Pencegahan Radikalisme Berbasis Partisipasi Generasi Milenial

1
218

Sangkhalifah.co — Pencegahan radikalisme dan terorisme harus dari berbagai sedi dan lintas kalangan, tidak terkecuali generasi milenial. Riset milenial di tahun 2020 cukup mengkhawatirkan. Angka 80 persen ke atas potensi dan kecenderungan sepaham dengan narasi yang dilakukan kelompok radikal-teroris bukan perkara sepele.

“Keterlibatan generasi milenial dalam tindakan radikal-teroris bukan hal baru. Sekalipun dia fenomena modern tapi dalam konteks Indonesia saat ini harus menjadi prioritas kita bersama. Jika generasi milenial sudah terkena virus radikalisme-terorisme ini tentunya sudah darurat. Harapan bangsa di tangan anak muda bisa sirna,” ujar Makmun Rasyid dalam pengantarnya pada pekan webinar yang dilakukan Media Sang Khalifah, 27 Februari 2021, yang dimoderatori oleh Wulan Sari Aliyatys Sholikhah (Ketua Kopri PC PMII Ciputat).

Narasumber pertama, Wildan Imaduddin menyampaikan propaganda ISIS di tengah pandemi nyata adanya dan tetap aktif. Mereka memanfaatkan semua platform media sosial. Termasuk ormas-ormas yang telah dilarang pemerintah pun masih terus berkeliaran di media sosial dengan ciri khasnya untuk mendukung perubahan dasar negara dan sistemnya.

“Propaganda ISIS di taun 2020 selama pandemi Covid-19 tetap aktif. Sebagaimana penelitian yang dilakukan oleh RSIS (Rajaatman School of Intenational Studies). Terutama mereka eksis di internet. Salah satunya Jubir ISIS, Hamzal Al-Qusyairi yang terus melakukan itu di media-media sosial,” imbuh Pimpinan Redaksi Tafsir Alquran.

Ia juga menambahkan bahwa kampanye ini disertai hastag-hastag khas mereka. Dan anehnya, masyarakat dan kalangan milenial masih ada yang terkena virus berbahaya tersebut.

“Bubarnya HTI/FPI tidak membubarkan paham/simpatisannya. Kultur homogen, pengajian-pengajian yang orientasinya fikih kekerasan, kecenderungan berfikir ekslusif dan lemahnya kebangsaan yang masih ada di masyarakat, menjadi potensi simpatisan organisasi tersebut masih bisa terus eksis. Ini perlu upaya bersama untuk menghilangkannya. Kampanye di media sosial masih aktif, seperti adanya hastag-hastag #khilafahajaranislam #khilafahjanjiAllah dan #khilafahdidepanmata semuanya masih ada dan harus terus dilawan,” tegasnya.

Di samping itu, menurut Presenter dan Digital Content Manager 164 Channel juga, pembuatan-pembuatan konten moderat yang kami lakukan dalam rangka menangkal apa yang telah dikatakan Wildan Imanuddin tersebut.

“Platform video sangat mempengaruhi anak milenial. Apalagi di dalam televisi saja konten-konten religi sangat banyak, yaitu sebanyak 14 stasiun televisi. Jika sebagai kelompok yang moderat tidak memasuki itu maka bisa kecolongan akan dikuasai oleh kelompok sebelah,” ujar Ahmad Rozali.

Sebagai penulis, ia juga menambahkan bahwa indeks kualitas program religi meski dikuasai oleh TVRI, namun penontonnya masih kecil. Ini menjadi salah satu kesempatan bagi 164 Channel untuk bisa masuk dalam televisi-televisi.

“Tantangan dalam berdakwah di 164 Channel diantisipasi dengan analisa pasar, teknik analisis, finansial, ekonomi yang baik dan juga dengan jaringan yang memadai. 164 Channel juga membuat kegiatan-kegiatan yang mencoba mempertemukan keharmonisan antar agama, dengan menyampaikan keunikan agamanya masing-masing,” tutupnya.

Kekhawatiran Ahmad Rozali pun dirasakan oleh Redaktur Pelaksana Bincang Syariah. Dimana Bincang Syariah yang telah berdiri sejak 2017 yang didasarkan pada fakta saat itu. Dimana ketika kita mencari konten-konten keislaman selalu yang muncul kajian-kajian yang intoleran dan keras, sementara pengguna internet semakin tinggi.

“Sejak ISIS terpojok karena diketahui telah banyak melakukan kekerasan, terorisme memang turun. Namun sebagian yang masih aktif justru mereka tetap beraktivitas di media sosial, sehingga perlu adanya narasi perlawanan dari kelompok moderat. Begitu pula di masa pandemi muncul sebagian orang yang menggunakan pandemi untuk mengcounter pemerintah, misalnya mengharamkan Vacin, konspirasi Covid-19, dan lain sebagainya. Ini juga perlu menjadi perhatian kelompok moderat dengan membuat narasi-narasi keagamaan yang kuat,” kata M. Masrur Irsyadi.

Peran generasi milenial dalam menanggulagi paham radikalisme di media sosial adalah terus membuat konten-kontens keislaman yang moderat. Hal ini sangat ditekankan oleh Dito Alif Pratama, anak muda yang pernah mengeyam kuliah di luar negeri ini.

“Santri mengglobal didirkan untuk membantu para santri belajar di luar negeri dalam rangka mencegah radikalisme dan terorisme. Seharusnya agama mengajarkan pesan-pesan damai dan menolak ekstrimisme. Sehingga pada dasarnya Islam adalah agama ramah, bukan agama marah,” terangnya.

Sebagai Founder Santri Mengglobal, ia sadar bahwa radikalisme menjadi hal yang identik kekerasan setelah peristiwa 11 September 2001, bukan hanya opini kekerasan tetapi juga sudah dalam rangka tindakan, seperti dilakukan oleh HTI.

“Anak-anak milenial banyak menggunakan media sosial. Oleh sebab demikian memang sangat diperlukan adanya platform-platform media online yang mengedepankan moderatisme. Santri yang mempelajari keilmuan Islam secara mendalam dan komprehensif, jika ingin bisa melawan gerakan radikalisme, maka memerlukan empat hal penting, yaitu peduli, adaptif, respek dan efektif dalam berkomunikasi. Salah satu hal untuk mendapatkan komunikasi yang baik adalah belajar ke luar negeri. Sebab di luar negeri selain kita belajar dengn berbagai golongan, juga kita bisa mengkampanyekan Islam yang damai,” tutupnya. [MR]

1 comment

Leave a reply

error: Content is protected !!