Najih Arromadloni: Jangan Mudah Berkata Taliban Sebagai Kelompok Moderat

1
143

Sangkhalifah.co — Terjadinya perubahan situasi politik di Afghanistan, terkait berkuasanya Taliban mesti menjadi perhatian tersendiri bagi kerja menangkal gerakan radikal di Indonesia. Hal tersebut karena sejarah Afghanistan yang sudah lama menjadi camp tempat para “jihadis” dari berbagai negara bertemu, berlatih senjata, membangun network, dan kembali ke negara masing-masing kemudian melakukan aksi teror.

Di samping itu, kelompok Taliban sendiri juga memiliki catatan sebagai kelompok yang gemar melakukan kekerasan. Oleh karena itu, berkuasanya Taliban di Afghanistan mesti membuat kita semua tetap waspada, terutama terkait hubungannya dengan pergerakan kelompok radikal di Tanah Air.

Hal tersebut disampaikan beberapa tokoh dalam webinar “Situasi Politik di Afghanistan dan Gerakan Radikal-Teroris di Indonesia” yang diadakan  The Centre for Indonesian Crisis Strategic Resolution (CICSR) pada Selasa 24 Agustus 2021, pukul 19.30 WIB.

Dalam acara yang juga disiarkan live streaming di channel YouTube Sang Khalifah tersebut, Najih Arromadhoni Wakil Sekretaris BPET MUI Pusat memberikan pandangannya tentang pentingnya kita untuk hati-hati dan tidak mudah menganggap Taliban sebagai kelompok yang moderat.

“Dulu benar memang umat Islam di Afganistan itu Sunni dan penganut Thoriqoh. Tapi itu dulu, sekarang sudah bergeser menjadi Salafi-Wahabi ketika mereka pulang dari salah satu lembaga di Pakistan yang didanai oleh Arab Saudi,” katanya.

Terlebih, sudah diketahui bersama bahwa kelompok Taliban gemar melakukan kekerasan, menganiaya minoritas, serta mengeliminasi peran perempuan. Hal-hal tersebut jika dicermati mirip dengan karakter kelompok radikal ISIS atau Al Qaeda.

“Saya ragu kalau Taliban dikatakan bermazhab Hanafi. Karena nature-nya Hanafi itu paling rasional. Perilaku Taliban jauh dari karakter ini. Contoh, menurut Hanafiah, cadar itu Sunnah. Tapi menurut Taliban cadar itu sesuatu yang prinsip,” jelasnya.

Narasumber dari Densus 88 Kombes Pol Aswin Siregar menjabarkan siklus yang sudah terjadi puluhan tahun lalu di Afghanistan tentang perekrutan dan terbangunnya jaringan teroris di sana. Hal tersebut harus menjadi catatan tersendiri dalam konteks berkuasanya Taliban di Afghanistan. Dalam arti, semua elemen untuk tetap waspada jangan sampai sejarah berulang.

“Saya ingin kita semua mencermati siklus tadi, konflik dan pergolakan (berkuasanya Taliban Afghanistan) saat ini bisa menjadi undangan dari para jihadis untuk bertemu dan membangun network, karena banyak logistik, selesai dari sana mereka balik ke negara dan melakukan teror,” kata Kombes Pol Aswin Siregar.

Narasumber selanjutnya yakni Dr. Zora, Psikolog Terorisme yang juga dosen SKSG Universitas Indonesia juga memberikan catatan tentang bagaimana membentengi masyarakat Indonesia dari pengaruh radikal yang datang dari luar. Dia menekankan pentingnya Indonesia memiliki suatu sistem atau regulasi untuk memberikan  pengarahan atau pendidikan bagi WNI yang baru saja pulang dari luar negeri.

Para WNI yang sudah beberapa tahun di luar negeri dan kembali ke Indonesia, harus dipastikan terbebas dari pengaruh paham-paham radikal atau hal-hal yang tidak sesuai dengan jati diri bangsa Indonesia. Rasa nasionalisme jangan sampai terkikis dan hilang dari dalam diri setiap WNI yang pergi ke luar negeri.

“Internalisasi pemahaman Pancasila perlu dibuatkan formulanya kembali dalam sistem pendidikan kita. Perlu dipikirkan juga formulasi pendidikan Pancasila kepada warga kita yang kembali dari Luar Negeri,” tutupnya. []

1 comment

Leave a reply

error: Content is protected !!