Penyebab Ekstremisme Beragama Menurut Yusuf Qardhawi

3
760

Sangkhalifah.co — Kejahatan terorisme, kerap kali bermula dari pemahaman agama yang berlebihan (ekstrem). Pemahaman ekstrem ini sering bertumpu pada pengetahuan agama yang lemah, dangkal, dan tidak seimbang. Sehingga yang muncul adalah sikap dan perilaku intoleran, anarkis, dan hal-hal yang merusak kehidupan.

Agama yang dipahami dengan benar dan bijak tak akan menghasilkan tindakan-tindakan kejahatan tersebut. Sebab, agama pada dasarnya justru merupakan penuntun umat manusia menuju kehidupan yang lebih baik dan harmonis. Bagi umat Islam, agama (Islam) adalah rahmat bagi semesta dan bertujuan untuk menciptakan kemaslahatan hidup bersama. Agama menjadi penuntun bagi manusia agar bisa selamat di dunia dan akhirat.

Jadi persoalannya adalah, bagaimana kita memahami ajaran agama? Mengapa orang bisa bersikap ekstrem dalam beragama dan menciptakan kerusakan dan kejahatan? Menjawab pertanyaan tersebut, menarik menyimak pandangan Yusuf Qardhawi, seorang ulama yang sangat disegani di dunia Muslim.

Menurut Yusuf Qardhawi,  fenomena ekstremisme beragama itu kompleks dan rumit.  Sebab-sebab dari sikap ekstrem bisa bermacam-macam, saling bertautan, dan saling menunjang. Sebab-sebab itu ada yang bersifat keagamaan, politis, ekonomis, sosial, psikologis, rasional, gabungan dari semua itu, dan sebagainya.

Di dalam buku berjudul Islam Jalan Tengah: Menjauhi Sikap Berlebihan dalam Beragama (Mizan: 2017) terjemahan dari Al-Shahwah Al-Islamiyah bain Al-Juhud wa At-Tatharruf (Al Ummah: 1402H), Yusuf Qardhawi memaparkan  faktor-faktor penyebab munculnya ekstremisme beragama, yakni:

Pertama, lemahnya pandangan terhadap hakikat agama. Mereka memiliki sedikit pengetahuan tentang fiqih serta kurang dalamnya penyelaman rahasia-rahasianya dan tujuannya. Pengetahuan setengah-setengah tersebut membuat mereka merasa telah masuk dalam golongan yang berpengetahuan sempurna, padahal banyak—bahkan sangat banyak—yang belum diketahuinya.

Yusuf Qardhawi mengutip Abu Ishaq Al-Syatibi dalam kitabnya ‘Al-I’tisham jilid. II h. 173: “Sebenarnya yang menjadi peyebab utama timbulnya pengada-adaan, serta perselisihan buruk yang mengakibatkan perpecahan umat menjadi bergolongan-golongan dan bermusuh-musuhan adalah anggapan seseorang tentang dirinya, sebagai termasuk di antara ahli ilmu dan ijtihad dalam agama, padahal dia belum sampai pada derajat itu. Lalu mulailah ia bertindak berdasarkan anggapan tersebut, dengan menjadikan pendapatnya sebagai pendapat yang harus diikuti……”

Kedua, kecenderungan Dhahiri dalam memahami nash-nash (secara Harfiah). Orang-orang yang berpegang pada nash-nash secara harfiah tanpa mendalami maksud dan kandungan serta tujuannya ini, menurut Yusuf Qardhawi, hendak kembali pada aliran Dhahiri: aliran yang menolak mempertimbangkan alasan, motivasi, dan latarbelakang hukum.

Mereka menyamaratakan antara adat dan ibadah dalam satu rangkaian, sehingga mengikutinya begitu saja tanpa menyelidiki sebab dan alasan yang tersembunyi di balik hukum yang diketahui. Padahal, menurut Yusuf Qardhawi, apabila kita tidak mengembalikan hukum-hukum kepada alasannya (motivasinya), kita akan terjerumus dalam berbagai kontradiksi: yakni memisahkan antara hal-hal yang sama dan menyamakan antara hal-hal yang berbeda. Dan itu bukan keadilan yang, atas dasarnya, syariat Allah ditegakkan.

Ketiga, sibuk mempertentangkan hal-hal sampingan seraya melupakan problem-problem pokok. Yusuf Qardhawi melihat ini sebagai tanda-tanda tidak adanya keteguhan dalam ilmu pengetahuan dan lemahnya kesadaran keagamaan. Yakni kesibukan dalam masalah-masalah sampingan dan cabang (furu’) syariat dan mengabaikan pokok utama yang berkaitan erat dengan eksistensi dan esensi umat serta nasib mereka.

Yusuf Qardhawi melihat kelompok ini gemar membuat keributan berkepanjangan tantang soal-soal kurang penting: mencukur janggut sepenuhnya atau sebagian, menjulurkan kain, menggerakkan jari dalam tasyahhud, memiliki gambar-gambar fotografi, dll. Padahal itu soal-soal ijtihadiah, ajang perselisihan mazhab-mazhab dan aliran-aliran sepanjang masa, yang mustahil dapat disepakati manusia secara keseluruhan. Yang lebih penting adalah mengerahkan segenap perhatian pada hal-hal yang akan memelihara kaum Muslim untuk tetap pada akidahnya yang pokok, melaksanakan hal-hal wajib, dan menghindarkan dari mengerjakan dosa-dosa besar.

Keempat, berlebih-lebihan dalam mengharamkan. Menurut Yusuf Qardhawi, di antara tanda-tanda kedangkalan pemahaman agama adalah senantiasa condong pada penyempitan, penyulitan, dan berlebih-lebihan dalam mengharamkan sesuatu dan memperluas lingkarang-lingkaran hal yang diharamkan. Al Quran, Sunnah, dan para salaf melarang sikap demikian.

Firman Allah Swt. “Janganlah kamu mengatakan secara dusta: ‘ini halal’ dan ‘ini haram’; untuk mengada-adakan kebohongan terhadap Allah. Sesungguhnya orang yang mengada-adakan kebohongan terhadap Allah tidak akan beruntung” (QS. Al –Nahl [16]; 116)

Para salaf tidak menyatakan haramnya sesuatu, kecuali telah diketahui haramnya secara pasti. Apabila masih belum bisa dipastikan haramnya, mereka berkata: “Kami tidak menyukai itu”, atau “Kami tidak berpendapat demikian”, dan tidak memastikan bahwa sesuatu itu haram.  Namun, orang-orang yang berlebihan akan segera mengharamkan. Jika dalam fikih ada dua pendapat, yakni mubah dan makruh, mereka teguh pada yang makruh. Jika salah satunya memudahkan dan lainnya menyulitkan, mereka memilih yang menyulitkan dan menyempitkan.

Jika kita berbaik sangka, mungkin mereka bermaksud berhati-hati. Mereka selalu bersama sikap keras Abdullah bin Umar dan tak pernah bersesuaian dengan keringanan-keringanan yang dikemukakann Abdullah bin Abbas. Tapi, menurut Yusuf Qardhawi, kebanyakan yang menjadikan mereka seperti itu adalah ketidaktahuan mereka akan adanya pendapat lain yang membawa keringanan dan kemudahan.

Kelima, lemahnya pengetahuan tentang sejarah, kenyataan, serta sunnah-sunnah Allah Swt. kepada makhluk-Nya. Bahwa manusia diciptakan berbeda-beda, baik secara fisik, identitas, suku, agama maupun dalam hal pemikiran. Itu sudah sunnatullah yang tak mungkin kita ubah, namun harus menjadi pelajaran dan hikmah.

Lemahnya kesadaran tentang itu semua, jelas Yusuf Al Qardhawi, membuat orang-orang yang berlebihan dalam beragama ini menghendaki apa yang tidak mungkin terwujud. Seperti ingin mengubah masyarakat secara total; pikiran-pikirannya, perasaannya, tradisi-tradisinya, akhlaknya, dan sistem-sistemnya: sosial politik ekonomi, dengan pranata-pranata dan cara-cara khayali.

Selain beberapa faktor tersebut, masih ada beberapa hal lain yang juga bisa menjadi penyebab ekstremisme beragama. Di antaranya mengikuti yang tersamar (mutasyabihat) dan meninggalkan yang jelas (muhkamat), hingga pemahaman keliru terhadap beberapa pengertian, seperti soal iman, Islam, kafir, dsb.

Menggali faktor-faktor penyebab sikap berlebihan dalam beragama menjadi penting, guna mencari dan menemukan cara-cara yang bisa diupayakan bersama untuk menangkal atau mengobatinya secara tepat. Ibarat melakukan pemeriksaan, jika kita bisa mengidentifikasi suatu penyakit, kita bisa menentukan obat apa yang paling cocok beserta dosisnya.

Ketika kita tahu dan mengenal penyebab orang-orang menjadi ekstrem dalam beragama, selain menjadi bahan refleksi bagi diri sendiri, hal itu juga menjadi pelajaran bersama bagi kita untuk lebih peka dengan lingkungan. Terutama untuk lebih hati-hati dan waspada terhadap segala bentuk tanda-tanda pengaruh paham radikal kelompok ekstremisme agama tersebut. []

*Al-Mahfud, lulusan STAIN Kudus

3 comments

Leave a reply

error: Content is protected !!