Pembodohan Masyarakat Dibalik Gerakan “Dana Kemanusiaan”, “Dana Sosial” dan “Dana Dakwah”

1
861

Sangkhalifah.co — Gerakan terorisme tidak berhenti sekalipun di era pandemi, prilakunya meningkat tajam di media sosial. Strategi organisasi teror memiliki beragam pola. Mulai menggunakan sosial media untuk propaganda teror, rekruitmen simpatisan, pelatihan pembuatan peledak hingga pendanaan gerakan radikalisme-terorisme dan anti pemerintah.

Pendanaan terorisme menjadi salah satu isu krusial selain ideologi anti Pancasila dan sistem demokrasi. Seluruh kegiatan terorisme, mulai perorganisasian, perencanaan, rekruitmen, keperluan dan pengembangan senjata, alat komunikasi, pengumpulan data intelijen dan informasi di masyarakat, mobilisasi orang-orang tertentu yang berpotensi–dengan melihat indikasi dari pemahaman maupun aktivitas sehari-harinya, hingga tahap aksi terorisme tidak mungkin bisa dijalankan tanpa dana.

Misalnya biaya bom di Madrid (11 Maret 2004) yang terjadi di dalam empat kereta komuter cercanías diperkirakan sebanyak US$ 15.000; biaya untuk Bom Bali 1 yang dilakukan Imam Samudra (alias Abdul Azis; terpidana mati) dkk diperkirakan sebanyak US$ 35.000, dan aktivitas teroris lainnya. Rohan Gunaratna dalam Inside Al-Qaeda, Global Network of Terro (2002) misalnya menyebutkan Al-Qaeda memiliki wadah bisnis dan finansial untuk keperluan pergerakan sehari-harinya. Mereka mengatur dana teknik-logistik agar survive.

Aktivitas kelompok radikal-teroris seperti kebanyakan di Indonesia, setidaknya memiliki varian dalam mengumpulkan dananya. Ada yang berasal dari perusahaan, individu, dana sukarela bahkan coercive extortion. Parahnya lagi jika dana itu berasal dari hasil kejahatan yang terorganisir seperti pengalihan sebagian kecil/besar dari penyelundupan narkoba, pemalsuan dokumen, perampokan bersenjata hingga pencucian uang. Sedangkan di Indonesia, kini ada motif baru seperti berasal dari non-governmental organizations atau community organizations agar bisa mendapat dana hibah dari “sister NGOs”.

Potensi penyalahgunaan sebuah transaksi yang dibuat secara mudah untuk aktivitas pertukaran uang di masyarakat tidak kalah dijamak oleh kelompok radikal-teroris. Misalnya ketika PPATK mencatat sejak 2003-2016 ada 105 transaksi terkait dugaan tindak pidana terorisme.

Artinya, beragam modus digunakan untuk menghimpun dana, mulai dari cara konvensional hingga pemanfaatan teknologi keuangan. Dan parahnya di Indonesia ini juga, pola pergerakannya dengan menggunakan korporasi selubung, dimana ada semacam kamuflase yang dilakukan dengan iming-iming dana kemanusiaan dan dana dakwah. Sederhananya, mereka tidak saja menggunakan sistem yang canggih hingga jenis pelabelan di masyarakat.

Dalam konteks Indonesia misalnya, di era pandemi ini wajah Indonesia yang tampil di publik adalah empati yang tinggi, antara satu dengan lainnya. Masyarakat rela mendonasikan dananya dalam jumlah kecil hingga yang sangat besar. Watak dasar orang Indonesia yang humanis dan praktik tolong menolong sangat tinggi, dimanfaatkan kelompok radikal-teroris–dengan ragam cara.

Memang, kelompok yang terindikasi radikal-teroris di Indonesia belakangan ini memang mengganti-ganti istilah mereka di lapangan dengan istilah populer. Menurut saya, ini juga dilakukan oleh kelompok transnasional seperti Salafi-Wahabi dan Hizbut Tahrir Indonesia. Penggantian istilah ke yang populer agar kecurigaan masyarakat tidak menerpa mereka.

Jika kelompok Salafi-Wahabi misalnya menggunakan istilah “salaf” untuk gerakan mereka. Dimana istilah “salaf” ini sangat populer dan sebuah gambaran masa di mana orang-orang yang hidup di zaman itu luar biasa baiknya. Tapi bedanya, isitlah “salaf” yang dikenal dalam internal Islam sebagai sebuah kondisi masa klasik namun oleh Salafi-Wahabi dijadikan simbol gerakan mereka yang ideologi pergerakan dakwahnya berbeda dengan gambaran/zaman salaf kala itu.

Begitu pula kaum radikal-teroris, menjadikan momentum dan istilah-istilah populer di Indonesia seperti “dana kemanusiaan”, “dana sosial”, “kotak amal” dan sejenisnya dipakai. Agar masyarakat mengulurkan tangannya dan membantu tanpa harus mengetahui siapa pengelola dan otak di belakang itu.

Oleh karena itulah, saya selalu mengatakan, sebaik-baiknya gerakan transnasional ketika ditaruh di Indonesia maka dia menjadi seburuk-buruknya gerakan yang made in Indonesia. Kelemahan gerakan transnasional adalah ramuannya bukan khas Indonesia tapi ramuan khas pendirinya/sponsornya. Kemudian, kelemahannya lagi dia tidak akan berumur panjang karena minus wawasan kebangsaan-kenegaraan yang moderat dan mencintai kearifan lokal.

Di lapangan, niat baik kita harus disertai dengan penelusuran yang baik. Sudah seharusnya kita memberikan sebagian harta kita kepada organisasi-organisasi atau lembaga keuangan yang kredibel dan transparan. Seseorang yang beramal baik tapi merasa “bodo amat” saat menyalurkan dananya akan dimanfaatkan kelompok transnasional dan radikal-teroris. Berapa banyak orang Indonesia yang terkelabui misalnya menaruh sebagian hartanya dalam sebuah kotak amal sebanyak 500 buah, yang belakangan diketahui milik Jamaah Islamiyah?

1 comment

Leave a reply

error: Content is protected !!