Pancasila dan Islam: Tanggapan Terhadap Video Felix Shaw tentang Pancasila

0
686

Sangkhalifah.co — Pancasila sebagai falsafah hidup bangsa Indonesia sangat terbuka untuk ditafsirkan. Setiap bangsa tentu meyakini kedudukannya sebagai landasan ideologi berbangsa dan bernegara. Kedudukan Pancasila menjadi payung yang mampu mengayomi seluruh bangsa Indonesia dalam ragam dan perbedaan. Sangat wajar bila ada pihak yang berusaha menginterpretasi berdasarkan perspektif masing-masing. Namun, apabila terdapat kejanggalan atau interpretasi yang dinilai kebablasan wajar saja untuk ditanggapi, dikritik, atau diluruskan. Tulisan ini berupaya menyoroti pandangan Felix Shaw tentang Pancasila.

Dalam sebuah video Felix Shaw yang tayang di YouTube Channel Cerita Untungs terdapat sedikit misinterpretasi yang rawan menyesatkan pemahaman seseorang. Saat menjelaskan Sila ke-4, tampak dia menyandingkan tiga ranah kajian yang sebenarnya berbeda. Tetapi, di tangan seorang Felix seakan semua menjadi saling sesuai bahkan sama.

Dikatakan olehnya, Pancasila disebut sebagai kearab-araban. Dia beralasan karena di dalamnya banyak yang diadopsi atau diserap dari bahasa Arab. Salah satunya sila ke-4 yang hampir seluruhnya berasal dari Bahasa Arab. Ada kata rakyat, hikmat, permusyawaratan, dan perwakilan. Hanya saja yang menjadi titik poinnya di sini adalah kata hikmat.

Menurut Felix, mengutip KBBI kata “hikmat” disamakan dengan hikmah yang berarti kebijaksanaan. Lebih lanjut, menambahkan kata hikmah dalam bahasa Inggris berarti wisdom. Tiba-tiba kemudian melanjutkan perjalanan kata-katanya melompat langsung ke al-Qur’an. Disebutnya, kata hikmah sebagai sesuatu yang diberikan kepada orang-orang khusus seperti Nabi dan orang-orang khusus lainnya. Luqman al-Hakim menjadi salah satu orang yang mendapatkan hikmah dari Allah.

Dari sini, kemudian hakim diartikan sebagai orang yang punya hikmah. Menurutnya, hakim itu seorang pemimpin. Kebijaksanaan harus ada padanya. Hikmat kemudian dikatakan Felix sebagai akar kata hakim. Seorang pemimpin berarti pemegang hikmah. Dan sebaliknya hikmah harus melekat kepada seorang hakim. Alasannya, Luqman al-Hakim sebagai tokoh yang terkenal dengan kebijaksanaannya juga mendapat julukan tersebut. Lagi-lagi, dia mengorfirmasi jika dasar kata hakim adalah hikmah.

Untuk menguatkan argumen tersebut kemudian disambungkan dengan kata Al-Hakim sebagai salah satu nama Allah. Hanya saja tidak disebutkan yang dimaksudkannya apakah hakim menurutnya adalah sebagai isim fa’il dari ḥakama atau yang merupakan salah satu asma’ul ḥusna. Sebab, Al-Hakīm yang ada dalam Asma’ul Husna bentuknya sighat mubālaghah yang berarti Sangat Bijaksana atau Maha Bijaksana. Sedangkan menurut Felix al-ḥakim berarti Yang Maha memberikan keputusan, yang artinya Dia Bijaksana.

Dari sini kemudian, Felix berkesimpulan bahwa hakim pasti bijaksana. Al-Hakim dalam definisinya diartikan sebagai penguasa. Dalam konteks Indonesia hakim mengetok palu. Bila dalam konteks sana–mungkin maksudnya Arab–disebut Qādhi berarti pembuat keputusan. Hakim menurutnya berarti penguasa yang jika disandingkan dengan kata ‘kebijaksanaan’ dalam sila ke-4 menjadi tepat menurutnya. Dia pun menyimpulkan bahwa hakim berarti sesuatu yang lebih dari kebenaran. Orang benar belum tentu bijaksana. Karenanya, seorang pemimpin sejati harus mampu mengambil keputusan secara bijaksana. Nabi Sulaiman dalam kasus menghadapi dua Ibu yang rebutan mengakui bayi, dijadikannya sebagai contoh.

Apa yang dinarasikan oleh Felix sebagai penjelasan tentang sila ke-4 Pancasila di atas, seolah benar menurutnya sendiri. Pernyataan-pernyataan yang diungkapkan dengan olah bahasa dan dalil al-Qur’an menjadi begitu lengkap seakan telah menutupi celah penafsiran dari perspektif lainnya. Padahal, banyak kekurangan–jika enggan menyebutkannya sebagai salah–yang ditampilkannya. Beberapa di antaranya terkait pembahasannya soal kata hikmah yang dicobanya sebagai otak-atik untuk kecocokan pilihan kata dalam sila ke-4. Persoalan kedua tentang penafsiran singkatnya terhadap QS. al-Jumu’ah [59]: 2 yang dijadikan penguat argumennya di atas.

Gagal Faham Terhadap Kata Hikmah

Fokus pembahasan pertama akan menyoroti kata Al-Hikmah yang disamakan dengan hakim. Supaya cocok dalam rangkaian kalimat sila ke-4 tiba-tiba hikmat disulap menjadi hakim. Karena disertai argumen yang aduhai, siapapun akan terbawa narasi tersebut. Padahal motifnya begitu mencolok. Dengan mengganti atau menyamakan hikmah dengan hakim, akan menjadikan sila ke-4 seakan membenarkan prinsip khalifah yang telah dibuat parameternya oleh Hizbut Tahrir. Meskipun dalam narasinya tidak disampaikan.

Dalam ranah gramatikal Arab, kata ḥikmah disebut berbeda dengan kata ḥākim. Keduanya beda kedudukan dan tentu dalam maknanya. Berlebihan bila mengatakan ḥikmah menjadi dasar kata ḥākim. Dan apabila dilanjutkan dalam konteks nama Allah—sebut Asmā’ al-Husnā—akan menjadi berbeda. Sebab, di dalam Asma Al-Husnā hanya ada al-ḥakīm yang berarti maha bijaksana. Ada perbedaan signifikan al-ḥākim dengan al-ḥakīm. Dalam konteks gramatikal Arab, konstruksi kebahasaan yang berbeda akan menimbulkan makna berbeda pula.

Kita bedah satu per satu. Kata ḥākim merupakan isim fā’il dari fi’il (kata kerja) ḥakama-yaḥkumu-ḥukman-fahuwa-ḥākimun jika ditelaah dalam kitab amtsilat al-tashrifiyah. Maka, kata ḥākim berarti orang yang menghukum. Konteks penggunaan kata tersebut lebih dekat dalam ranah hukum. Sementara, kata ḥikmah ini berkedudukan sebagai mashdar dari fi’il ḥakkama-yuḥakkimu-taḥakkuman-taḥkīman-wa ḥikmatan-fahuwa-muḥakkimun. Selebihnya dapat dilihat di tashrifan lagi. Dari asal usul kata jelas berbeda. Jika ḥākim sebagai pemberi kebijaksanaan rasanya kurang tepat. Sebab, ada konteks yang dilewati. Mestinya, ḥākim menjadi seorang pemberi keputusan hukum dalam konteks dunia peradilan. Sehingga, kuran tepat bila ḥikmah disebut menjadi asal dari kata ḥākim. Lebih-lebih bila keduanya disamakan, tentu berakibat fatal dalam maknanya.

Ibnu Fāris mengungkapkan bahwa ḥikmah berarti mencegah dari kebodohan. Adapun ḥukm berarti mencegah dari kezhaliman (Ibnu Faris, 1979: 2/91). Ini berarti hukum lebih dekat dalam soal merespon perilaku kriminal atau zhalim. Sedangkan ḥikmah lebih dekat dalam urusan pelajaran. Seseorang yang belajar tentu akan memperoleh ḥikmah berupa terbebas dari jeratan kebodohan. Sehingga, sinkronisasi antara ḥākim dan ḥikmah masih perlu dibahas lebih lanjut. Penting sekali bila menjelaskan makna kata Arab seharusnya kembali kepada Kamus Arab terlebih dulu. Bukan lebih mendahulukan Kamus Besar Bahasa Indonesia atau Inggrisnya.

Dengan demikian, dapat dilihat apabila hikmah lebih dekat dengan persoalan pelajaran. Dalam arti lain, hikmah adalah pelajaran berharga dari sebuah peristiwa. Adapun ketika dikaitkan dengan kebijaksanaan, kata hikmah sangat sah-sah saja untuk disandingkan. Karena kebijaksanaan semula milik Allah. Sedangkan hikmah lebih merupakan pelajaran dari kebijaknanaan milik-Nya. Maka, hikmat kebijaksanaan sangat serasi bila bersanding tanpa harus mengubah-ubah diksinya menjadi kata lainnya. Sehingga, kerancuan pemahaman Felix di atas dapat terjawab melalui kajian gramatika Arab dengan teliti dan kritis.

Makna al-Ḥikmah Dalam Ranah Tafsir

Saat mengutip sebuah ayat dalam ceramah atau menjelaskan suatu persoalan, harus bersikap adil merujuk sumbernya. Tidak serta merta karena ada terjemahan al-Qur’an lalu dikutip bahkan diubah begitu saja. Apalagi bila tindakan tersebut dalam ranah kepentingan orang banyak. Sebagai publik figur atau yang disebut sebagai seorang ustadz, sudah selayaknya ketika membahas suatu ayat harus mengutip penafsiran tokoh yang benar-benar mufasir. Bukan lantas kemudian lancang memaknainya menurut pemahaman sendiri. Seperti itulah yang tampak dalam video yang sama saat menjelaskan QS. al-Jumu’ah [62]: 2 dalam rangka menguatkan argumennya di atas.

Dengan begitu singkat, Felix menjelaskan ayat tersebut berkenaan dengan Rasulullah Saw. menjadi pelaku dalam praktik kebijaksanaan. Penjelasan tersebut tepat apabila disertai dengan penafsiran ayat dengan tepat pula. Menurutnya, dalam ayat tersebut terdapat empat pelajaran yang disampaikan oleh Rasulullah Saw sebagai tugasnya. Pertama, beliau membacakan ayat-ayat Allah. Kedua, mensucikan manusia. Ketiga, mengajarkan al-Kitab yang diartikan halal-haram. Keempat, mengajarkan al-hikmah yang diartikannya sebagai sesuatu yang di atas halal dan haram.

Tampak sekali penjelasan di atas cenderung didominasi subjektivitas penyampainya. Tidak kelihatan dari mana sumber tafsir yang dikutip. Apalagi mempertimbangkan pendapat ulama’ lainnya. Jika persoalan ini tidak direspon dengan rujukan mufasir yang kredibel atau ahli di bidangnya, akan berakibat fatal bagi pemahaman khalayak lainnya. Untuk merespon argumen tersebut, akan dikuti tafsir al-Mishbah yang merupakan karya anak bangsa sendiri.

Di dalam tafsirnya, Quraish Shihab menafsirkan al-kitāb sebagai al-Qur’an. Untuk al-ḥikmah sendiri ditafsirkan sebagai pemahaman agama atau ilmu amaliah, dan amal ilmiah. Sedangkan menurut Muhammad Abduh seperti dikutip Quraish Shihab, menulis al-ḥikmah berarti pengetahuan tentang keindahan, rahasia, motif serta manfaat-manfaat syari’at. Adapun Imam Syafi’i berpendapat apabila al-ḥikmah bermakna sunnah. Karena tidak ada selain al-Qur’an yang diajarkan oleh Allah, kecuali sunnah (Shihab, 2009: 14/46-47).

Dari sini, dapat dilihat bersama betapa cerobohnya saat Felix mengambil makna sendiri terkait QS. al-Jumu’ah [62]: 2 di atas. Perlu dibaca baik-baik mengenai tafsir dan pemaknaan al-Qur’an lebih teliti supaya tidak mengambil makna seenaknya. Jika dirunut secara kritis persoalan hikmah dari penafsiran di atas tidak ditemukan adanya indikasi jika hikmah menjadi dasar dari hakim. Dua persoalan yang jauh. Beda konteks dan beda pembahasan. Namun, bila dipaksakan tentu berakibat gagal faham yang berkelanjutan. Sehingga, dipahami bila hikmah dalam ranah tafsir sangat berbeda apa yang diungkapkan Felix berdasarkan ayat yang dikutipnya di atas. []

Leave a reply

error: Content is protected !!