Pengakuan Fitria Sanjaya, Bikin Yayasan Amal Raup 28 Miliar Setahun

2
311

Sangkhalifah.co — Tim Densus 88 Antiteror Mabes Polri hingga kini telah meringkus 24 orang yang berkaitan dengan pendanaan jaringan teroris Jamaah Islamiyah (JI). Satu di antara ke-24 orang itu bernama Fitria Sanjaya. Dia merupakan bagian dari  Yayasan Baitul Mal Abdurrahman bin Auf (Laz BM ABA). Yayasan ini bertugas dalam pendanaan yang mampu merengkuh dana Rp 28 miliiar per tahun dari berbagai sumbangan.

Menurutnya, dana tersebut untuk membiayai seluruh aktivitas organisasi Jamaah Islamiyah (JI). Dalam pengakuannya juga, Fitria Sanjaya yang merupakan salah satu pimpinan Yayasan BM ABA. Fitria juga mengakui bahwa Farid Okbah yang ditangkap di Bekasi, Jawa Barat, beberapa waktu lalu adalah salah satu petinggi lembaga itu.

“Pada tahun 2014 sebagai contoh, yang harus disetor ke jamaah Islamiyah (ditargetkan) 500 juta, ternyata saya mampu 50 juta, tahun selanjutnya hanya mampu 150 juta. Mereka para dewan Yayasan Majelis ABA melihat kita dari hasil kuota yang disetorkan,” papar Fitria Sanjaya.

Meski begitu, kata dia, jumlah secara total dari pelbagai kotak amal dan yayasan yang terafiliasi dengan yayasan ini mencapai jumlah fantastis.

“Tapi secara keseluruhan meningkat, pernah total sampai Rp 28 miliar dalam setahun, terjadi tahun 2019. Waktu itu kami saja setor Rp 480 juta,” paparnya.

Adapun dalam operasi penangkapan terakhir di Bekasi, Jawa Barat, Densus 88 menangkap petinggi Lembaga Amal Zakat Baitul Maal Abdurrahman Bin Auf setelah sebelumnya telah menangkap Farid Okbah dan Ahmad Zain An-Najah.

Yayasan amal milik Jamaah Islamiyah diketahui bisa mendapat Rp 14 miliar per tahun secara rata-rata dan terus meningkat hingga pernah mencapai Rp 28 niliar pada tahun 2019 lalu. Fitria Sanjaya sendiri ditangkap pada 2020 oleh Densus 88. Pengakuan dari Fitria Sanjaya ini mengafirmasi dugaan aliran pendanaan kelompok JI.

Sementara dalam keterangan persnya, Kepala Bagian Bantuan Operasi (Kabagbanops) Densus 88 Antiteror Polri Kombes Aswin Siregar mengatakan, pihaknya menemukan sejumlah bukti besaran uang yang digunakan kelompok ini.

“Ada yang bilang (keterangan tersangka) bisa sampai Rp70 miliar setahun sebenarnya (keuntungan). Tapi kami tidak punya bukti itu dalam konteks pemeriksaan laporan begitu,” katanya kepada wartawan, Jakarta, Jumat (26/11/2021).

Kepala Bagian Bantuan Operasi Detasemen Khusus (Densus) 88 Polri Kombes Pol Aswin Siregar menyebut seluruh aktivitas teroris terlaksana jika ada pihak yang terlibat sebagai donatur atau pendanaan dalam organisasi tersebut seperti halnya Jamaah Islamiyah (JI).

“Kami jelaskan, bahwa pendanaan teroris adalah nafas dan darahnya, hidup matinya kelompok teror,” kata Aswin dalam konferensi pers di Gedung Divisi Humas Mabes Polri.

Tak hanya di Indonesia, kata dia, pendanaan juga menjadi faktor utama keberlangsungan organisasi terorisme di negara lain. Kata Aswin, untuk bisa mendapatkan sumber dana beberapa kelompok terorisme melakukan berbagai usaha.

“Ini memang bukan cuma di kita, seluruh dunia, kelompok-kelompok ini berusaha untuk terus mendapatkan sumber dana darimana pun,” tutupnya. []

2 comments

Leave a reply

error: Content is protected !!