Non-Muslim dan Kafir dalam Paradigma Islam Moderat

0
161

Sangkhalifah.co — Indonesia merupakan satu bangsa yang di dalamnya penuh keragaman agama dan keyakinan, kita meski berhati-hati dalam berinteraksi satu sama lain antar orang yang berbeda keyakinan, apalagi beda agama. Salah berinteraksi dan berkomunikasi akan menimbulkan persepsi buruk seseorang terhadap agama tertentu yang sangat mungkin berujung kepada perpecahan.

Di saat Nabi Muhammad memimpin kota Makkah yang terdiri dari komponen masyarakat yang beragam, Nabi menerapkan protokol kenegaraan yang adil, bijaksana, dan tidak mendiskreditkan kelompok agama tertentu. Sehingga Nabi berhasil dalam membentuk peradaban di Madinah dan berhasil mempersatukan perbedaan keyakinan keagamaan dalam bingkai peradaban Madinah.

Islam sebagai agama cinta dan rahmat, seorang Muslim mesti berlaku santun kepada siapapun, termasuk kepada yang belum mendapatkan hidayah masuk Islam. Sebagai Muslim, tak elok membenci dan memusuhi mereka yang belum berislam. Klaim akun Instagram chandiondi pada tanggal 03 Juni 2020 yang menyatakan bahwa umat Islam tidak akan memiliki keislaman yang lurus jika tidak memusuhi dan membenci orang-orang yang musyrik.

Sejatinya yang Nabi benci adalah kekafirannya, bukan individunya. Suatu hari beliau pernah menangisi anak orang Yahudi. Para sahabat terheran-heran, sehingga mereka bertanya, “wahai Nabi, kenapa engkau menangisi anak orang Yahudi yang kafir ini?”, nabi menjawab, “Aku menangis karena satu manusia lagi, ini akan masuk neraka Allah.” Dan yang dimaksud Nabi adalah sebuah bentuk penutupan diri akan kebenaran. Yang makna ini bisa juga menimpa umat Islam. Dalam kajian Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir, makna kafir bisa juga menimpa Muslim yang enggan menerima kebenaran dari siapapun, termasuk kebenaran yang datang dari non-Muslim.

Istilah kafir banyak disebutkan oleh Al-Qur’an. Seringkali Al-Qur’an menyematkan kata itu dalam arti celaan kepada seseorang. Namun kita perlu cermat dalam membaca Al-Qur’an bahwa makna kafir dalam wahyu Allah tidaklah tunggal. Kafir dalam konteks Al-Qur’an ada dalam konteks tauhid dan konteks sosial-politik.

Pada yang pertama ini adalah orang kafir yang menolak ajaran Islam yang dibawa oleh Nabi Muhammad Saw. Di negeri Makkah ketika beliau berdakwah banyak yang menolak bahkan memusuhi dan memerangi sampai Nabi pun hijrah ke Madinah. Nabi sudah di Madinah pun orang kafir ini masih memerangi Nabi dan sahabatnya. Pada konteks kafir pertama ini umat Islam wajib melawan, menyiapkan kekuatan untuk menghentikan kekerasan orang kafir. Mereka ini diistilahkan dengan kafir harbi. Sedangkan kafir dalam konteks sosial-politik adalah orang-orang yang belum mendapatkan hidayah namun mau bersaudara dengan Muslim. Mereka bahu membahu untuk menciptakan peradaban bagi bangsanya. Dalam konteks inilah diistilahkan dengan kafir dzimi.

Mereka tidak boleh diperlakukan dengan kekerasan. Bahkan harus diperlakukan setara dengan semua umat. Itu dibuktikan dengan posisi orang-orang Yahudi dan Nasrani ketika di Madinah yang mendapatkan fasilitas hidup berupa keadilan dan kesetaraan dari Nabi Muhammad Saw. Meskipun dalam konteks NKRI, menurut para pakar, sebetulnya istilah kafir harbi dan zimmi tidak berlaku, sebab kedua istilah itu konteksnya adalah penaklukan satu wilayah oleh pemimpin dalam wilayah yang lain. Di Indonesia tidak ada, sehingga semua warga, apapun agama dan keyakinannya, semua merupakan warga negara, tidak berlaku dua istilah tersebut untuk disematkan kepada non-Muslim dalam konteks NKRI.

Bagaimana dalam konteks QS. Al-Mujadilah: 22, yang menyatakan: Engkau (Muhammad) tidak akan mendapatkan suatu kaum yang beriman kepada Allah dan hari akhirat saling berkasih sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, sekalipun orang-orang itu bapaknya, anaknya, saudaranya atau keluarganya? Sebagaimana diklaim oleh akun Instagram “Chandiondi” sebagai dalil untuk membenci dan memusuhi orang kafir sebagai syarat imam dan Islam?

Ibn Katsir menjelaskan sebab turunnya ayat ini yakni adanya seorang sahabat yang bernama Abu Ubaidah yang membunuh ayahnya yang musyrik dan memusuhi Islam dan memerangi mereka. Ayahnya itu bersih keras menghabisi untuk menghabisi orang Islam dalam perang Badar. Maka dengan membaca sebab turunnya ayat ini, tidak tepat menjadikan ayat tersebut untuk membenci apalagi memusuhi orang kafir yang tidak membuat kekerasan kepada orang Islam.

Sebagian pakar hukum Islam di Indonesia menegaskan bahwa dalam konteks negara bangsa tidak ada istilah kafir, yang ada hanyalah non-Muslim—istilah yang berbeda dengan pemeluk Islam; Muslim. Ini merujuk pada konteks di mana Nabi Muhammad memimpin Madinah yang terdiri dari masyarakat yang beragam keyakinan dan agama. Selama memimpin Madinah Nabi tidak sekalipun memanggil orang di luar Islam dengan panggilan “wahai kafir/kafirun”, namun beliau menggunakan istilah “wahai manusia”.

Ini menegaskan pada kita bahwa dalam konteks berbangsa dan bernegara sikap Muslim kepada orang yang bukan Muslim adalah menghormati, menghormatinya sebagai pemeluk keyakinan lain, atau minimal, menghormatinya sama-sama sebagai warga negara. Yusuf Al-Qardhawi dalam kitab Khitabuna Al-Islami Fi-Ishri Al-Aulamah menegaskan bahwa di antara ajaran Islam yang penuh hikmah dan tuntunan yang baik, utamanya di era globalisasi, adalah tidak memanggil orang yang berbeda agama dengan kita dengan sebutan kafir/kuffar.

Dengan demikian, memang dalam Al-Qur’an ada istilah kafir yang disematkan pada seseorang yang belum mendapatkan hidayah, itupun dalam konteks “kafir akidah” dan ia melecehkan Islam dan pemeluknya. Sikap kita tegas harus melakukan penjagaan diri agar Islam tidak terhinakan. Akan tetapi jika mereka tidak memusuhi kita, bahkan mau menjadi mitra kebaikan dalam bermuamalah dalam konteks sosial politik, mereka wajib dihormati, mereka memiliki hak dan kewajiban sebagai warga negara.

Salam konteks negara bangsa, sebagaimana itu ditegaskan oleh Hasan Al-Turabi dalam Fiqh Al-Siyasi, istilah kafir tidak lagi relevan digunakan, dan Islam menamai mereka semua sebagai warga negara (muwathin) yang memiliki hak dan kewajiban yang sama, serta wajib kita hormati kedudukannya sebagai manusia seutuhnya baik dari sisi agama ataupun negara. []

Leave a reply

error: Content is protected !!