Nasionalisme Sebagai Ikatan Suci Bangsa Terhadap Negara

0
127

Sangkhalifah.co — Rasa cinta terhadap tanah kelahiran merupakan hal yang bersifat naluriah. Cinta tersebut tumbuh beralasan yang begitu mendasar dalam hidup seseorang. Seorang manusia lahir bukan tanpa asal, dan tentu memiliki latar belakang. Dalam hal itu, tanah air sering menjadi satu sifat dasar yang disematkan padanya. Sebagai orang Indonesia, tentu akan bangga dan cinta terhadap tanah airnya.

Seringkali kita mendengar istilah ibu pertiwi mewakili tanah air Indonesia. Ibu pertiwi mengindikasikan asal kelahiran sebuah bangsa yang terdiri dari berbagai ras dan suku. Kendati berbeda-beda dari Sabang ke Merauke, tidak menjadikan penghalang untuk menjalin rasa satu dalam cinta, satu dalam cita berbangsa. Ibu pertiwi menjadi satu konsep betapa pentingnya rasa cinta terhadap tanah kelahiran.

Dalam KBBI, nasionalisme berarti faham (ajaran) untuk mencintai bangsa dan negaranya sendiri. Di kali lain, nasionalisme merupakan suatu kesadaran keanggotaan suatu bangsa secara potensial dan aktual bersama-sama untuk mencapai, mempertahankan, dan mengabadikan identitas, integritas dan kemakmuran suatu bangsa (kbbi.web.id, 2020). Singkatnya, nasionalisme mengajarkan kita untuk selalu bersemangat dalam kebangsaan.

Dengan semangat sadar akan rasa senasib seperjuangan dalam nasionalisme tersebut akan mewujudkan persatuan dan kesatuan bangsa. Kendati dalam keragaman dan perbedaan yang ada, secara faktual bangsa ini memiliki satu nasib sejarah bangsa yang pernah dijajah. Kemerdekaan yang direbut melalui jasa dan perjuangan para pahlawan merupakan satu anugerah besar bagi bangsa ini. Maka, mengisi dan mempertahankan kemerdekaan itu harus dilandasi semangat nasionalisme.

Pelajaran tentang nasionalisme bukan saja terjadi pasca kemerdekaan Indonesia. Sejak awal dakwah Islam, Rasulullah Saw. pun mengajarkannya dalam nilai-nilai yang sangat mulia. Salah satu kisah populer tentang nasionalisme yang ditampilkan oleh beliau adalah peristiwa pra hijrah ke Madinah. Kala itu, rasulullah berhijrah bukan saja karena ingin mencari kehidupan yang lebih baik. Di sisi lain, hijrah itu terjadi karena intimidasi dan pengusiran kafir Quraisy Mekah. 

Kebebasan dari penjajah dan kemerdekaan hidup dalam perdamaian merupakan hak segala bangsa. Begitu pun yang ingin dicapai rasulullah saat itu. Meskipun cintanya begitu dalam terhadap Mekah sebagai tanah lahirnya, hijrah pun tidak dapat dihindarkan. Semua hanya dilakukan karena suatu hal yang sudah menjadi konsekuensinya. Andai kafir Quraisy tidak mengusir rasulullah, sudah tentu lebih baik untuk berdiam tinggal di Mekah.

“Demi Allah, engkau adalah negeri yang amat ku cintai. Jika penduduk kafir Mekah tidak mengusirku, niscaya aku tidak akan pernah meninggalkanmu,” ungkap Rasulullah Saw. sebelum meninggalkan Mekah.

Dalam ungkapan di atas, boleh dilihat betapa pentingnya rasa nasionalisme bagi sebuah bangsa. Tanpa rasa cinta kepada tanah lahirnya, bagaimana mungkin akan memiliki rasa tanggung jawab terhadap keutuhan bangsanya. Maka, dalam konteks Indonesia mewujudkan persatuan dan kesatuan dalam keragaman merupakan satu tujuan utama. Bela negara dan mempertahankan diri dari segala ancaman pemecah belah bangsa merupakan suatu keharusan. Di samping wajib bagi segenap bangsa, juga merupakan satu wujud implementasi nasionalisme.

Semangat Kebangsaan Sebagai Sifat Naluriah

Semangat nasionalisme (kebangsaan) sejatinya lebih ditekankan pada cara seseorang mengungkapkan cintanya kepada tanah air. Tidak perlu dicarikan latar belakang dan faktor yang mendasari lahirnya nasionalisme pada tiap individu. Karena, secara potensial seharusnya tiap bangsa telah memiliki cinta itu sejak dilahirkan. Nasionalisme merupakan fitrah yang sudah tertanam lebih dalam pada diri setiap manusia. Maka, mencintai tanah lahir dan negara merupakan satu konsekuensi dari sifat naluriah manusia. 

Apabila mengaku bangsa Indonesia, tapi tidak mendukung keberlangsungan negara berikut pemerintahannya, maka lebih picik daripada seekor binatang yang masih mau mengenal induknya. Seruan ideologi anti-Pancasila semisal khilafah harus dihadang sekuat tenaga. Mereka bukan hanya menyerang secara mendasar terhadap pemikiran, namun juga mengancam eksistensi keutuhan bangsa. Dengan menjadikan agama sebagai jargon utamanya, mereka agen khilafah selalu berpotensi merobek jalinan persatuan Indonesia dalam naungan Pancasila. Jangan biarkan mereka menodai ikatan suci bangsa ini dengan Indonesia tercinta.

Nilai kerukunan dalam keberagaman menjadi satu wujud dari semangat nasionalisme. Bersikap baik dan adil terhadap mereka yang berbeda agama sekali pun harus menjadi satu konsekuensi (QS. al-Mumtahanah [60]: 8). Bagaimana pun faktanya, mereka tetap saudara dalam satu bangsa dan naungan Pancasila. Harus ada semangat saling melindungi dan rela berkorban satu sama lainnya. Jika demikian, kita akan disadarkan betapa pentingnya ikatan suci cinta tanah air sebagai satu bangsa. Menyerukan persatuan dalam kerukunan merupakan wujud dari nasionalisme. Di tengah badai pandemi dan arus radikalisme yang mewabah, hanya kata ‘kita’ yang akan menyelesaikan segala persoalan. Nasionalisme yang berimplikasi pada semangat kebersamaan itulah sebenarnya kunci dari keberhasilan para pahlawan mengusir penjajah pada masa silam. Maka, di era sekarang perjuangan itu harus diteruskan dengan mengisi dan mempertahankan eksistensi kedaulatan dan integritas bangsa. []

Leave a reply

error: Content is protected !!