Pengamat Teroris Diharap Tidak Menciptakan Ketakutan di Masyarakat

0
197

Sangkhalifah.co — Pengamat terorisme dari Universitas Indonesia (UI) Ridlwan Habib menilai penangkapan terduga teroris Abu Rusydan bisa memicu aksi balasan. Pandangan ini menurut Makmun Rasyid dinilai bukan menciptakan ketenangan di masyarakat, melainkan menciptakan ketegangan atau ketakutan berlebihan di masyarakat.

“Seorang pengamat tentunya dalam melontarkan pernyataan harus berlandaskan data yang kokoh dan penelitian yang mendalam. Jangan lagi pengamat sekedar berbicara di media berdasarkan asumsi yang belum teruji keakuratan dan validitas informasinya. Lebih-lebih hanya berasumsi terhadap sebuah penangkapan oleh Densus 88 yang sangat tidak bijaksana di tengah situasi saat ini,” ungkapnya.

Sikap tersebut berkenaan dengan pernyataan dari pengamat teroris Universitas Indonesia Ridlwan Habib soal penangkapan Abu Rusydan yang dinilai figur yang sangat terkenal di kelompoknya dan banyak memiliki pengikut secara online, yang selama ini bisa memicu lone wolf.

Specialist Counter Narrative dari Nordic Counter Terrorism Network (Nordic) ini mengatakan bahwa pernyataan seperti yang dilontarkan Ridlwan Habib sangat mengganggu stabilitas nasional. Karena akan menjadi rujukan di masyarakat yang awam terhadap dunia radikalisme dan terorisme.

“Dalam kondisi pandemi Covid-19, para pengamat dan aktivis kontra narasi dalam melihat ragam kejadian penangkapan oleh Densus 88 sebagai sesuatu yang baik dan penting. Jangan ada asumsi yang bisa menciptakan ketakutan di masyarakat atau narasi Densus 88 menangkap orang yang ingin beribadah,” tambahnya.

Makmun juga mengingatkan bahwa segala sesuatu yang dilakukan Densus 88 berdasarkan data yang valid, tidak mengenal identitas keagamaan seseorang atau afiliasinya apa. Selama seseorang berpotensi menciptakan instabilitas atau terafiliasi dengan kelompok teroris, maka Densus 88 memiliki kewenangan untuk menindak atau mencegah pergerakan seseorang.

“Terkadang narasi di media sosial yang diberitakan media-media tidak berdasarkan data melainkan rating semata. Akhirnya fakta yang seharusnya diberitakan di-skip namun yang tidak urgen diberitakan demi rating dan viewers. Densus 88 selama ini menangkap terduga teroris bukan menangkap imam masjid melainkan oknum-oknum yang sedang membajak agamanya sendiri untuk kepentingan kelompok yang diikutinya,” ujarnya.

Lebih lanjut, Makmun mengatakan, memang ada godaan tersendiri yang lahir dari jiwa para pengamat dalam mengamati eskalasi di lapangan.

“Ada semacam jika tidak bersikap akan dianggap kurang layak jadi pengamat atau aktivis. Padahal, ketika menobatkan diri sebagai pengamat atau aktivis yang diutamakan adalah data lapangan bukan sekedar berbicara sembarangan, yang dampak nantinya akan berpengaruh di masyarakat. Siapa yang rugi? bukan sekedar pengamat, tapi khalayak umum,” tutupnya. []

Leave a reply

error: Content is protected !!