Pemuda dan Urgensi Pengarusutamaan Literasi Pancasila

1
365

Sangkhalifah.co — Eropa kini berduka, akibat dari serentetan peristiwa teror yang terjadi di sana. Dari berbagai aksi teror itu, sebagian besar dilakukan oleh pemuda. Misalnya peristiwa pembunuhan di sekitar kota Paris oleh Abdoullakh Anzorof (18), remaja asal Rusia, terhadap seorang guru sejarah (Samuel patty) yang sebelumnya telah menampilkan wajah kartun Nabi ketika mengajar. Peristiwa penyebaran kartun Nabi yang dimunculkan oleh majalah mingguan Charlie Hebdo, membuat geger warga muslim di dunia. Munculnya kartun Nabi ini bagi Prancis adalah semacam bentuk kebebasan berekspresi yang dilindungi oleh ideologinya, yakni “laïcité. Namun, kartun ini dianggap penghinaan dan penistaan bagi sebagian Muslim.

Kemudian bola salju teror terus bergulir, peristiwa serupa kembali terjadi di Prancis. Tiga orang tewas di gereja Notre-Dame, Basilica, pada 29 Oktober 2020. Brahim Aioussaoi (21), warga Tunisia, menyerang sekumpulan orang di gereja dengan pisau ditengarai akibat dari provokasi di media tentang penistaan terhadap Islam.

Disusul kemudian oleh peristiwa di Vienna, Austria, yakni aksi teror (penembakan) yang dilakukan oleh simpatisan ISIS berusia 20 tahun. Penembakan itu terjadi di dekat Sinagoga Utamta Wina, di daerah dengan banyak restoran dan bar terbuka. Pemuda bersenjata itu, yang diidentifikasi sebagai Kujtim Fejzulai, menewaskan empat orang dan melukai 22 lainnya, sebelum kemudian dia ditembak mati oleh polisi.

Dari serentetan peristiwa tersebut, Ainur Rofiq Al Amin (2020) menyatakan bahwa para pelaku teror ini melakukan aksi terornya karena terpapar oleh provokasi yang bertebaran di media, khususnya media sosial. Provokasi yang nirkebenaran inilah yang menyebabkan berbagai aksi radikal terjadi. Melihat realitas ini, seharusnya kalangan pemuda menjadi gerbong utama dalam melawan ideologi radikal-teroristik.

Di tengah gempuran ideologi radikal, pemuda sejatinya mempunyai andil untuk turut mereduksi dan menangkal radikalisme dengan menguatkan literasi serta menguatkan narasi moderat di dunia maya. Saat ini, cukup banyak pemuda yang mudah terlusut untuk melakukan aksi-aksi ekstremis, tanpa ada langkah tabayyun terlebih dahulu. Kejadian di Prancis, tidak akan terjadi, jika tidak diawali dengan adanya provokasi di media sosial sebagai jalan untuk menumbuhkan semangat aksi radikal di kalangan anak muda.

Pengarusutamaan Pancasila

Mengambil benang merah peristiwa Prancis dalam konteks Indonesia, pentingnya pengarusutamaan nilai pancasila di kalangan anak muda menjadi suatu upaya yang harus intens dilakukan. Kemudian persatuan bangsa merupakan spirit yang harus selalu diteguhkan, perlunya sinergitas semua elemen bangsa untuk bersama-sama merekatkan keberagaman melalui literasi media. Pancasila sebagai falsafah bangsa jangan hanya dijadikan konten dalam wacana publik tetapi harus ditanamkan dalam sanubari para pemuda dan diaktualisasikan dalam kehidupan sehari-hari, sehingga mampu membendung ideologi radikal. Radikalisme mempengaruhi salah satunya melalui media bahasa, ia mencoba mensusupi kalangan muda dengan narasi provokatif via media sosial.

Kita perlu menilik negara timur tengah, misalnya Afganistan yang pada awal abad ke-20 merupakan negara maju, tetapi sekarang porak-poranda akibat konflik internal dan disintegrasi bangsa, karena susupan ideologi radikalisme tekstual yang mengatasnamakan agama dan minimnya rasa egaliter. Hemat penulis, Indonesia beruntung memiliki Pancasila sebagai salah satu nasionalisme terbaik. Mengapa demikian? karena saat ini banyak negara-negara di dunia, belajar ke Indonesia terkait bagaimana merajut persatuan kebangsaan.

Pancasila sebagai bagian komponen terpenting yang menjiwai seluruh karakter bangsa Indonesia perlu dijaga demi kemaslahatan dan keutuhan bangsa, karena kita sejatinya tidak ingin kita terkungkung dalam perang saudara sebagaimana yang terjadi di Timur Tengah. Pemuda Indonesia harus terus kreatif, inovatif, rajin belajar, kerja keras punya idealisme namun juga realistis. Agar pemuda kedepan dapat membangun peradaban dan menjadikan momentum bonus demografi sebagai alat untuk mencapai kemajuan bangsa Indonesia.

Pemuda pun perlu membersihkan sampah provokatif radikal di ruang maya yang hingga hari ini sangat sukar terbendung. Golongan radikal terus menerus menebar kebencian, yang kemudian kebencian tersebut dianggap sebagai kebenaran. Untuk itu, anak muda perlu bersinergi dalam rangka menyapu bersih radikalisme dengan menguatkan literasi Pancasila serta penguasaan media sosial. Karena pemuda mengemban beban moral dalam melawan radikalisme, dan semoga Indonesia sendiri—meminjam bahasa Soekarno—akan terus menjadi Leitstar dinamis, yakni tetap bertanah air satu, tanah air Indonesia. Berbangsa satu, bangsa Indonesia dan berbahasa satu, bahasa persatuan Indonesia. []

**Ferdiansah, Peneliti di Institute of Southeast Asian Islam (ISAIs) UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

1 comment

Leave a reply

error: Content is protected !!