Pendiri NII Crisis Center: Di Indonesia, Kelompok Radikal Kembali Bergerak

0
167

Sangkhalifah.co — Pendiri Negara Islam Indonesia (NII) Crisis Center Ken Setiawan menyebut bahwa saat ini, kelompok radikal mulai bergerak lagi di beberapa daerah di Indonesia. Salah satu pemicunya adalah tindakan Presiden Prancis Emmanuel Macron yang dinilai menghina Islam.

Padahal menurutnya, Presiden Prancis telah resah terhadap kiprah para imam ‘impor’ datang dari negara-negara luar Prancis yang cenderung membawa wajah Islam radikal.

“Banyak oknum kelompok radikal yang mengatasnamakan Islam dan itu membuat Emmanuel Macron resah,” ungkap Ken kepada wartawan Sang Khalifah, Minggu (15/11).

Ia melanjutkan, pasca penyerangan terhadap warga di dekat kantor redaksi Charlie Hebdo pada 25 September 2020 lalu, Imam Besar Masjid Agung Paris Chems-eddine Hafiz dan para pengurus Dewan Masjid Prancis menemui Presiden Emmanuel Macron di Istana Elysee.

“Mereka mendesak Macron agar segera membuat UU khusus untuk mengatasi kaum Islamis (radikal) yang berupaya membangkang terhadap pemerintah (Prancis),” tutur Ken.

“Mereka gelisah sangat karena polisi dan jaksa dianggap tak serius menangani aksi-aksi kekerasan bermotif agama,” imbuhnya.

Kepada Macron, lanjut Ken, para pengurus masjid di Prancis juga menegaskan bahwa untuk menghadapi kelompok radikal itu perlu diperbanyak imam yang moderat.

Menurut Ken, momentum di Prancis ini dimanfaatkan betul oleh jaringan kelompok radikal di Indonesia untuk membuat propaganda agar masyarakat teradu domba. Bahkan tidak sedikit yang main boikot dan membakar produk Prancis.

“Minimnya sosialisasi pencegahan bahaya radikalisme membuat kelompok radikalisme seolah-olah mendominasi dan mayoritas, padahal kelompok radikal tidak banyak. Tapi mereka militan dan bergerak terstruktur sistemtis dan masif,” jelasnya.

“Sementara kelompok masyarakat yang moderat cenderung diam dan membiarkan radikalis merajalela,” imbuhnya.

Bagi Ken Setiawan, persebaran kelompok radikalisme di Indonesia sudah merupakan ancaman serius. Lebih jauh ia mengungkapkan, bila propaganda adu domba pelaku radikaisme terus diabaikan, tidak mustahil Indonesia bisa luluh lantak seperti Suriah.

Ia juga memberikan apresiasi kepada Tim Densus 88 Antiteror Mabes Polri yang telah menangkap 4 terduga teroris di Provinsi Lampung, beberapa waktu lalu.

Empat orang diamankan di tiga tempat berbeda, yakni satu orang di Panjang Bandar Lampung, satu orang di Metro, dan dua orang di Pringsewu.

Inisial para terduga yakni Sul, Dav, Bak, dan RG. Mereka diduga terlibat dengan kelompok Imar Banten, yang sebelumnya sudah ditangkap di Jawa Barat.

“Diduga mereka berencana akan melakukan amaliyah teror di beberapa kota di Jawa,” tutupnya. []

Leave a reply

error: Content is protected !!