Paham Ekstremisme Lebih Bahaya dari Corona, Begini Cara Penyebarannya

0
302

Sangkhalifah.co — Dewan Penasihat Pusat Pengkajian Islam dan Masyarakat (PPIM) UIN Jakarta Jamhari Makruf menyebut bahwa pemahaman ekstremisme lebih berbahaya dari virus. Paham esktrem bisa dengan cepat menyebar ke mana-mana.

“Sama seperti virus corona, mereka yang terpapar paham ekstremisme juga banyak yang terkena Orang Tanpa Gejala (OTG). Mereka sebenarnya terpapar tapi tidak merasa dan seperti tidak ada gejala,” jelas Jamhari, pada webinar peluncuran dan bedah buku ‘Lindungi Anak dari Bibit Terorisme’, pada Sabtu (26/9).

Ia menyebutkan bahwa terdapat empat hal yang menjadikan paham ekstremisme selalu muncul di permukaan kehidupan masyarakat.

“Pertama, recurrent (berulang). Virus ekstremisme ini akan muncul terus. Sekarang sepertinya hilang, tapi nanti akan muncul lagi dalam bentuk yang lain. Dia akan muncul dan selalu akan ada,” katanya.

Kedua, lanjut Jamhari, ekstremisme sama halnya dengan chameleon (bunglon). Bisa mewujud atau berbentuk menyerupai apa saja. Dia bisa berbentuk politik, aktivitas atau kegiatan sosial, dan ekonomi.

“Mereka menggunakan berbagai cara untuk bisa menularkan virus-virusnya. Mereka jika ikut politik menjadi seperti politisi. Ketika bergabung dengan kelompok ekonomi, seakan-akan mereka sedang berperan mengembangkan ekonomi,” kata Jamhari, menjelaskan.

Ketiga, virus ekstremisme ini selalu berubah-ubah (changing). Jamhari menyebutkan bahwa semula, atau pada awalnya dulu, anak-anak dan perempuan tidak pernah terlibat dalam gerakan-gerakan terorisme.

“Bahkan awalnya perempuan dianggap sebagai korban dari terorisme karena disia-siakan oleh suaminya yang pergi meninggalkan rumah tidak bertanggung jawab. Sementara istri harus berjibaku mengidupi anak di rumah. Dia juga dipinggirkan dari masyarakat karena keterlibatan suaminya dalam terorisme,” jelas Jamhari.

Namun, karena ekstremisme ini bersifat berubah-ubah maka belakangan ditemukan bahwa perempuan juga ternyata menjadi pendukung terorisme. Banyak dari kalangan perempuan yang kemudian mendukung suami atau keluarganya yang terlibat terorisme.

“Mendukungnya itu seperti menyembunyikan, melindungi dengan menjadi kurir, utusan, dan banyak juga mereka yang kawin-mawin untuk menutupi orang-orang yang terlibat terorisme. Jadi mereka ini menggunakan metode yang selalu berubah-ubah,” katanya.

Jamhari menyoroti, perempuan saat ini menjadi orang yang melakukan terorisme. Seperti ikut mengangkat senjata, menjadi pengantin jihad, dan terlibat dalam pemboman.

“Tapi yang lebih bahaya adalah dengan mengindoktrinasi anak-anaknya. Dari rumah, ibu-ibu ini mengindoktrinasi anak-anaknya, mentransmisi pemahaman radikal. Ini menjadi sangat bahaya sekali,” kata Jamhari, miris.

Ibu-ibu saat ini, harap Jamhari, harus peduli kepada anak-anaknya. Sebab tanpa sadar, sang ibu sekarang sudah menjadi aktor dari maraknya virus terorisme ini melalui indoktrinasi dan menularkan paham-paham ekstrem kepada anak-anaknya.

“Ini perlu disikapi dan perlu kerja bareng bahwa sesungguhnya yang namanya paham ekstrem selalu berubah-ubah,” harap Jamhari.

Keempat, kemampuan para teroris merekrut (able to recruits). Menurut Jamhari, pelaku terorisme atau orang-orang yang terpapar virus ekstremisme ini selalu bisa dan mampu merekrut sekalipun selalu dikejar-kejar dan memiliki kesempatan yang kecil.

“Tapi mereka selalu ada generasi baru yang bisa direkrut. Sekarang yang paling mereka utamakan adalah merekrut lewat keluarga. Jadi, keluarga dijadikan oleh mereka sebagai lahan untuk merekrut dan melestarikan ide-ide radikalisme,” pungkas Jamhari. []

Leave a reply

error: Content is protected !!