Negara dan Agama Dua Sayap Penyelamat Dunia Akhirat

4
390

Oleh: Ali Fitriana (Wakil Direktur STKQ Al-Hikam Depok)

Kita mulai dengan sebuah pertanyaan. Kenapa sebelum kemerdekaan agamawan dan pahlawan bersatu bersatu untuk menyusun konsep negara? Perlu kita fahami bahwa Islam mengakui eksistensi sebuah negara. Pengakuan itu penting sehingga Islam bisa mengakui negara tertentu yang mempunyai independensi dari negara yang lain.

Ini tertera jelas dalam Al-Quran Yâ Ayyuhâ an-Nâs innâ khalaqnâkum min dzakar wa untsâ wa jaʻalnâ bainakum syuʻûba wa qabâila li taʻârafû. Kami Allah menciptakan manusia itu laki dan perempuan dan juga membuat kelompok manusia menjadi bangsa-bangsa. Syuʻûb itu bangsa. Kalau Qabâil itu kabilah.Bedanya adalah kabilah itu kelompok manusia yang punya sistem.Perlunya apa? Negara itu banyak. li taʻârafû untuk saling mengenal. Artinya ada perbedaan antara satu bangsa dengan bangsa yang lain. Ini yang pertama

Yang kedua bahwa Allah SWT mengingatkan negara ini seharusnya bertakwa kepada Allah, penduduknya yang penting. Baru kemudian status atau formulasi dari negara. Kenapa? Karena banyak negara yang stempel Islam, tapi tingkah lakunya tidak Islami. Oleh karenanya walau anna ahlal qurâ Seandainya sebuah negeri, penduduknya, benar-benar iman dan bertakwa, Saya bukakan pintu berkah, baik yang bersumber dari bumi maupun dari langit. Tambang pertanian, perkebunan, perikanan. Tambang di Indonesia apa saja ada. Belum lagi berkah dari langit berupa hujan, cuaca, ini zahir. Yang batiniah ketentraman, kedamaian, kerukunan. 

Jangan sampai negara menghalangi amanu wattaqau atau penduduknya menghalangi negara untuk menciptakan kebijakan kemakmuran. Iman dalam keyakinaan tapi takwa dalam perilaku kita. Âmanû sikap ideologi dan batin. Tapi wattaqau adalah fakta beriman kepada Allah. Takwa jangan dibatasi iman dan shalat, artinya seluruh perintah Allah termasuk perintah berbangsa dan bernegara.

Antara agama dan negara ada hubungan saling membutuhkan; agama membutuhkan negara dan negara membutuhkan agama. Negara perlu dikawal dengan nilai-nilai ajaran  agama. Di pihak lain, banyak ajaran agama yang tidak mungkin dilaksanakan tanpa kehadiran negara. Sebagai contoh:  seorang perempuan yang sudah tidak memiliki wali khâs maka  yang menjadi wali nikahnya adalah negara. Idealnya tidak ada konsep negara sekuler, yang bisa memisahkan antara agama dan negara. Ketaatan seorang muslim misalnya, kepada aturan negara memiliki dimensi keagamaan karena agama mewajibkan setiap umatnya mentaati aturan negara sepanjang tidak bertentangan dengan syariat.

Sebuah negara akan menjadi negara ideal manakala: pertama, Menjadi tempat yang kondusif bagi pelaksanaan ajaran agama bagi pemeluk-pemeluknya. Kedua, Kejujuran menjadi sesuatu yang dominan. 3. Keadilan ditegakkan dalam berbagai aspeknya, baik keadilan ekonomi, politik, sosial, dan hukum.

Imam Al-Ghazali dalam master piece-nya, Ihya Ulum ad-Din menyampaikan:

الدين والملك توأمان فالدين أصل والسلطان حارس وما لا أصل له فمهدوم وما لا حارس له فضائع

Agama dan negara ibarat dua anak kembar yang lahir dan bersama. Agama berperan sebagai asas (pondasi dasar). Sementara negara berperan sebagai penjaganya. Apapun yang tidak mempunyai pondasi pasti akan mudah roboh. Apapun yang tidak memiliki penjaga akan mudah hilang/lenyap.  

Agama membutuhkan negara karena tanpanya ajaran agama akan kesulitan berkembang. Sebaliknya tanpa agama nilai moral dan humanitas sebuah negara akan lenyap. Sebab ajaran agama bervisikan melindungi keyakinan, jiwa, harta, keturunan dan menjaga akal sehat dan kehormatan. Setiap kemaslahatan pasti bergantung pada agama dan negara. Ulama bertugas menjaga agama. Sementara aparat tugasnya menjaga negara.  

Indonesia itu bukan negara atheis, bukan negara sekuler dan bukan negara agama. Karena kalau negara atheis dia tidak percaya kalau Tuhan ada. Dia anti Tuhan. Bukan pula negara sekuler karena membiarkan orang untuk beragama atau tidak beragama. Tidak pula menjadi negara agama, karena teks agama tidak menjadi konstitusi tapi value universalitas agama yang dikemas dalam konstitusi nasional itu yang mengayomiseluruh bangsa Indonesia.

Artinya agama-agama dilindungi, ada orang merusak gereja atau menginjak Al-Quran bisa dipidanakan. Artinya negara tidak acuh-tak acuh untuk melindungi agama. 

Dalam bahasa ulama, kehadiran negara merupakan hirâsah ad-dîn (melindungi agama) dan siyâsah ad-dunyâ (mengatur tatanan kehidupan). Melindungi itu dengan memberikan kenyamanan bukan malah menimbulkan keresahan dan kegaduhan. Mengatur itu dengan terukur bukan malah ngawur.

Term ad-dîn (agama) dalam Al-Quran disebutkan sebanyak 93 kali. Sementara kata al-mulk (negara) tidak kurang dari 48. Kata ad-dîn dalam Al-Quran juga berarti akhirat sebagai hari pembalasan (maliki yaumi ad-dîn). Idealnya, siapapun yang beragama mempunyai orientasi akhirat. Sebab agama mengajarkan keyakinan akhirat sebagai hari pertanggungjawaban dan ajang pembalasan. Sehingga siapapun yang menjaga keberagamaannya, ia telah menyelamatkan akhiratnya. Siapa saja yang menata secara baik cara berbangsa dan bernegara, ia telah menyelamatkan dunianya.     

Harus diingat, agama itu suci. Negara tidak ada yang suci. Karena dia disetiroleh manusia. Sehingga akan selalu ada jarak antara agama yang suci (ideal) dengan kenyataan negara.  

Nasionalisme dalam Islam. Islam religius Nasionalis inilah yang akan menyangga Indonesia selamat. Tapi kalau sudah mulai transnasional itu masuk dengan tarikan kiri-kanan maka akan memudahkan orang lain untuk memanfaatkan Indonesia lebih dari pada orang Indonesia memanfaatkan dirinya sendiri. Semoga Allah melindungi kita semua.

Akhirnya kembali ke pertanyaan awal, kenapa sebelum kemerdekaan agamawan dan pahlawan bersatu bersatu untuk menyusun konsep negara? Karena sejatinya Negara dan Agama bagi kita merupakan dua sayap penyelamat dunia dan akhirat. []

4 comments

  1. Visi Berpolitik dan Bernegara Dalam Islam – sangkhalifah 31 Mei, 2020 at 00:02 Balas

    […] Sangkhalifah.co — Perdebatan hubungan antara agama dan negara dalam Islam tidak ada habisnya. Pro dan kontra selalu muncul di mana-mana, tak terkecuali di Indonesia yang terbelah ke dalam tiga poros perdebatan. Sekelompok menginginkan terpisahnya agama dan negara. Umumnya disebut perwakilan sekuler; kelompok lainnya menginginkan dasar negara adalah agama tertentu, seperti yang sering disuarakan oleh Hizbut Tahrir Indonesia; kelompok yang ideal dan cocok untuk keberagamaan dan mempraktikkan nilai-nilai Islam, yakni agama dan negara saling menguatkan. […]

Leave a reply

error: Content is protected !!