Pancasila, Piagam Madinah dan Gagal Paham Para Pengasong Khilafah

2
224

Sangkhalifah.co — Hingga hari ini masih ada sekelompok orang yang mengaku beragama Islam namun gemar menjelekkan kelompok lain yang berbeda. Kelompok ini memang sudah sejak lama diwanti-wanti oleh Rasulullah akan kemunculannya. Mereka gemar mengaku paling beragama, akan tetapi abai dengan persatuan. Mereka terlihat Islam secara simbolik, namun busuk perangai dan perilakunya. Adalah kelompok para pengusung khilafah, seperti HTI dan ISIS. Penampilan di media sosial nampak islami; menggunakan atribut kalimat tauhid, koar-koar memperjuangkan sistem negara Islam, dan di mana-mana bicara syariah. Para pengasong khilafah ini ‘paling jago’ mengkafir-kafirkan Pancasila, sebuah ideologi titik temu bangsa Indonesia. Dengan menganggap Pancasila bukan Islam, para pengasong khilafah sesungguhnya telah gagal paham kelas dewa.

Pancasila adalah salah satu bentuk ijtihad para founding father bangsa Indonesia. Dalam kajian Ushul fiqh, suatu ijtihad tidak bisa membatalkan ijtihad lain yang lebih dulu lahir. Dari persoakan yang sederhana inilah sebetulnya para pengasong khilafah tidak paham Islam. Di lain itu jika para pengasong khilafah tidak menganggap Islam Pancasila karena tidak ada dalil dalam Al-Qur’an, Piagam Madinah juga tidak sama sekali disebutkan di dalam Al-Qur’an. Apakah para pengasong khilafah mau menganggap Piagam Madinah merupakan produk kufur buatan Nabi dan masyarakat Madinah? Nyatanya mereka tidak demikian, mereka menganggap Piagam Madinah sistem Islam, bahkan diklaim embrio sistem khilafah. Kalau mau konsisten, para pengasong khilafah seharusnya tidak mengkafirkan baik Piagam Madinah maupun Pancasila, toh, keduanya tidak ada dalam Al-Qur’an.

Piagam Madinah adalah upaya Nabi Muhammad mencari naungan bersama dengan para penduduknya yang multikultural. Madinah tidak hanya dihuni oleh orang Islam, akan tetapi juga Yahudi, Kristen, Nasrani, bahkan kaum Pagan. Dari kelompok Islam juga beragam, dari mulai Ansor, Muhajirin, yang di dalamnya terdiri kelompok Bani Quraidah, Bani Qainuqa’ dan Bani Nadhir. Multikultural Madinah diikat dengan satu perundang-undangan agar semuanya bisa menyatu dan tetap harmonis, yaitu dengan Piagam Madinah. Keragaman di Madinah sarat akan kesamaan dengan konteks Indonesia, yang dihuni oleh beragam kelompok, baik kelompok agama, etnis, suku, budaya, maupun adat. Semuanya diikat dengan Pancasila, sebagaimana Nabi mengikat multikulturalisme Madinah dengan Piagam Madinah.

Adanya piagam Madinah dan Pancasila seperti dua kesamaan yang hanya beda konteks saja. Baik Piagam Madinah maupun Pancasila dibuat agar setiap orang dengan segala perbedaan latar belakangnya mendapatkan tempat. Suaranya didengar oleh para pemimpin di dalamnya. Kejadian itu nampak pada peristiwa Perjanjian Damai (Hudaibiyah), di mana ada salah satu orang bernama Suhail dari Yahudi. Dalam perjanjian itu ia tidak setuju dengan adanya kalimat “Rasulullah” dan “Bismillah arrahman arrahim”. Rasulullah tidak menolak Suhail, akan tetapi menerima masukkan dan kritikannya. Kejadian itu menyejarah ke Indonesia, di mana Pancasila dibuat dalam rangka memberikan ruang kepada setiap kelompok umat beragama. Pancasila diadakan menjadi pengikat satu sama lain antar bangsa dalam perbedaannya.

Yudi Latif menegaskan bahwa Pancasila adalah “agama”, agama dalam arti bukan wahyu. Ia adalah sebuah pedoman yang hadir di tengah-tengah agama yang beragam yang kedudukannya tidak untuk memberantas agama-agama sebelumnya. Demikian itu menemukan titik temunya juga dengan Piagam Madinah, di mana kehadirannya menjadi benang merah agama-agama dan keragaman penduduk Madinah untuk bersatu dalam negara kota Madinah. Baik Pancasila maupun Piagam Madinah sama-sama memiliki ontologi yang seirama, yaitu usaha mencari titik temu di tengah multikulturalisme. Keduanya merupakan perangkat yang dapat menghargai dan menjunjung tinggi semua agama, semua suku, ras, golongan, dan semua perbedaan dalam sebuah bangsa, sebagaimana bangsa Madinah dan bangsa Indonesia.

Selain ontologi titik temu, Piagam Madinah dan Pancasila adalah dua entitas yang juga bermuara sama dalam satu tujuan mengedepankan musyawarah dalam mencari titik temu yang dimaksudkan. Keduanya membuka pintu masuk berupa masukan, kritikan, dan saran, yang kesemuanya diadakan dalam rangka menuju kebaikan bersama. Para ilmuan menganggap Piagam Madinah adalah sistem negara terbaik dan modern pada zamannya yang terus relevan digunakan untuk masa kini. Tidak berlebihan jika dikatakan preseden Piagam Madinah sesungguhnya telah menyejarah ke Indonesia, sebagai bangsa yang multikultural dan dianugerahi sebuah ideologi yang mampu menghasilkan kebaikan bersama bangsa Indonesia dalam keberagamannya.

Kenyataan demikian tentu berbeda dengan sistem khilafah, di mana ia identik dengan sistem yang diskriminatif, menomorduakan status perempuan, orang non-Muslim, dan mengkerdilkan siapa saja yang tidak taat pada subjektivitas pemimpin. Khilafah selain sebagai sistem gagal, tidak bisa mengakomodir perbedaan dan keragaman secara seirama dan setara, tidak layak digunakan di negara manapun, sebab jelas bertentangan dengan konsep negara Madinah dengan konstitusinya.  Selain itu, kelompok pengusung khilafah telah gagal paham dalam memaknai Pancasila. Mereka buta sejarah dalam membaca esensi nilai-nilai Piagam Madinah dan Pancasila. Pikiran mereka tidak akan pernah jernih sebab perjuangan Islam yang mereka lakukan tidak lain hanya karena nafsu kekuasaan, uang, dan pemberontakan. []

2 comments

Leave a reply

error: Content is protected !!