Pancasila di Tengah Kepungan Ideologi Transnasional, Direktur Pengkajian BPIP: Pancasila Masih Sakti

0
465

Sangkhalifah.co — Di tengah pandemi Covid-19 ini memaksa kita untuk bekerjasama dalam memastikan kekuatan imun dan iman masyarakat Indonesia. Imun dalam hal ketahanan diri dan cara berpikir yang waras dan iman berupa ketahanan keyakinan diri akan Islam dan Pancasila.

Media Sangkhalifah.co bekerjasama dengan FKMTHI, Yayasan Bina Bangsa Indonesia dan PC PMII Kota Palopo mengadakan webinar dalam suasana Harlah Pancasila, 1 Juni 2020 dengan mengundang pembicara Dr. Muhammad Sabri M.Ag (Direktur Pengkajian dan Materi BPIP RI), Dr. Muhaimin MA (Wakil Rektor III IAIN Palopo) dan Makmun Rasyid (Dewan Ahli ISNU Gorontalo). Dipandu oleh moderator Ummu Kalsum dari Kopri PMII Palopo.

Dalam presentasinya, Direktur Pengkajian dan Materi BPIP menegaskan pentingnya saling bahu membahu dalam membumikan Pancasila dalam situasi dan kondisi apapun. Diperlukan juga system penyeimbang terbaik di tengah situasi dan kondisi negara yang terganggu oleh pandemic Covid-19.

“Saya menegaskan kembali Pancasila masih sakti. Sebab ia lahir dari rahim Indonesia. Diperas dari ragam nilai-nilai, baik dari agama-agama, budaya, pikiran-pikiran bapak bangsa dan lainnya. Sebab itulah, kita harus menjaga dasar negara dan ideologi bangsa ini terutama dari rongrongan sekelompok orang yang bersikeras menegakkan paham yang tidak sesuai dengan ruh Pancasila,” ungkap Muhammad Sabri.

Seperti diketahui, di tengan pandemi ini, media sosial tidak saja dipenuhi oleh sikap saling gotong royong sebagai bagian dari nilai Pancasila. Tapi juga jagat maya dipenuhi oleh narasi-narasi anti-Pancasila dan anti-Demokrasi yang dilakukan oleh kelompok dan Gerakan transnasional.

Fenomena narasi radikalisme di media sosial meningkat ini, Wakil Rektor III IAIN Palopo Muhaimin mengajak untuk para pemegang kekuasaan di kampus-kampus untuk tidak melepaskan mahasiswa-mahasiswinya atau sekedar memberikan tugas kampus.

“Para pejabat kampus harus tetap mengontrol mahasiswa/mahasiswi dari kejauhan. Salah satunya dari media sosial milik mereka. Jangan sampai ketika di kampus mereka nasionalis-religius, tapi karena sudah terlalu lama tidak ngampus dan mendapat doktrin aneh-aneh dalam situasi sekarang, mereka sudah tidak lagi moderat cara pandang terhadap agama dan negara,” ucap Muhaimin.

Tema besar yang diusung berjudul “Penanaman Ideologi Pancasila di tengah Pandemi” membuat narasumber lainnya, Makmun Rasyid mengebu-gebu dalam presentasinya. Makmun menyebutkan, kondisi ini jelas dimanfaatkan oleh kelompok anti-Pancasila untuk mencari massa. Itu bisa kita lihat dari kajian-kajian online di media sosial.

Makmun mengatakan, “berita-berita anti-Pancasila dan berita negatif dibuat oleh orang pintar yang tidak bertanggung jawab, baik dalam kapasitasnya sebagai penganut agama tertentu dan warga Negara Indonesia, kemudian dikonsumsi oleh orang-orang baik yang bodoh.”

“Bodoh yang saya maskud adalah mereka yang tidak mau mencari secara utuh, siapa penyebar beritanya, afiliasinya apa, jejak digitalnya bagaimana dan lain sebagainya. Orang-orang begini dimanfaatkan oleh kelompok transnasional dalam menyebarkan paham-paham seperti khilafah, anti-Pancasila, anti-Nasionalisme dan anti-Demokrasi,” tutupnya. []

Leave a reply

error: Content is protected !!