Nasionalisme: Sebuah Ajaran Rasulullah

1
337

Oleh: Lufaefi

Tantangan yang dihadapi oleh Negara Indonesia saat ini ialah melemahnya semangat kebangsaan (nasionalisme) di sebagian generasi muda. Amin Abdullah menyatakan bahwa semangat nasionalisme dapat menjadi pertimbangan akan maju tidaknya suatu bangsa. Pasalnya, bangsa yang maju adalah bangsa yang antar masyarakatnya bersatu untuk sama-sama mencapai cita-cita dan tujuan negaranya.

Lemahnya semangat nasionalisme di Negara Indonesia karena adanya anggapan bahwa nasionalisme bertentangan dengan Islam. Islam mengajarkan persatuan global sementara nasionalisme mengajarkan persatuan teritorial wilayah. Nasionalisme juga dianggap bersifat chauvinistik, sikap sombong yang dimiliki setiap bangsa yang menganut nasionalisme kepada bangsa-bangsa yang lain.

Nasionalisme di dalam Islam berbeda dengan nasionalisme yang diklaim sebagian kelompok dengan menganggap bertentangan dengan Islam dan adanya unsur chauvinistik. Melalui ayat Al-Qur’an Qs. Al-Hujurat [13]: 49 Allah Swt berfirman yang artinya:

Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan berduka-suku supaya kamu saling mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Mengetahui lagi Maha Mengenal.

Baca: Syariah dan Khilafah; Manakah Yang Lebih Wajib?

Menurut Al-Badhawi, ayat di atas memberi isyarat bahwa diciptakannya manusia berbangsa-bangsa bukan untuk saling menyombongkan diri, karena sejatinya, orang yang mulia di sisi Allah bukan lain kecuali orang yang paling bertakwa kepada-Nya.

Potret nasionalisme, sejatinya telah dipraktikkan oleh Nabi Muhammad sewaktu beliau berada di negeri Makkah, dan beliau hendak hijrah ke Madinah karena perilaku kekerasan orang-orang kafir kepada beliau, Rasulullah Saw berkata sambil meneteskan air mata. “Demi Allah, wahai Makkah, sungguh engkau adalah bumi Allah yang paling baik. Seandainya orang-orang kafir tidak mengusirku, sungguh aku tidak akan pernah keluar darimu”.

Dengan rasa sedih, Rasulullah Saw sampai-sampai bersumpah tentang suatu negeri, yaitu Makkah. Kecintaannya kepada negeri Makkah sampai-sampai beliau tidak rela dan sangat berat untuk meninggalkan tanah kelahirannya. Bagi Nabi, mencintai Negeri Makkah adalah sesuatu yang tidak bisa dihilangkan. Betapa Rasulullah Saw memiliki jiwa mencintai negeri (nasionalisme) yang cukup amat kuat.

Baca: Menyoal Kekeliruan Tafsir Islam Kaffah

Sesampainya di Madinah, Rasulullah Saw dan para sahabatnya menemukan negeri yang berbeda dengan Makkah. Disana didapati banyak keragaman, dari mulai agama, suku, ras bahkan budaya. Rasulullah meninggalkan Makkah untuk sementara berdakwah di Madinah. Meski rasa berat untuk meninggalkan Makkah, beliau harus berpindah ke Madinah guna penyebaran agama Islam.

Tidak lama ketika berada di Madinah, Rasulullah Saw dan para sahabatnya berdoa kepada Allah Swt agar dirinya dan sahabat-sahabatnya diberikan rasa cinta kepada Madinah sebagaimana mereka memiliki rasa cinta yang sangat mendalam kepada Negeri Mekah. Rasulullah dan para sahabatnya ingin memajukan dan memakmurkan Madinah sebagai tanda cinta kepadanya.

Dalam sebuah riwayat bahwa “Nabi SAW ketika kembali dari bepergian dan melihat dinding-dinding Madinah beliau mempercepat laju untanya. Apabila beliau menunggangi unta maka beliau menggerakkanya (untuk mempercepat) karena kecintaan beliau pada Madinah” (HR. Bukhari, Ibnu Hibban dan Tirmidzi).

Baca: Al-Qur’an dan Ide Perdamaian

Kecintaan itu, diikuti oleh sahabat baginda Nabi Muhammad, Umar bin Khattab. Dalam kitab Ruh Al-Bayan karya Imam Haqqi bin Musthafa Al-Hanafi terdapat salah satu atsar dari Umar bin Khattab:

“Seandainya tidak ada cinta tanah air, niscaya akan semakin hancur sebuah negeri yang terpuruk. Maka dengan cinta tanah air, negeri-negeri termakmurkan.”

Potret peristiwa kecintaan Nabi Muhammad Saw dan para sahabatnya kepada suatu negeri―Makkah dan Madinah―terekam dengan apik. Memiliki semangat nasionalisme sudah dipraktikkan oleh sang baginda Rasulullah Saw. Sikap nasionalisme bagi Nabi dan para sahabatnya dalam rangka memajukan negara, bukan untuk saling menyombongkan diri. Islam melalui Nabi Muhammad Saw dan para sahabatnya telah memberikan pelajaran penting akan urgensi nasionalisme di tubuh setiap Bangsa. Artinya, semangat patriotism dan pengorbanan untuk tanah air oleh bangsa-bangsa di dunia telah ditanamkan sejak awal dalam Islam []

1 comment

Leave a reply

error: Content is protected !!