kampanye Islam yang ramah. Seperti Persyarikatan Muhammadiyah, Islam Ramah, Sangkhalifah, Islamidotco, yang dengan artikel-artikel keislamannya mengimbangi dan memberi kontribusi kontranarasi atas gerakan radikal yang hendak meracuni masyarakat melalui media-media mereka. Kegiatan ini penting untuk terus dijalankan, bahkan hingga ketika nanti pandemi telah berakhir. Islam radikal tidak memiliki btempat di dunia nyata, sehingga mereka terus menerus mengkampanyekan ideologi sesatnya melalui media sosial kepada orang-orang awam.

Era pandemi tidak hanya dihadapkan dengan masalah kesehatan, tetapi juga dampak-dampak sosial kemasyarakatan yang cukup menyeruak. Munculnya gerakan radikal yang berusaha memprovokasi masyarakat agar tidak lagi meyakini pemerintah menjadi salah satu dampak adanya pandemi. Tidak hanya Virus Corona yang harus dibasmi, virus radikalisme juga perlu ditindak.

Salah satu cara efektifnya di masa pandemi ini ialah dengan memberikan vaksi Islam rahmatan lil ‘alamin oleh kelompok-kelompok Islam moderat di media-media sosial. Setiap orang memiliki peran penting bukan saja dalam mencegah penularan Covid-19, tetapi juga dalam usaha menolak gerakan radikal yang dijual murah di media-media sosial gerakan radikal tanpa didasari rasa tanggung jawab. []

Leave a reply

error: Content is protected !!