Najih Arromadloni: JI Telah Menyusupkan Kadernya ke LSM, Ormas dan Instansi Pemerintahan

0
431

Sangkhalifah.co — Radikal-terorisme ini menjadi tantangan kita dalam bernegara. Persoalan radikal-terorisme banyak menghancurkan negara-negara di Timur Tengah. Persoalan ini tidak bisa dianggap sederhana dan kerja kepolisian semata.

“Penangkapan Ahmad Zain An-Najah yang merupakan pengurus Komisi Fatwa Majelis Ulama Indonesia itu mengkonfirmasi bahwa radikalisasi telah masuk ke semua lini kehidupan masyarakat kita,” kata Najih Arromadloni selaku Pengurus Harian Badan Penanggulangan Ekstremisme dan Terorisme (BPET) MUI Pusat.

Saat ini memang Jamaah Islamiyah juga saat ini menerapkan strategi yang disebut dengan “transplantasi organisasi”. Ketika kelompok mereka telah terdeteksi oleh pemerintah sebagai organisasi teror atau terlarang, kemudian mereka menyusupkan kader-kadernya ke berbagai organisasi, lembaga atau instansi keagamaan. Seperti kasusnya Siyono yang masuk ke organisasi moderat.

“Ahmad Zain An-Najah ini sama. Dia kader Jamaah Islamiyah yang disusupkan ke lembaga keagamaan. Posisinya di Jamaah Islamiyah adalah Dewan Syuro. Dia memang bukan aktor lapangan dan tangannya bersih serta tidak berlumuran darah. Tapi karena doktrin atau agitasinya dan ideologi yang dia ajarkan, maka seseorang bisa melakukan kekerasan,” pungkasnya.

Menurut Najih, masyarakat melihat atas penangkapan Ahmad Zain An-Najah ini dan bertanya-tanya. Karena selama ini, yang bersangkutan tidak menggunakan kekerasan dan mengajak orang di publik untuk memberontak.

“Tangannya bersih dari kotoran tapi anggota yang di doktrinnya (anggota Jamaah Islamiyah) telah melakukan tindak kekerasan. Itulah keterkaitan Ahmad Zain An-Najah dengan kelompok Jamaah Islamiyah. Apalagi dia juga sebagai Dewan Syariah di LAZ-ABA yang beberapa waktu lalu jaringannya dibongkar oleh Densus 88 di Lampung,” tambahnya.

Kami ingin memberitahukan bahwa masyarakat tidak mengaitkan antara aktivitas yang bersangkutan dengan MUI. Karena ini tidak ada hubungannya dengan Majelis Ulama Indonesia tempat Ahmad Zain An-Najah bernaung.

“Majelis Ulama Indonesia telah mengeluarkan sikap yang berisikan tujuh poin. Dimana MUI mengakui bahwa yang bersangkutan anggota Komisi Fatwa MUI; yang bersangkutan itu tidak ada kaitannya dengan MUI; MUI menyerahkan segala sesuatunya kepada aparat kepolisian dan MUI mendukung penuh negara dalam penanggulangan terorisme di Indonesia,”

MUI sendiri mendukung penuh dengan dibuktikan keberadaan Badan Penanggulangan Ekstremisme dan Terorisme (BPET) MUI bahwa terorisme merupakan larangan agama dan hukumnya haram.

“MUI membentuk BPET dalam rangka membantu pemerintah dan mengajak masyarakat untuk bersama-sama dalam mencegah dan menanggulangi radikal-terorisme,” tutupnya. []

Leave a reply

error: Content is protected !!