Pemaksaan Musuh Semua Agama (Kajian Surah Al-Hujurat: 13)

0
134

Sangkhalifah.co — Allah SWT sudah sejak 14 lalu telah menetapkan bahwa manusia diciptakan dalam keragaman dan multikultural. Perbedaan baik dalam konteks makro maupun mikro masyarakat adalah hal yang tak bisa terbantahkan. Dalam ranah keluarga misalnya, didapati adanya perbedaan karakter antar ayah, ibu dan anak. Dalam ranah beragama Islam, kita temukan beragam mazhab dan pemikiran, dari sejak masa sahabat hingga detik ini dan akan terus berlangsung hingga hari akhir. Perbedaan dan keanekaragaman tidak bisa ditolak oleh siapapun. Sekalinya seseorang menolak, di lain waktu sebetulnya ia menerima perbedaan, seperti perbedaan jenis kelamin, jenis makanan pavorit, dan banyak yang lain. Perbedaan dalam konteks makro misalnya didapati adanya keragaman agama yang dipilih seseorang, didapatinya bangsa dan suku yang satu sama lain berbeda, dan lain sebagainya.

Namun demikian sunatullah keragaman dan keanekaragaman itu justru dikotori oleh sebagian orang yang mengaku beragama akan tetapi menolak ajarannya. Adalah kelompok teror dan radikal, yang kerapkali melakukan aksi kekerasan baik lisan maupun tindakan dengan membalutnya dengan nama Tuhan dan agama. Dengan membawa nama Tuhan, mereka menolak perbedaan. Semua manusia yang tidak sependapat dan sekeyakinan dengannya tidak lain kecuali halal darahnya. Kelompok ini biasanya mengaku memperjuangkan agama namun kelakuannya berbalik 180 derajat dengan agama. Bom bunuh diri, melakukan perusakan pada fasilitas publik, berujar kebencian di media sosial dan sikap-sikap buruk lainnya dilayangkan kepada orang lain yang tak sepaham dengan membalut menggunakan landasan agama. Al-Qur’an dimanipulasi sedemikian rupa demi nafsu kekusaannya.

Perbedaan adalah kebiscayaan Tuhan. Islam sudah sejak dahulu menetapkan demikian dan menolak pemaksaan dan penyanarataan. Tidak hanya Islam, semua agama mengajarkan nilai-nilai penghormatan pada keragaman dan multikulturalisme manusia. Allah SWT berfirman dalam QS. Al-Hujurat [49]: 13:

“Wahai manusia! Sungguh, Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa. Sungguh, Allah Maha Mengetahui, Maha Teliti.” (QS. Al-Hujurat [49]: 13).

Imam As-Suyuthi dalam kitab Dur Al-Mantsur Fi Tafsir Bil Ma’tsur menyenutkan sebab turunnya ayat tersebut di atas. Menurutnya, ayat ini turun ketika masa fathu Makkah. Pada saat itu Bilal Bin Rabbah, sahabat Nabi yang biasa adzan di Madinah naik ke Ka’bah dan adzan dengan suara khasnya. Pada saat yang bersamaan ketika Bilal adzan, ada banyak masyara Makkah yang tidak mengenal siapa Bilal dan kenapa Rasulullah memilih sahabat tersebut untuk adzan. Satu riwayat kutipannya menyebut seseorang yang bertanya, “Tidak salahkah Rasulullah memilih budak hitam ini untuk melakukan adzan?”. Selain itu juga ada seorang yang bernama Hisyam yang menanyakan dengan sinis, “Apakah Rasulullah tidak menemukan selain burung gagak hitam ini untuk adzan di atas Ka’bah?”. Maka kemudian seketika turun ayat ini mengomentari peristiwa tersebut.

Imam As-Syaukani dalam Tafsir Fathul Qadir mengomentari ayat tersebut di atas bahwasanya manusia diciptakan dalam bentuk dan karakter yang berbeda-beda. Meskipun demikian, ada perekat yang seharusnya satu sama lain tidak berseteru, yakni diciptakan dari satu keturunan Adam dan Hawa. Bagi As-Syaukani, kenyataan ini harusnya menjadi inspirasi agar satu sama lain antar manusia tidak menilai orang lain dengan derajat sosial atau sikap sinis lainnya.

Ayat ini sudah mengetuk hati kita bahwa perbedaan sudah sejak dahulu menjadi keniscayaan. Seperti Bangsa Mudhar dan Rabi’ah, kabilah Bank Bakar dan Bani Tamim, dan bangsa Arab serta non Arab. Adanya perbedaan itu tidak lain kecuali untuk “ta’ârafû; saling mengenal satu sama lain. Sebab dengan saling mengenal maka akan mendapatkan banyak ilmu, pengetahuan dan wawasan sehingga bisa lebih toleran.

Satu visi dengan penafsiran para ulama sebelumnya, Tafsir Kementerian Agama RI juga menegaskan bahwa ayat tersebut di atas merupakan etika dan tata Krama pergaulan sosial antar umat manusia (bukan hanya antar pemeluk suatu agama). Penggunaan kata “an-nâs; manusia” menunjukkan bahwa Islam sebagai agama yang harmonk kepada semua manusia tanpa pandang bulu. Kenyataan ajaran Islam ini meniscayakan tidak bolehnya umat Islam dan pemeluk agama selain Islam memiliki sifat sombong, merasa benar sendiri, dan menganggap individu atau kelompok di luar dirinya sebagai ‘liyan’ yang harus diperangi dan dimusuhi. Islam tak mengajarkan sifat takabur hanya karena perbedaan perspektif dan cara pandang dalam beragama.

Melalui penjelasan para mudasir Al-Qur’an dibatas dapat disimpulkan beberapa poin penting. Pertama, Islam menolak sikap rasis atas nama apapun, apakah itu agama, suku, keturunan, derajat sosial, pilihan politik, dan lain sebagainya. Rasisme merupakan musuh Islam karena Islam memandang semua orang bukan dari derajat sosialnya, tetapi ketakwaaannya. Kedua, keragaman dan multikultural adalah suatu keniscayaan. Tidak ada satu manusiapun yang bisa menolaknya. Menolak keragaman sama halnya dengan menolak dirinya diciptakan di dunia, yang memiliki perbedaan banyak hal dengan orang lainnya. Ketiga, pemaksaan dalam beragama tertolak dalam agama apapun, lebih-lebih agama Islam. Islam menolak keras pemaksaan dalam menganut agama dan keyakinan tertentu (lâ ikrâha fiddîn). Dan keempat, tindakan terorisme dan radikalisme dengan memusuih, meneror, mengintimidasi dan mengebom murni bukan ajaran Islam, akan tetapi ajaran setan. []

Leave a reply

error: Content is protected !!