Pembubaran FPI Bukan Penistaan Terhadap Agama Islam

2
617

Sangkhalifah.co — Setelah pemerintah melalui para mentrinya membubarkan salah satu ormas yang dianggap pembela Islam, muncul narasi-narasi yang ingin memojokan keputusan ini. Di antara narasi yang diangkat adalah pembubaran FPI adalah penistaan terhadap Islam. Kita tahu ke mana arah narasi ini. Narasi ini bertujuan membangkitkan emosi umat agar mereka simpati dan mengecam bahkan menolak keputusan ini serta puncaknya akan ada aksi bela FPI. Memang sudah bukan gaya lama mereka menggunakan simbol agama untuk hal-hal remeh temeh seperti ini. Selain memang mereka selalu menggunakan simbol keturunan nabi demi memuluskan nafsu keagamaannya.

Narasi ini bisa kita bantah dengan mengajukan beberapa pertanyaan. Di antara pertanyaannya, apakah FPI sebagai ormas merepresentasikan Islam atau umat Islam khususnya Indonesia? Apakah FPI sebagai organisasi dakwah selaras dengan dakwah Islam? Dua pertanyaan ini akan menjawab pertanyaan apakah pembubaran FPI menistakan Islam.

Kita tegas menjawab bahwa FPI tidak merepresentasikan Islam secara keseluruhan. Menggapa tidak? Nyatanya banyak umat dan tokoh agama Islam menolak keras kehadiran FPI. Seolah FPI adalah anak yang tak direstui untuk lahir dari rahim ibu pertiwi ini. Sebut saja Gus Dur, sudah dari awal mewanti-wanti tentang  FPI sampai menyebutnya sebagai teroris lokal. Bahkan dari awal Gus Dur sudah meramalkan bahwa FPI akan dibubarkan. Apa yang Gus Dur katakan memang benar terjadi, penghujung tahun 2020, FPI resmi dibubarkan dan dilarang oleh pemerintah. Kado terindah di hari haul Gus Dur.

Jika FPI merepresetasikan Islam atau umat Islam Indonesia, maka tidak akan ada organisasi Muhammadiyah, NU, Persis, dan organisasi lainnya. Mereka akan memilih FPI sebagai wadah untuk mengimplementasikan nilai-nilai keislaman. Faktanya, adanya organisasi-organisasi yang mengatasnamakan Islam justru karena mereka ingin memperjuangkan nilai-nilai keislaman dalam perspektif mereka. Bahkan tidak sedikit organisasi tersebut bersebrang pandangan dengan PFI.

Terlebih, FPI  ingin menegakan syariah Islam dalam versinya, sebagai landasan bertenagara. Bahasa kasarnya, Indonesia bersyariah. Jelas syariah Islam yang dimaksud adalah syariah Islam versi FPI. Karena menurut ulama kalangan NU sebut saja KH Aqil Shiraj, dan Muhammadiyah sebut saja Buya Syafi’i Ma’arif, Indonesia sudah sesuai dengan nilai-nilai keislaman. Di Indonesia, kesamaan hak dilindungi, kebebasan berpendapat dilindungi, kesetaraan gender, kebebasan menjalankan praktik keagamaan dilindungi dan nilai lainnya yang menurut Islam harus dilindungi. Bukankah ini sudah Islami? Bukankah ini sudah “bersyariah”?

Bahkan yang sangat miris, FPI sendirilah yang selalu melanggar nilai-nilai itu. Bagaimana mereka menggruduk sekolah yang dianggap menyebarkan ajaran Katolik, padahal kekebasan memilih agama diatur undang-undang. Aksi geruduk rumah makan yang masih buka di siang hari pada bulan Ramadan dengan dalil amar ma’ruf nahi munkar, padahal tidak ada paksaan dalam menjalankan perintah agama. Memilih agama saja tidak ada paksaan, apalagi menjalankan perintah agama. Ini yang tidak dipahami oleh FPI. Dan masih banyak rapor merah FPI yang mencederai nilai-nilai yang menurut Islam harus dijaga. Apakah ini membela Islam? Jelas tidak. Atas nama dakwah amar ma’ruf nahi munkar mereka mencoreng nama Islam. Dari  sini kita tahu bahwa FPI tidak merepresentasikan Islam maupun umat Islam.

Pertanyaan selanjutnya apakah dakwah PFI sesuai dakwah Islam? Dalam penyebaran ajarannya, tidak segan-segan FPI selalu melakukan kekerasan. Seperti yang telah disebutkan, penggerudukan rumah makan, perusakan rumah ibadah Ahmadiyah, serangan ke kantor Komnas HAM, kekerasan dan pemukulan terhadap Aliansi Kebangsaan untuk Kebebasan Beragama (AKKBB), dan tidak sedikit dalam menyebarkan ajarannya FPI mencaci maki pemerintah, tokoh tertentu dan masyarakat pada umumnya yang berbeda dengan mereka. Apakah ini merepresentasikan dakwah Islam? Jelas tidak. Inti dari dakwah Islam adalah merangkul bukan memukul.

Maka sudah sangat tepat pemerintah membubarkan organisasi yang meresahkan bangsa ini. Dalam beberapa survei, masyarakat lega dengan dibubarkannya PFI. Hal ini karena mereka mencoreng nama Islam dengan dalih membela agama, mereka mengijak-injak nilai kemanusiaan dengan dalih menegakan ajaran agama, padahal nilai keagamaan dan kemanusiaan bagaikan dua mata koin yang tidak bisa dipisahkan. Kita tidak bisa menjamin orang masih menyimpan rasa empati pada Islam jika model dakwah seperti FPI masih dibiarkan. Bahkan mungkin saja, orang Islam pun jenuh dan malu melihat pemandangan Islam yang ditampilkan PFI. Mungkin juga mereka lebih memilih mengaku tidak beragama karena harus menanggung malu akibat perilaku anarkis mereka. Dari sini kita dapat simpulkan bahwa pembubaran PFI tidak menistakan Islam, justru menyelamatkan Islam dari para pemerkosa agama. [Beta Firmansyah]

2 comments

Leave a reply

error: Content is protected !!